Asal Muasal Pacitan Bagian I

oleh

Pacitan sebetulnya sudah dihuni oleh manusia pada masa-masa pra sejarah. Tentunya hal ini berdasarkan dengan berbagai temuan arkeologi. Bahkan juga ditemukan alat-alat kerja sederhana jaman Pra sejarah.  Dikenalnya Pacitan sebagai situs arkeologi dimulai sekitar tahun 1935 saat Gustav Heinrich Ralph von Keningswald, seorang paleontology dan geology dari jerman serta M.W.F. Tweedie menemukan situs Kali Bak Sooka di Kecamatan Punung yang merupakan tempat manusia purba terbesar dari kebudayaan Paleolitik atau lebih dikenal sebagai budaya Pacitanian. Kemudian ditemukan 261 lokasi situs prasejarah dengan 3000 temuan artefak seperti kapak perimbas Kapak Genggam, Kapak penetak, mata anak panah, serut, alat-alat dari tulang, dan lain-lain.

 

Awal mula lahir Pacitan ini di saat jaman Ki Ageng Buwana Keling yang diutus oleh Raja Brawijaya ke daerah di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah ini, pada abad ke XII M.  Buwana Keling menurut silsilah merupakan putra Pejajaran yang di kawinkan dengan salah satu putri Brawijaya V yang bernama putri Togati. setelah menjadi menantu Majapahit maka KI Ageng Buwana Keling mendapat hadiah tanah di pesisir selatan dan di haruskan tunduk di bawah kekuasaan Majapahit.

Pemerintahannya opun terletak di daerah wengker kidul yang sekarang diberi nama Kecamatan Kebonagung.

 

KI Ageng Buwana Keling berputra tunggal bernama Raden Purbengkoro yang setelah tua bernama KI Ageng Bana Keling. Keberadaan Ki Ageng Buwana Keling ini dikuatkan dengan prasasti jawa kuno yang diduga dibuat pada abad XV yang menyebutkan bahwa Ki Ageng Buwono Keling merupakan penguasa di daerah wengker kidul. PRASASTI JAWA KUNO JA PURA PURAKSARA ERESTHA BHUWANA KELING ABHIYANA JUWANA SIDDHIM SAMAGANAYA BHIJNA TABHA MINIGVAZAH RATNA KARA PRAMANANTU Artinya : dahulu ada seorang pendekar ternama bernama buwono keling yang telah mencapai kesempurnaan, dalam ilmu kebathinan dan kekebalan. Seorang guru diantara orang bijaksana dan beliau inilah yang menjadi perintis dan pemrakarsa daerah sekitarnya.

Di saat Kerajaan Majapahit ini mulai menjelang kemunduran di saat pemerintahan Prabu Brawijaya V yang menikah dengan puteri dari Cina yang menurut kepercayaan jika siapa saja wangsa Jawa yang menikahi puteri China dia akan mengalami kekalahan dalam segala hal. Prabu Brawijaya Vpun menyadari hal itu dan akhirnya menyiapkan seseorang untuk berjaga-jaga bila huru-hara benar-benar terjadi.

Dipersiapkannya Ki Tunggul Wulung untuk bersemedi di Gunung Lawu, selanjutnya ke Gunung Limo. Dari itu mulailah agama Islam masuk ke Tanah Jawa lewat daerah pesisir utara Pulau Jawa.

 

Karena ketiga orang tidak ingin masuk Islam yakni Ki Tunggul Wulung yaitu Ki Brayut, Ki Buwono Keling dan Ki Tiyoso (mereka berempat bukan saudara kandung melainkan gul Wulung mencari ketiga saudaranya dan sampailah di tempat yang dinamakan Astono Genthong, dari situ ia melihat gunung yang berjajar empat (kelak terkenal dengansaudara satu perguruan) melarikan diri ke daerah selatan sesuai dengan petunjuk gurunya.

 

“Berjalanlah selama 40 hari dan setelah mencapai tempat yang tinggi lihatlah kearah bawah bila kalian melihat tempat yang datar, tempat itulah yang dinamakan “Alas Wengker Kidul”.

 

Sesampainya di Wengker Kidul perjalanan mereka dibagi menjadi tiga yaitu, Ki Buwono Keling lewat sebelah utara, Ki Tiyoso lewat pesisir selatan dan Ki Brayut lewat tengah hutan. Saat kemudain Majapahit benar-benar mengalami huru-hara besar dan Ki Tunggul Wulung turun gunung, ternyata beliau tidak bisa memadamkan huru-hara tersebut. Kemudian Ki tunggul Wulung memutuskan untuk mencari ketiga saudara seperguruannya dengan meminta petunjuk dari Sang Guru namun Sang Guru dalam keadaan kritis dan dalam hembusan nafas terakhirnya ia berpesan untuk menggali makam dengan tongkatnya. Setelah peristiwa tersebut Ki Tung sebutan Gunung Limo, tetapi tidak terlihat sebagai lima gunung bila dilihat dari Astono Genthong ). Kemudian ia mempunyai firasat bila saudaranya berada di gugusan gunung tersebut, namun sesampainya di gunung tersebut ia tidak bertemu saudaranya.

 

Akhirnya Kyai Tunggul Wulung membuka lahan atau babad alas disekitar lereng gunung Limo. Salah satu dari gugusan gunung yang berjumlah lima merupakan tempat untuk bertapa atau bersemedi. Sedangkan untuk mencapai lokasi pertapaan harus melewati banyak rintangan seperti tangga (ondo rante) selain itu kita harus menembus hutan lebat, tebing yang terjal serta Selo Matangkep. Selo Matangkep adalah sebuah celah sempit diantara batu besar yang hanya cukup dilewati sebadan orang saja, dipintu masuk Selo Matangkep tersebut dipercaya apabila ada pengunjung yang berniat jahat maka ia tidak akan bisa melewatinya, sementara itu bagi yang berniat baik untuk berkunjung ke pertapaan kendati ia berbadan besar maupun kecil akan bisa melewatinya…(Bersambung)