SHARE
Bali, NusantaraPos- Pasca menurunnya status Gunung Agung dari status awas menjadi siaga, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian I Ketut Diarmita mengadakan pertemuan kembali bersama Bupati Karangasem I Gusti Ayu Mas Sumantri, Dandim Karangasem Firman Sjafrial Agustus, Kadis Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Bali Ir. I Putu Sumantra, M.App.Se dan Satgas Peternakan dan Kesehatan Hewan drh. I Ketut Nata Kusuma di Pos Komando Penanganan Darurat Bencana Gunung Agung.

Pertemuan tersebut dilakukan untuk menentukan langkah-langkah penanganan pra, saat,  dan pasca jika terjadi bencana erupsi Gunung Agung.

I Ketut Diarmita mengingatkan meskipun telah terjadi penurunan status gunung Agung, monitoring progress yang telah dilakukan Tim Satgas dari Ditjen PKH untuk tetap terus berjalan  mengkoordinasikan kegiatan penyelamatan dan penanganan ternak, serta penyaluran bantuan dari pihak lain.

“Kita jaga peternak dan ternaknya jangan sampai ketika terjadi bencana alam mereka jadi korban, Hal tersebut juga merupakan amanat Bapak Menteri Pertanian agar peternak tidak merugi dan merasa  tenang dan nyaman ditempat-tempat penampungan ternak,” kata I Ketut Diarmita, Sabtu (4/11/2017).

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Peternakan dan Keswan Provinsi Bali menyampaikan, jika selama ini penjualan ternak pengungsi sangat baik dengan harga yang wajar, “Namun tetap kita sarankan yang dijual adalah sapi-sapi yang jantan,’’ tegasnya.

Menurut I Ketut Diarmita, pengalaman bencana meletus Gunung Merapi di Jawa Tengah telah mengajarkan banyak hal khususnya  dalam mengevakuasi ternak. “Ketika terjadi musibah bencana alam, pemerintah tidak memikirkan masyarakat saja, sekaligus ternak juga harus dievakuasi, sehingga jelas SOP untuk evakuasi sapi yang aman”, tambahnya.

I Ketut Diarmita juga mengapresiasi kinerja Tim Satgas PKH dalam penanganan evakuasi sapi yang lebih baik. Saat ini Pemerintah telah menyiapkan lokasi penampungan ternak yang terdapat pada 43 lokasi di 7  titik sebaran yakni Klungkung, Buleleng, Karangasem, Gianyar, Bangli, Tabanan, dan Gianyar. Dari data update evakuasi di Posko tercatat jumlah ternak yang ada di penampungan sejumlah 6.584 ekor.

I Ketut Diarmita mengingatkan kepada Tim Satgas, agar pengawasan di tempat penampungan ternak harus tetap memperhatikan ketersediaan pakan, obat-obatan dan pemeriksaan kesehatan. “’Kegiatan ini membutuhkan banyak dana dan kita telah kerjasama dengan banyak pihak,  dan kami ucapkan terimakasih kepada pihak yang sudah terlibat”, ungkapnya.

Pada kesempatan tersebut, Dandim 1623 Karangasem menyampaikan, sebelum ditetapkan status awas Gunung Agung,  telah dilakukan koordinasi, sosialisasi dan edukasi ke masyarakat agar mengerti tentang bahaya bencana erupsi Gunung Agung. Program livelihood diharapkan dapat membantu meringankan beban masyarakat pengungsi yang berasal dari daerah rawan bencana.  “Saat ini kita anjurkan adanya Tim Sosialisasi untuk anak sekolah dan masyarakat melalui poster-poster, sehingga mendapat gambaran apa yang harus dilakukan dalam menghadapi bencana alam ini”, ungkap Dandim Firman Sjafrial Agustus. (Humas Ditjen PKH).

LEAVE A REPLY