Anak Muda Sebagai Estafet Perubahan (Sebuah Refleksi)

oleh

Oleh : Ali Mursali, S.Ik (Ketua AMI Sulawesi Tenggara)

Nusantara.Pos- Seberapa kuat sebuah negara itu ditentukan oleh anak mudanya. Itulah sepenggal kalimat yang pernah dilontarkan oleh Alexadre Dumas. Tentu maknainya tidak sesederhana penggalan kalimatnya. Disana ada ajakan refleksi kesadaran bahwa jika Negara ingin tetap kokoh dan terus surfive dimasa depan maka ditentukan seberapa siap Negara meramu, menyiapkan serta memberi ruang bagi anak mudanya. Sebaliknya jika Negara tak menyiapkan dan memberi ruang kreasi bagi anak muda maka bersiaplah Negara itu akan sulit bersaing.

Maka dalam era globalisasi yang syarat akan kompetisi ini negara harus mulai memberi ruang kreasi bagi anak muda untuk terjun dan mengambil peran-peran strategis di masyarakat. Namun yang lebih penting dari itu semua adalah seberapa siap anak muda menyiapkan dirinya untuk bisa berbuat dan berkreasi serta berperan secara baik dalam menciptakan perubahan di masyarakatnya.

Tak bisa dipungkiri bahwa dalam era milenial saat ini generasi telah berganti. Generasi yang lahir pada era 50-70an telah menua secara usia bahkan tak lagi produktif dalam beradaptasi, meramu,maupun mencipta perubahan dizamannya. Singkatnya sekarang adalah eranya anak muda. Era kompetisi yang membutuhkan talenta-talenta energik, yang tidak hanya cerdas secara intelektual melainkan musti cerdas pula secara moral-emosional maupun secara spiritual.

Meski demikian anak muda musti tetap menjadikan yang Tua sebagai lentera penunjuk arah perubahan itu sendiri. Dengan kata lain anak muda tetap musti bersinergi secara positif dengan kaum Tua. Kita lihat bagaimana perdana mentri terpilih Malaysia Mohatir Mohammad menunjuk mentri-mentri dari kalangan anak muda. Malaysia sudah menyadari pentinganya regenerasi. Yakni melibatkan anak muda yang kompeten dan bertalenta untuk ikut merumuskan kebijakan dalam pelayanan publik.

Anak muda musti selesai dengan dirinya sendiri. Anak muda tak boleh lagi terjebak pada tindakan-tindakan amoral, anak muda tak boleh lagi terjebak pada budaya-budaya pop hehedonis (narkoba, seks bebas, maupun kriminalitas). Anak muda harus bersih dari jebakan-jebakan itu. Anak muda sudah harus fokus mengambil peran dan berpartisipasi secara positif dalam menciptaan perubahan yang lebih baik bagi lingkungannya.

Akhirnya memasuki usia Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ke-73 tahun. Kami Anak Muda Indonesia adalah Anak muda yang lebih banyak berbuat ketimbang berbicara. Anak muda yang sudah harus mengambil estafet perubahan dan berpartisipasi secara aktif-positif guna memberikan nilai tambah (Value Add) bagi masyarakat, bangsa & Negara. Mari saling bergandengan tangan memberi kesempatan secara adil bagi setiap manusia untuk mengerahkan energi & kreatifitas kita.