Gunung Agung Masih Tetap Terkondisi Walaupun Status Awas, Masyarakat Dihimbau untuk Tetap Tenang

oleh

Nusantarapos,- Walaupun masih melakukan erupsi kembali, dari PVMBG saat ini masih menetapkan Gunung Agung dalam status Awas (level4). Status awas tersebut mulai diberlakukan sejak 27/11/2017 hingga saat ini dengan radius antara 8 sampai 10 Km dari Puncak Kawah Gunung Agung. Sedangkan selebihnya dari jarak tersebut masih bisa melakukan kegiatan dengan normal.

Saat inipun, Minggu (24/12) sekitar pukul 10.05 WITA Gunung tersebut masih melakukan erupsi yang disertai dengan asap kelabu tebal dengan tinggi kolom abu vulkanik sekitar 2.500 meter di atas puncak kawah mengarah ke timur laut yang terjadi sekitar 10 menit saja.

Tidak ada dampak merusak dari kedua erupsi tersebut. Akivitas masyarakat di Balipun juga berjalan normal karena saat ini masyarakat sudah teredukasi dengan cukup baik mengenai erupsi dan ancaman dari Gunung Agung. Masyarakat tidak mudah percaya pada hoax atau informasi yang menyesatkan. Semua mengacu pada PVMBG sebagai institusi yang kompeten terkait aktivitas gunungapi. Adanya Pasebaya Gunung Agung yang didukung jaringan radio komunikasi melingkari Gunung Agung menyebabkan informasi dapat cepat dan akurat sampai kepada masyarakat.

Dari berita yang dikirimkan oleh BNPB menyatakan, Kode VONA (Vulcano Observatory Notice for Aviation) untuk Gunung Agung adalah Orange. Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai di Denpasar dan Bandara Internasional Lombok beroperasi normal dan aman. Selama musim penghujan hingga April 2018, arah angin di Bali akan dominan ke arah Timur – Tenggara sehingga Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai di Denpasar akan aman.

Sementara itu jumlah pengungsi erupsi Gunung Agung saat ini tercatat 71.045 jiwa yang tersebar di 239 titik pengungsian. Sebaran dari pengungsi tersebut adalah 42.928 jiwa di Kabupaten Karangasem, 11.441 jiwa di Kabupaten Klungkung, 9.938 jiwa di Kabupaten Buleleng, 977 jiwa di Kabupaten Bangli, 3.502 jiwa di  Kabupaten Gianyar, 205 jiwa di Kabupaten Jembrana, 730 jiwa ada di Kabupaten Tabanan, 590 jiwa di Kabupaten Badung, dan 734 jiwa di Kota Denpasar. Pemenuhan kebutuhan dasar bagi para pengungsi akan terus dipenuhi oleh Pemerintah dan Pemda dibantu dari dunia usaha, NGO, relawan, dan masyarakat.

Bahkan pernyataan status tanggap darurat dari kepala daerah yang daerahnya sedang dilanda bencana sesungguhnya hanyalah syarat administrasi saja. Status tanggap darurat diperlukan agar ada kemudahan akses, baik pengerahan sumber daya manusia, logistik, pendanaan dan lainnya dalam penanganan bencana. Dengan adanya status tanggap darurat tersebut maka dimungkinkan BNPB memberikan dana siap pakai, Kementerian Sosial dapat mengeluarkan bantuan beras di gudang, Pemda dapat menggunakan Belanja Tak Terduga (BTT) yang ada di APBD.

Bahkan dengan kesiapan pula, Pemerintah saat ini sedang mempersiapkan Peraturan Presiden yang mengatur kemudahan akses dalam administrasi, bantuan logistik dan keuangan guna terus membantu penanganan pengungsi dan dampak yang ditimbulkan erupsi Gunung Agung.

Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan agar tidak terpancing pada informasi yang meresahkan. Bahkan masyarakat juga bisa menanyakan kepada Posko Utama BPBD dan Pos Pendampingan Nasional BNPB terkait Gunung Agung.(EDTR)