SHARE
Jakarta, NusantaraPos – Sudah 37 tahun lamanya Wakil Presiden pertama Republik Indonesia Mohammad Hatta atau lebih dikenal dengan Bung Hatta meninggalkan ibu pertiwi. Banyak kesan dan pesan atas sepeninggalnya proklamator kemerdekaan Republik Indonesia tersebut. Untuk memperingati hari bersejarah tersebut, keluarga dan kerabat Bung Hatta menggelar tahlil di makamnya yang terletak di TPU Tanah Kusir.
Dalam kesempatan tersebut, putri sulung Bung Hatta, Meutia Farida Hatta Swasono mengatakan acara 14 Maret ini kami selalu mengadakan tahlilan untuk memperingati (hari meninggalnya) Bung Hatta. Kebetulan tahun ini banyak yang hadir sehingga kita mengadakan kegiatan di sini saja.
Putri Sulung Bung Hatta, Meutia Farida Hatta Swasono berbincang dengan Mantan Kepala BIN, AM Hendro Priyono sesuai melakukan tabur bunga di makam Bung Hatta

 

“Keluarga menggelar tahlil pada haul ke-37 Bung Hatta di TPU Tanah Kusir. Kegiatan ini merupakan acara rutin yang digelar keluarga setiap tahun,” ujarnya¬†di TPU Tanah Kusir, Jalan Raya Bintaro, Jakarta Selatan, Selasa (14/03/2017).
Lebih lanjut Meutia menjelaskan setiap tahun kami mengadakan kegiatan ini. Kebetulan (hari ini) dihadiri oleh Bapak Hendropriyono dan beliau adalah tokoh dengan segala macam keahlian, yang bisa menyampaikan apa yang beliau pikirkan tentang Bung Hatta.
“Tadi sudah disampaikan, saya kira saya tidak usah ulangi lagi, kalau saya bicara sebagai anaknya kan seperti angin lewat. Tapi kalau tokoh yang mengatakan itu sudah seperti apa yang beliau lihat, apa yang beliau rasakan,” kata Meutia.
Mantan ketua BIN A.M. Hendropriyono yang hadir dalam acara tersebut mengenang sosok Hatta sebagai Bapak Ekonomi Kerakyatan yang juga dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia.
“Generasi penerus bangsa Indonesia harus mengerti siapa sebetulnya Bung Hatta, dan tidak hanya sekedar tahu,” ujar Hendro.
Prinsip ekonomi kerakyatan yang terlahir dari pemikiran Bung Hatta, kata Hendro, bertujuan untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat secara adil. Hendro berharap penerapan sistem tersebut dapat terus berlanjut.
“Kami harapkan berdoa semoga hasil untuk generasi penerus bangsa kita ini bisa melaksanakan ajaran Bung Hatta. Kita sulit untuk terbebas dari liberalisme universal jika kita belum bisa berusaha melakukan apa yang dicita-citakan Bung Hatta,” katanya.
Acara yang berlangsung pukul 11.00 WIB hingga pukul 13.00 WIB juga mendatangkan Ustad Cholissudin Yusa selaku pemimpin pengajian. Setelah pengajian usai para peziarah makan siang bersama di pendopo pemakaman.
Meutia Farida Hatta Swasono dan Halida Hatta mengadakan jumpa pers dengan awak media seusai peringatan haul Bung Hatta yang ke-37 Tahun
Sementara itu, putri kedua Bung Hatta, Gemala Rabi’ah Hatta, mengenang sosok Bung Hatta yang memberikan sumbangsih. Gemala mengungkapkan permintaan Bung Hatta kepada Raja Arab Saudi agar dibangun dua jalur sa’i dari bukit Safa menuju bukit Marwah demi mempermudah jemaah saat melakukan sa’i di Masjid Al-Haram, Mekah.
“Jadi tahun 1952 itu saya baru lahir, ayah dan ibu saya pergi naik haji saat saya masih umur 3 bulan. Jadi sesampainya ayah di sana, beliau melihat Safa-Marwah itu padat setengah mati. Karena itu, ayah berpesan kepada Raja Arab Saudi, kakeknya Raja Salman, bahwa kondisi itu tidak boleh dibiarkan. Jadi ayah minta supaya dibuat dua jalur agar yang datang dan pergi ke Safa-Marwah tidak bertumburan,” jelas Gemala.(Hari.S)

LEAVE A REPLY