Ujian Nasional yang Berbobot, Berkarakter dan Bertanggung Jawab Oleh

oleh

Oleh : Amirulah Datuk
Nusantara Pos. Ujian Nasional tak pernah menutup diri terhadap kritikan, evaluasi hingga perubahan
kebijakan. Karena pendidikan itu bersifat dinamis, dan kedinamisan itulah mendorong pemerintah untuk terus mencari formula baru dalam pelaksanaan Ujian Nasional, sesuai kebutuhan peserta didik dengan mengotak-atik proses pelaksanaan untuk mendapatkan hasil yang pantas dalam membekali peserta didik dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta mengajarkan peserta didik untuk mandiri dalam mengerjakan soal ujian tanpa ada campur
tangan orang lain.

Perubahan yang terlihat tahun ini adalah proses pelaksanaan Ujian Nasional antara siswa kelas XII SMK dan siswa kelas XII SMA/MA dilaksanakan tidak bersamaan seperti tahun-tahun sebelumnya dan perubahan yang berikut adalah pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Kertas dan Pensil menjadi Ujian Nasional Berbasis Komputer.

Berkaitan dengan perubahan pelaksanaan Ujian Nasional dengan mengunakan Ujian Nasional Berbasis Komputer ini, penulis mengutip perkataan Gubernur NTT, Frans Lebu Raya bahwa pelaksanaan Ujian Nasional akan lebih efisien dengan menggunakan Ujian Nasional Berbasis Komputer agar menghasilkan output yang berkualitas. (Timex, 24
Maret 2018, hlm 5).

Demikian menurut hemat penulis, apa yang dilakukan oleh pemerintah Provinsi NTT dengan meningkatkan jumlah sekolah dalam melaksanakan Ujian Nasional
Berbasis Komputer dari tahun 2017 sebanyak 108 sekolah, menjadi 332 sekolah di tahun 2018.

Semua itu dilakukan dalam rangka menjaga objektifitas pelaksanaan Ujian Nasional yang tetap menjaga kesakralan dengan menghadirkan nilai-nilai kejujuran untuk mengerjakan soal-soal yang diujikan sebagai bentuk pertanggung jawaban atas proses pembelajaran selama berada di bangku sekolah.

Dengan judul singkat di atas, penulis ingin menegaskan dan mengajak kembali untuk kita sama-sama menyikapi setiap tabir kehidupan ini dengan mempersiapkan seluruh perangkat kebutuhan pendidikan baik itu gurunya, peserta didik, sarana dan prasarana hingga kurikulumnya dalam rangka melahirkan sosok-sosok manusia baru dalam kehidupan ini yang berbobot dan berintegritas. (*)

Penulis adalah Dosen Universitas Muhammadiyah Kupang Program Studi Pendidikan Sosiologi.