SHARE

Mataram, NusantaraPos- Standard Chartered Bank merayakan Hari Penglihatan Sedunia dengan meluncurkan program “Seeing is Believing” di Nusa Tenggara Barat. Kegiatan peluncuran tersebut diikuti dengan kegiatan skrining untuk kelas 1, 2 dan 3 dan pemberian kacamata gratis bagi anak-anak yang telah memperoleh skrining.

Acara ini dihadiri oleh Wakil Gubernur NTB H. Muhammad Amin; Wakil Walikota Mataram H. Mohan Roliskana; Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB dr. Nurhandini Eka Dewi; Country Head of Brand Marketing Standard Chartered Bank Indonesia Ibu Rosalinda Hoesin; dan East Asia Regional Director The Fred Hollows Foundation (FHF) dr. Phuc Huynh Tan.

Program “Seeing is Believing” merupakan inisiatif global Standard Chartered Bank untuk mencegah kebutaan di komunitas-komunitas dimana Bank beroperasi. Program yang telah berhasil mengumpulkan dana sebesar USD 95 juta dan menyentuh sedikitnya 150,3 juta penerima bantuan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan bahaya kebutaan dan cacat penglihatan.

Di NTB, Program “Seeing is Believing” akan diimplementasikan oleh Fred Hollows Foundation sampai 2020 dan akan menyasar lima Kabupaten/Kota yaitu Kota Mataram, Kabupaten Lombok Barat, Kabupaten Lombok Tengah, Kabupaten Lombok Timur dan Kabupaten Sumbawa Barat. 
Program ini menargetkan untuk menyentuh sekitar 550.000 siswa dan 3.500 guru di 3.500 SD dan SMP untuk mendapatkan skiring pelatihan dan akses terhadap layanan kesehatan mata. Selain itu, program ini juga akan memberikan pelatihan kepada para tenaga kesehatan dan penyediaan peralatan screening di 97 Puskesmas.

“Salah satu fokus utama dari program Seeing is Believing di NTB adalah menciptakan sistem yang berkelanjutan di wilayah sekolah dan komunitas. Hal ini dilakukan dengan meningkatkan kapasitas 
para guru untuk mengedukasi orangtua dan siswa akan pentingnya kesehatan mata serta 
memberdayakan petugas kesehatan lokal untuk mengajarkan para guru mengenai dasar skrining kesehatan mata, sehingga semua siswa memperoleh skrining danbsiswa yang mengalami gangguan penglihatan untuk kemudian diberikan rujukan ke layanan kesehatan yang tepat,” kata dr. Phuc Huynh Tan, East Asia Regional Director The Fred Hollows Foundation (HFH).

Ia menambahkan, “Kesehatan mata merupakan salah satu aset penting bagi anak-anak. Gangguan penglihatan seperti kebutaan dan low vision akan berpengaruh terhadap proses belajar dan tumbuh kembang anak yang kurang maksimal. Lebih jauh, hal ini juga akan berdampak pada perilaku dan mempengaruhi partisipasi mereka dalam aktivitas fisik dan sosial. Program ini memastikan bahwa 
anak-anak akan memperoleh kesempatan yang sama untuk pendidikan dan tidak akan nada 
seorang pun anak yang tertinggal,” lanjutnya.

Berdasarkan Rapid Assessment of Avoidable Blindness (RAAB) 2014, didukung oleh Fred Hollows Foundation, diketahui bahwa NTB merupakan Provinsi dengan prevalensi kebutaan tertinggi kedua di Indonesia yaitu 4 persen pada orang dewasa berusia lebih dari 50 tahun. Selain masih terkonsentrasinya layanan kesehatan mata di Mataram, tingginya angka kasus gangguan penglihatan di NTB juga disebabkan oleh masih rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan mata serta masih terbatasnya tenaga kesehatan dalam sistem layanan kesehatan mata.

Rino Donosepoetro, Chief Executive Officer Standard Chartered Bank Indonesia menegaskan, “Seeing is Believing adalah program keberlanjutan perusahaan yang diluncurkan secara global pada tahun 2003 dan masih terus menjadi komitmen kami untuk dapat menurunkan prevalensi kebutaan yang dapat dicegah. Melalui semangat Here for good, Bank akan memberikan kontribusi positif kepada komunitas sekitar dengan menyelaraskan inisiatif dengan fokus pemerintah.”

Di Indonesia sendiri, sejak tahun 2003, program ini telah mendanai lebih dari USD 9 juta untuk programvperawatan kesehatan mata bagi masyarakat, mulai dari anak sampai dengan orang dewasa. Memberikan dampak kepada lebih dari 2 juta orang yang mendapatkan vitamin A, lebih dari 6 juta orang memperoleh layanan kesehatan mata serta kampanye peningkatan kesadaran dan pendidikan dan melakukan 138.000 operasi katarak dan operasi mata lainnya. (*)

LEAVE A REPLY