RSCM Luncurkan Program JAK-ROP untuk Bayi Prematur Penderita Gangguan Mata

oleh

Jakarta, NusantaraPos- Bertepatan dengan Hari Prematuritas Sedunia, RSUPN Cipto Mangunkusumo hari ini meluncurkan program JAK-ROP, yaitu Program Mobile Retinopati Prematuritas Jakarta. Acara ini dihadiri oleh Staf Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Direktur Utama RSUPN Cipto Mangunkusumo, dan tamu undangan lain yakni dokter spesialis anak, dokter spesialis mata dari RSUD dan rumah sakit lain di DKI Jakarta.

Narasumber acara ini adalah Prof. dr. Rita Sita Sitorus, Sp.M(K), Ph.D, pakar kesehatan mata anak dan Guru Besar Departemen Ilmu Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) / RSUPN Cipto Mangunkusumo (RSCM), serta Dr. dr. Rinawati Rohsiswatmo, Sp.A(K), pakar bayi prematur dari Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM.
Pada tahun 2010, Laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang berjudul Born Too Soon, The Global Action Report on Preterm Birth menempatkan Indonesia di urutan ke-5 sebagai negara dengan jumlah bayi prematur terbanyak di dunia. Bayi prematur diketahui menjadi penyumbang terbesar angka kematian bayi serta cacat fisik.

Bayi yang terlahir prematur (lahir dengan berat kurang dari 1500 gram atau usia kehamilan kurang dari 32 minggu) berisiko mengalami gangguan mata Retinopati Prematuritas (ROP). Prematuritas mengakibatkan pertumbuhan pembuluh darah selaput jala (retina) tidak sempurna. Gangguan mata ROP dapat terjadi dalam tahap ringan, di mana dapat mengalami perbaikan secara spontan, namun pada kasus yang berat dapat mengakibatkan lepasnya retina dan pada akhirnya mengakibatkan kebutaan permanen. Selain itu, bayi yang hidup selamat pun masih memiliki kemungkinan mengalami gangguan kognitif, penglihatan dan pendengaran. Padahal, kebutaan akibat kondisi ini sebetulnya dapat dicegah apabila deteksi dini dilakukan kepada bayi-bayi prematur ini.

Prof. dr. Rita Sita Sitorus, SpM (K), PhD, menekankan pentingnya penanggulangan kebutaan pada bayi dan anak, karena bayi yang terlahir buta atau menjadi buta setelah tumbuh menjadi anak-anak memiliki waktu hidup dengan kebutaan yang lebih lama dibandingkan mereka yang menderita kebutaan pada usia dewasa.

“Walaupun angka kejadian kebutaan pada anak tidak setinggi dengan kebutaan pada orang dewasa seperti katarak, namun total beban emosional, sosial, ekonomi yang harus dibayar akibat kebutaan seorang anak terhadap keluarga, masyarakat maupun negara jauh lebih besar dibandingkan beban yang harus dibayar akibat kebutaan pada orang tua,” ujarnya di Jakarta, Jumat (17/11/2017) seperti tertera dalam rilis yang diterima Nusantara Pos.

RSCM telah menetapkan panduan ketat terhadap deteksi dini Retinopati Prematuritas (ROP) sehingga angka kejadian ROP di RSCM terbilang amat rendah. Namun, masih cukup banyak kasus rujukan dari rumah sakit luar dengan kondisi retinopati prematuritas, bahkan dalam stadium yang lanjut.

Program JAK-ROP merupakan program jemput bola yang digagas oleh RSCM bekerja sama dengan Helen Keller International (HKI) dan Standard Chartered Bank. Nantinya, tim yang terlatih dari RSCM akan mendatangi secara aktif dan rutin dengan membawa alat kamera retina mobile secara langsung untuk melakukan pemeriksaan kepada bayi-bayi di rumah sakit.

Gambar yang didapatkan dari alat ini akan dikirimkan ke dokter spesialis mata di RSCM untuk dievaluasi tentang keadaan ROP-nya. Bayi-bayi yang dinilai berisiko dari pemeriksaan akan dilakukan pemeriksaan lanjutan secara berkala hingga dinilai tidak memerlukan tindak lanjut, atau dirujuk ke RSCM jika memerlukan terapi lanjutan terhadap keadaan ROP-nya, seperti laser dan suntikan ke dalam bola mata. (*)