SHARE

Oleh: Marzuki Tambe

Nusantara Pos. Kesederhanaan dalam lingkungan civil society bisa ditafsirkan “duduk sama rendah berdiri sama tinggi sebagai sesama warga negara” adalah karakter yang harus dijunjung tinggi oleh seorang pimpinan publik yang hendak melayani.

Demikian yang pernah dicontohkan para pemimpin publik seperti di India oleh tokoh pembungkam imperialisme asing di negerinya, Mahatma Ghandi yang berpenampilan dan bertindak sederhana ataupun di dalam negeri, tokoh yang berpendapat bahwa persatuan dan kesatuan ditentukan oleh keadilan sosial, Mohammad Natsir, yang sering hadiri pertemuan resmi kenegaraan dengan baju tambal sulam. (M. Alvan Alvian; 2011).

Kesederhanaan dalam pada ini sepertinya sedang melekat pada sosok seorang pimpinan publik di negeri ini, Walikota Kupang Jefri Riwu Kore. Sejak dilantik Bulan lalu (22 Agustus 2017) sebagai pimpinan publik di ibu kota Propinsi Nusa Tenggara Timur (Walikota Kupang Periode 2017-2022), pria yang akrab disapa Jeriko ini selalu membuat gebrakan – gebrakan di ruang publik dengan tampilan serta tindakan – tindakan yang penuh kesederhanaan namun didasari gagasan dan tujuan atau visi besar yang sebelumnya sudah disampaikan langsung dihadapan rakyatnya melalui kampanye dan debat kandidat.

Masyarakat Kota Kupang pada khususnya dan NTT pada umumnya selalu memberikan perhatian positif dengan mengapresiasi gebrakan – gebrakan yang dilakukan oleh sang pemenang Pemilihan Walikota Kupang pada Pemilihan Kepala Daerah Serentak 101 wilayah Tahun 2017 tersebut, dengan perolehan suara 87.160 (52,86 persen) dari data yang dilansir Timor Express berdasarkan perhitungan suara di TPS pasca pencoblosan(15/2/2017), dengan mengambil sampel di 33 TPS pada enam kecamatan. (http://m.jpnn.com/news/resmi-firmanmu-menang-pilwalkot-kupang)

Belakangan, publik dikejutkan dengan sebuah tindakan yang penuh kesederhanaan Jeriko. Kali ini Tempat Kejadian Perkaranya di Jakarta yang muncul ke publik melalui sebuah akun Facebook (FB) atas nama @Noni Haullussy yang memposting 7 buah foto Jeriko (23/09). (http://www.indonesiakoran.com/news/nusantara/read/74642/sambil.pegang.kresek..walikota.ini.berdiri.di.dalam.kereta….)

Foto yang diposting tersebut terlihatĀ  Jeriko sedang berdiri di dalam kereta api mengenakan baju kaos berkerak bersama penumpang lainnya sambil memegang sebuah kantong kresek berwarna putih.

Selain foto, tampak komentar pemilik akun yang berbunyi, “Bertemu dalam kereta dari Bintaro menuju Jakarta dengan walikota kupang bpk Jefri Riwu Kore. Pejabat publik yang sangat sederhana. Sehat terus ya pak Jeriko. Tuhan memberkatimu”.

Tiga jam pasca tampil, sebanyak 135 pengguna FB menyukainya danĀ  sebanyak 22 kali dibagikan serta beragam komentar bernada positif.

Akun atas nama Nita Adi misalnya dalam komentarnya mengatakan “ketangkap kamera, hehehe. Mantap bapak Jefry,,,ttaplah rendah hati dlm melayani masyarakat kota kupang,Tuhan Yesus sllu mmberkati,,,,,,,,

Akun FB lain juga seperti Daud Gah mengatakan “Pak Jefri Riwu Kore memang luar biasa sederhananya aa”.

Menoleh pada Ghandi dan Natsir, kesederhanaan tampilan dan tindakan yang muncul, terselubung visi besar politik demokrasi yakni keadilan sosial untuk kesejahteraan rakyat.

Tentunya itulah harapan rakyat terhadap Pak Jeriko terutama secara tidak langsung melalui postingan @Noni Haullussy tersebut disertai respon publik.

Terlihat ril di lapangan, gebrakan – gebrakan Jeriko sudah sedang mengarah kepada itu. Dalam pidato Perdana Jeriko usai pelantikan di Kantor DPRD Kota Kupang (23/08), Jeriko menyampaikan, perlunya pembenahan infrastruktur birokrasi seperti komputer, meja, kursi dan lainnya sebagai saluran pelayanan kesejahteraan rakyat.

Bukan hanya pidato, Jeriko juga sudah langsung terjun ke lapangan melakukan sidak ke mana – mana. Hasil sidak itulah Jeriko menganggap infrastruktur birokrasi harus dibenahi.

Kembali pada kesederhanaan Jeriko yang sedang dibahas, mungkin “Jeriko menumpang kereta api” adalah sebuah simbol. Sebagaimana Ignas Kleden dalam buku ‘Sastra Indonesia Dalam 6 Pertanyaan, mengatakan simbol dimunculkan untuk memberitahukan sesuatu.

Di dalam kereta api, semuanya adalah penumpang. Semuanya Duduk sama tinggi, berdiri sama rendah. Dan semuanya berada dalam kesatuan barisan gerbong yang panjang untuk mencapai tujuan perjalanan.

Kereta api juga adalah kenderaan yang identik dengan penumpang kelas menengah ke bawah. Sementara foto yang diposting, bapak dari mahasiswa penerbangan kampus Amerika Serikat itu berdiri dengan wajah ceria.

Demikian, mengingatkan kita kepada nasehat Charlyn Caplin kepada anaknya dengan nasehat yang berbunyi, “Sesekali ketika turun dari panggung yang semua orang memuja ketenaranmu, numpanglah kereta api. Di sanalah kamu akan menemukan kebahagiaanmu, nak. Di sana ada orang buta, pincang, pengemis, pelacur dan masyarakat bawah lainnya (baca: pemetaan masyarakat industri Inggris). Berpenampilan dan bertindaklah seperti mereka. Di situ kamu akan bersyukur dengan kehidupan. Merasa puas dan bahagia. Karena ketika kehidupan memberikanmu sepasang sayap untuk terbang, terlebih dahulu dia melepaskan kedua kakimu di bumi.”

Jeriko menumpang kereta api, penulis menafsirkan bahwa, itulah simbol yang sedang ditunjukkan oleh Mantan Anggota DPR RI Fraksi Demokrat ini kepada kita.

Mungkin yang ditunjukkan kepada kita adalah, simbol kesederhanaan Jeriko yang akan digunakan memimpin Kota Kupang mencapai tujuan – tujuan perjalanan politik demokrasi (baca: visi misi kampanye dan debat kandidat) yang sudah diawali dengan gebrakan – gebrakannya (baca: sidak) di lapangan. (*).

Penulis adalah jurnalis di Kupang

LEAVE A REPLY