SHARE
Mutiara

Jakarta,nusantarapos,- Dharma Wanita Persatuan Kementerian Kelautan dan Perikanan bersama dengan Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) bekerja sama dengan Asosiasi Budidaya Mutiara Indonesia (Asbumi) menyelenggarakan 7th Indonesia Pearl Festival (IPF ke-7) dengan mengangkat tema “The Luminous Indonesian South Sea Pearl”, pada tanggal 7 – 12 November 2017 di Lippo Mall Kemang Jakarta Selatan.

Dari rilis yang diterima, Rabu (8/11) sebanyak 44 stand ikut memeriahkan acara tersebut. Hal ini bertujuan untuk memperkenalkan mutiara laut selatan kepada masyarakat Indonesia maupun internasional.

Selain itu dari sekitar 11 ton south sea perl, dari angka Indonesia telah berhasil memproduksi kurang lebih 5 ton yang kemudian di susul oleh Australia sebanyak 4 ton, Filiphina 1,5 ton, Myanmar dan beberapa Negara lainnya yang tujuan ekspor mutiara tersebut adalah Negara Hongkong, Australia, dan Jepang.

Sekretaris Jenderal KKP Rifky Effendi Hardijanto mengatakan, sebagai salah satu komoditas kelautan unggulan Indonesia yang bernilai ekonomi tinggi dan memiliki prospek pengembangan usahanya di masa yang akan datang, branding ISSP perlu terus diupayakan guna meningkatkan daya tarik masyarakat terhadap mutiara sehingga menjadi sumber pemasukan devisa melalui perdagangan di dalam negeri dan maupun ke luar negeri.

“Keberadaan usaha budidaya mutiara tidak hanya memberikan manfaat langsung kepada pelaku usaha mutiara tetapi juga kepada industri lainnya. Usaha budidaya mutiara juga menumbuhkan kegiatan dan kreativitas yang memberikan manfaat. Sisa hasil budidaya mutiara seperti aneka hiasan dengan memanfaatkan kulit tiram mutiara, serbuk mutiara sisa hasil penggergajian kulit tiram mutiara untuk kosmetik dan bahan untuk cat kendaraan,” terang Rifky saat memberi sambutan pada pembukaan IPF ke-7.

Lebih lanjut, dia mengatakan bahwa tak sedikit pengusaha skala Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) hingga skala besar untuk pembesaran tiram mutiara di Indonesia. Namun, luas laut maupun panjang garis pantai Indonesia baru dapat dimanfaatkan sekitar 2 persen untuk budidaya mutiara. Menurutnya, potensi budidaya ini masih dapat terus dikembangkan.

Berdasarkan data BPS, nilai ekspor mutiara Indonesia di tahun 2015 kurang lebih 30 juta dolar dan tahun 2016 meningkat menjadi 46 juta dollar. Hal ini berarti sudah terjadi peningkatan 35 persen. Namun demikian, nilai tersebut masih di bawah Hongkong, Uni Emirat Arab, Jepang, Tahiti, Australia dan Cina.

Yang lebih menarik lagi ungkap Rifky bahwa Negara tujuan ekspor Indonesia ke Hongkong menunjukkan bahwa sebagian besar trading mutiara mutiara south sea pearl Indonesia ini dilakukan oleh Hongkong.

“Sudah saatnya kita membawa kembali ke tempat sumber produksinya (Indonesia). Jadi festival ini adalah sebuah momen yang saya kira sangat baik untuk menarik titik perdagangan mutiara dari Hongkong ke Indonesia,” papar Rifky.

Dilain sisi, Direktur Jenderal PDSPKP Nilanto Perbowo mengatakan, IPF ke-7 diselenggarakan untuk beberapa tujuan, yaitu mempromosikan dan mengenalkan ISSP kepada masyarakat; membangun international branding ISSP promosi dan pemasaran; memperluas jaringan bisnis dan pemasaran ISSP; dan mendapatkan umpan balik trend pasar mutiara dan produk turunannya.

“Kita mendorong agar masyarakat dalam negeri, masyarakat lokal, masyarakat Indonesia untuk mengenal bahwa ternyata mutiara ini diproduksi di Indonesia. Kalau sudah mengenal kita produsen utama mutiara laut selatan, harapannya masyarakat sadar kenapa harus pergi ke luar negeri untuk beli,” ujar Nilanto usai pembukaan IPF ke-7.

Acara tersebut juga dihadiri wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno yang juga memberikan apresiasi atas terselenggaranya IPF ke-7 ini. “Kita berharap lebih bagus lagi industri mutiara di Indonesia. Kalau soal desain kita enggak kalah. Dan kalau bisa kita juga bekerja sama semua bersatu berkolaborasi, tidak bisa KKP sendiri,” tutur Sandiaga saat memantau booth-booth mutiara. Selain Sandiaga Uno, turut hadir Duta Besar Myanmar, perwakilan Kedutaan Qatar, dan perwakilan Kedutaan Australia.

Diharapkan kegiatan ini dapat meningkatkan animo dan menjadi edukasi masyarakat mengenai ISSP, dan meningkatkan sinergitas antarinstansi serta pemangku kebijakan untuk bersama-sama mempromosikan mutiara Indonesia di pasar dunia. Pada IPF ke-7 ini ditargetkan terjadi transaksi penjualan sebesar Rp20 miliar.(EDTR)

LEAVE A REPLY