Berawal Tawaran Walikota Jakut, Sabri Saiman Telah Mengabdi Untuk PMI Selama 27 Tahun

oleh

Sabri Saiman yang merupakan seorang tokoh nasional namun masih tetap mempedulikan masyarakat bawah sungguh sangat menjadi motivasi bagi kami. Pengabdian pria 76 tahun tersebut dibuktikan dengan tetap bertahan untuk menjadi ketua Palang Merah Indonesia (PMI) di wilayah Jakarta Utara.

Bermula dari tawaran Walikota Jakarta Utara Soebagio pada 27 tahun silam, Sabri Saiman ternyata mengacungkan jempol kepada Ketua Umum PMI Jusuf Kalla. Karena di tangan Wakil Presiden dua kali tersebut nama PMI bertambah bersinar.

Di tengah kesibukannya wartawan nusantarapos.co.id Hari Supriyanto berhasil melakukan wawancara langsung dengan Sabri Saiman yang juga tokoh pejuang reformasi itu di kantor PMI Jakarta Utara, Kamis (13/9/2018). Berikut adalah wawancara kami dengan mantan anggota DPR RI tersebut :

Apa yang membuat anda menyukai PMI ?

Gini, waktu itu sekitar 27 tahun lalu almarhum Walikota Jakarta Utara Soebagio mengundang saya. Maka saya memenuhi undangan tersebut, duduklah di satu ruang makan di Sunter yang terdiri dari beberapa tokoh masyarakat waktu itu. Pada pertemuan tersebut, akhirnya bermuara ada permintaan dari beliau agar saya bersedia menjadi Ketua PMI Jakarta Utara.

Atas tawaran tersebut saya tidak serta merta menerimanya. Sehingga saya pun balik bertanya di sini kan masih banyak pilihan, tapi kenapa jatuh ke tangan saya ? Lalu walikota saat itu menjelaskan pertanyaan saya tersebut. Karena sudah dijelaskan maka saya pun mengiyakan dengan persyaratan tertentu.

Menurutnya menjadi seorang pimpinan di PMI itu pertama dia harus meleburkan dirinya di sini. Yang kedua dia harus membangun organisasi secara profesional. Kriterianya tentu yang pertama mempunyai now how, kedua kredibilitasnya diakui oleh masyarakat, ketiga dia harus punya waktu, keempat dia harus siap berjuang berkorban dan kelima yang paling penting dia all out

Kalau itu bisa terpenuhi kemungkinan saya bersedia. Lalu tambahannya satu lagi, sebagai ketua apalagi tawarannya saya terima, untuk dapat memecat kriteria yang saya sebutkan tadi. Itulah kemudian saya ditunjuk sebagai ketua.

Anda sudah memimpin PMI sudah sekian puluh tahun, dan bisa dikatakan sudah beberapa periode. Adakah resep khusus agar jajaran PMI tetap mempercayai sampai detik ini ?

Saya buktikan kepada masyarakat apa yang menjadi idaman dari masyarakat, itulah yang saya penuhi. Pertama kalau saya mau melayani orang, tentu saya siap dulu kan baru saya menolong orang. Ibaratnya di dalam pesawat ingin menolong orang, maka kita dulu harus siap.

Begitu saya terpilih saya susun kepengurusan itu, saya kawinkan juga dengan keinginan walikota. Pertama kali saya datang ke kantor ini seperti tidak berpenghuni. Kebetulan waktu itu musim hujan, sehingga genangan air mencapai sedengkul, mobil ada tapi rodanya tidak ada. Anak-anak relawan tidak ada yang mau ngurus, di belakang sini itu kumuh sekali.

Sehingga kantor ini menjadi sarang nyamuk, bahkan peralatan pun tidak ada. Permasalahan tidak berhenti di sana, ketika baru berjalan 4 bulan menjadi Ketua terjadi musibah banjir besar. PMI pada saat itu bukannya untung malah mempunyai hutang sekitar 300 juta. Karena saya punya komitmen maka saya mengambil keputusan untuk menyelesaikan semua masalah, saya benahi kemudian saya pecat Trihatma karena tidak memenuhi syarat.

Selesai memecat saya melapor kepada walikota, kemudian saya bangun organisasi baru. Disitulah pelan-pelan saya hidupkan pendidikan PMR, sediakan kendaraan operasional, membenahi kantor yang ada. Lantas berlanjut-berlanjut saya hidupkan relawan hingga akhirnya anda lihat fisiknya saat ini. Hasil saat ini merupakan buah dari perjuangan.

Di dalam perjuangan itu bukan saya tidak mendapat tantangan. Oknum yang tidak senang dengan saya, saya tantang. Tantangan itu bukan berarti saya ini arogan, tapi saya tidak mau ada orang yang banyak bicara namun tidak bisa membuktikannya. Bahkan pernah suatu waktu ada seorang doktor dan berpangkat pun saya pecat karena tidak bisa membuktikan omongannya.

Yang terakhir muncullah peristiwa Mbah Priok, dimana Jusuf Kalla sebagai Ketua Umum PMI mengetahuinya. Setelah mengetahui hal tersebut Jusuf Kalla lalu mendatangi lokasi kejadian, dan saya jemput beliau di jalan tol untuk diantarkan ke lokasi. Situasi pada saat itu sungguh mencekam dimana barakuda dibakar, kontainer dibakar, alat-alat berat dan mobil pun turut dibakar.

Saat di lokasi Jusuf Kalla heran dan bertanya kepada saya, waduh kok sampai begini pak Sabri ? Bapak jangan bicara dulu, wartawan banyak nanti kita naik ke atas lantai 8. Wah tidak jauh ya tangki Pertamina, lalu saya harus bicara apa ? Bilang saja pembiaran.

Saat Jusuf Kalla datang ke sini, kantor PMI Jakut sudah agak lumayan meskipun belum sempurna. Tapi setidaknya sudah mulai tertata dibandingkan dengan waktu pertama kali saya datang ke kantor ini.

Selama 27 tahun ini apa suka dan duka menjadi Ketua PMI Jakarta Utara ?

Yang pertama paling menyentuh itu pada saat kita membantu korban bencana terlebih banjir. Seperti kita tahu di Jakarta ini yang paling banyak menerima resiko banjir adalah Jakarta Utara karena adanya 13 muara sungai yang melintasi wilayah ini. Kedua adalah ketika kita berada di daerah kumuh, di sana tingkat pendidikan dan pendapatannya sangat rendah.

Karena menghadapi masyarakat yang paling berbahaya itu ketika berada di wilayah-wilayah tersebut, ketika mereka melakukan suatu perlawanan bukan berarti mereka anti kekuasaan. Tapi bagaimana kita bisa menyelamatkan yang sejengkal ini (menunjuk perut). Sehingga ketika saya hadir di saat ada musibah kebakaran atau banjir rob disitulah yang paling menyedihkan, orang-orang yang mampu hanya menjadi penonton.

Namun belakangan ini tingkat kepedulian sudah sedikit meningkat dibandingkan jaman dulu. Pertumbuhan penduduk di Jakarta Utara yang semakin bertambah mestinya ada ruang di sini. Jangan sampai yang kaya semakin kaya, dan yang miskin semakin miskin. Jika hal itu tidak segera diatasi maka itu akan memudahkan terjadi benturan.

Maka dari itu, pada 4 tahun lalu saya membuat fakta integritas “Jakarta Utara Rumah Kita” yang diikuti oleh seluruh elemen kecuali partai politik. Fakta integritas itu untuk kita jadikan norma menghadapi masalah-masalah yang ada di masyarakat.

Saya mencotohkan waktu terjadinya tsunami di Aceh, kampung saya, orang terkejut melihat anak-anak PMI yang tergabung dalam PMI Jakarta ini mengangkat jenazah tanpa menggunakan sarung tangan. Saya ikut selama 2 bulan, begitu saya balik ke Jakarta dam kebetulan masih berstatus sebagai anggota dewan di Senayan. Maka saya dipanggil untuk disidang oleh badan kehormatan DPR, bahwa selama 3 kali berturut-turut saya tidak ikut di dalam rapat. Saya lawan, karena saya merasa tindakan sewaktu di Aceh adalah sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama manusia terlebih saya merupakan wakil rakyat pada saat itu.

Jadi jika saat ini banyak anggota DPR dari tingkat daerah sampai pusat yang tidak terlihat kinerjanya itu diakibatkan rasa kepeduliannya tidak ada. Sebagai contoh saat ini, dari 45 anggota DPRD Kota Malang 41 anggota terlibat korupsi. Itu dikarenakan ketidakpedulian terhadap masyarakat.

Maka saya tidak mau PMI juga seperti itu, tapi PMI juga harus diketahui oleh masyarakat luas bahwa organisasi ini didirikan oleh negara setelah satu bulan Indonesia merdeka sampai Desember 2017 lalu baru ada undang-undangnya. Tapi bagaimana faktanya, karena untuk mengimplementasikan itu kan harus ada PP, Kepmen dan sebagainya. Anda harus tahu selama perjalanan waktu itu, PMI tidak ada di dalam APBN bayangkan. Kekuatan PMI ini tergambar dari manajemennya.

Menurut anda dari sekian puluh tahun menjadi Ketua PMI Jakarta Utara, siapakah yang paling baik mengatur manajemen PMI di tingkat nasional ?

Yang paling baik menurut pengamatan saya ya di eranya Jusuf Kalla. Terlebih saya adalah orang yang mengusulkan beliau menjadi pimpinan PMI. Apa katanya, waduh berat sekali saya harus minta izin kepada keluarga.

Ok kita tunggu hingga 2 hari kemudian sehingga beliau bersedia untuk menjadi ketua umum PMI. Setelah resmi menjadi ketua umum, dia langsung membangun 6 pusat logistik di Medan untuk wilayah Sumatera Utara, Cileungsi untuk Jawa Barat dan DKI Jakarta, Semarang untuk Jawa Tengah dan Jawa Timur, kemudian dia bangun di Makassar untuk wilayah Indonesia Timur dan terakhir dia bangun di Banjarmasin.

Lalu dia serahkan 6 atau 8 pesawat helikopter, mobil amphibi yang sebagian dia serahkan ke Kopassus dan Marinir. Tadinya ada yang ingin ditempatkan di saya, tapi saya tidak mau karena biaya perawatannya tinggi. Selain itu hubungan internasional PMI dibawah JK itu luar biasa.

Bukan saya tidak kagum dengan Ketua lainnya, tapi kekaguman saya ini karena JK mau menggunakan harta pribadinya itu untuk mengembangkan PMI. Jadi kalau kita bicara PMI saat ini, itu bicara Jusuf Kalla dengan kelebihan dan kekurangannya. Positif dan negatifnya, tapi lebih banyak positifnya dibandingkan negatifnya.

Untuk menjadi Ketua PMI ini harus menyediakan waktu 24 jam nonstop, lalu bagaimana anda membagi waktu untuk keluarga di rumah ?

Tadi kan saya sudah bilang, Jusuf Kalla saja minta izin sama istrinya. Maka saya pun demikian, karena hak istri sudah saya ambil. Anda sudah lihat sendiri ketika saya menjadi ketua tidak ada motivasi saya untuk mendapatkan sesuatu. Seperti halnya ketika saya mendeklarasikan diri untuk mendukung pasangan Anis – Sandi beberapa waktu lalu apakah saya bertujuan untuk mendapatkan sesuatu setelah terpilih ?tidak. Apakah waktu jaman reformasi saya berkorban mati-matian, ada terbesit saya meminta untuk menjadi menteri ? Tidak.

Karena alasan-alasan itu kebalikan daripada apa yang tadi saya bacakan. Saya pernah menjadi orang yang tidak berpunya. Bagaimana sakitnya dalam posisi kita teraniaya, nah kepedulian itulah yang coba saya kembangkan. Saya tidak mau menjadi orang yang munafik, kalau saya ada saya katakan ada, kalau tidak ya saya minta maaf.

Pada tenggat waktu 27 tahun pastinya sudah banyak prestasi yang anda raih. Lalu untuk periode 2017 – 2022 apa yang ingin diperbaiki di dalam manajemen PMI Jakarta Utara ?

Yang pertama itu dalam proses, saya membuktikan pada saat berdialog, mungkin satu-satunya kantor PMI yang menjadi perhatian dia. 4 tahun lalu saya katakan kepada beliau, saya perlu membangun pusat kebugaran. Lalu beliau menjawab bagus saya dukung. Nah tentu itu tidak lepas dari pendanaan, namun di pemerintahan maupun PMI pusat tidak ada karena kita ini otonom.

Waktu itu kenapa saya berani berpikir ke arah sana ? Kok aneh bagi saya, dengan penduduk sekitar plus minus 10 sampai 12 juta hanya ada 1 pusat kebugaran. Saya mengajukan itu karena di Jakarta Utara ini ada 22 rumah sakit. Saya coba rempug dengan teman-teman, kalau gitu bang kita bikin pertemuan. Dan direspon oleh PMI pusat, 1 tahun kemudian diresmikan startingnya sehingga 1 tahun ini sudah berjalan.

Yang menjadi persoalan saya, ada orang yang berkata saya ini terlampau berani. Tapi itu pemikiran yang sempit, seandainya ada eksiden kebakaran PMI di jalan Kramat. Meskipun kita tidak menghendaki hal tersebut, tapi siapa yang akan menjadi tempat cadangan. Itulah makanya saya beranikan diri, Tangerang dan Bekasi saja yang hanya kota kecil punya masa kita tidak. Tapi mereka tidak ada yang seperti saya, teroganisir dengan baik.

Tadi dengar juga kan dari Sukabumi minta kemari, Cianjur juga minta kemari, bahkan PMI Bogor jika kekurangan daerah mintanya kemari. Memang pernah ada konflik tapi itu hanya kepentingan-kepentigan sesaat saja, karena kemarin setelah anak-anak menghadap Jusuf Kalla kebetulan saya tidak ada karena lagi di Bandung. PMI pusat datang untuk mencari apa yang sebenarnya terjadi. Maka dari itu, target saya insha Allah mulai tahun depan akan menambah perluasan gedung ini. Karena saat ini tidak cukup untuk melayani unit donor darah.

Apakah PMI Jakarta Utara pernah mendapatkan hibah dari perusahaan atau perorangan ?

Pernah, tadi pagi saja dari IPC menyerahkan 1 unit mobil yang harganya sekitar 500 sampai 550 juta. Sebelumnya Daihatsu juga menyumbang untuk PMI. Dan ini terus menerus saya akan menerima bantuan, karena ada fakta bahwa yang saya kerjakan itu bukan untuk kepentingan saya pribadi tapi untuk masyarakat luas.

Selain menerima hibah, tadi saya jug mengumpulkan ratusan guru-guru dengan tujuan agar menghindarkan benturan-benturan di masyarakat. Baik itu antar sekolah dan lingkungannya, mungkin juga secara horizontal kalau kita tidak atasi itu masalah kemiskinan. Itulah peran dan fungsi PMI, memang saya orangnya agak arogan menurut mereka. Padahal saya tegas, gak cocok dan setuju dengan saya tidak apa-apa karena cara berpikir kamu dengan saya beda.

Setiap bulannya PMI Jakarta Utara berhasil mengumpulkan darah berapa banyak ?

Sekarang ini sekitar 6.000 sampai 7.000 kantong setiap bulannya. Dan yang menyakitkan lagi kadang-kadang darah yang kita serahkan ke rumah sakit, yang menentukan nilai atau harga operasinya itu yang menentukan bukan kita. Tapi adalah Dinas Kesehatan, untuk 1 kantong itu dinilai sekitar 560 ribu.

Lalu dengan harga yang telah ditentukan oleh Dinas Kesehatan tersebut apakah itu berarti PMI sudah mendapatkan keuntungan ?

Justru itu kita kewalahan tidak cukup membiayai. Tapi rumah sakit kadang-kadang untuk menyediakan darah ke pasien bisa dikenakan biaya sekitar 1,5 juta per kantongnya dengan alasan mahal didalam penyimpanannya. Kami pun heran penyimpanan apa orang penyimpanannya ada di sini (PMI).

Sehingga di masyarakat yang belum mengerti berpikir negatif terhadap PMI. Bayangkan saja kantong darah harganya berapa, regennya berapa, pengolahan darahnha itu miliaran, penyimpanan memerlukan listrik berapa. Seandainya dia tidak terpakai maka dibuang, itu menjadi cos.

Nah ini menjadi persoalan yang mestinya dibahas secara komprehensif. Karena di sini banyak kepentingan-kepentimgan terselubung, saya tidak tahu tapi pasti semua pahamlah. Tolong kepada masyarakat kalau mau melihat fakta saya welcome, boleh diperiksa kita diaudit kok.

Kantong atau alat-alat yang dipakai di sini apakah itu produk lokal atau impor ?

Impor, karena sampai saat ini kita belum ada keberanian. Ini permainan bisnis lah terutama soal kantong darahnya. Setiap tahunnya kita memerlukan 6 sampai 7 juta kantong. Itu baru untuk kantong darah, belum lagi nanti untuk yang lain-lainnya.

Infus dan segala macamnya pasti beda lagi. Padahal kita bisa ambil paten dari Jepang, Jerman, Amerika atau dari Cina. Tapi kan di sini masalahnya adalah soal kualitas. Saya tidak tahu apakah rencana PMI mendirikan pabrik kantong darah itu bisa terealisasikan.

Kesuksesan anda tentu tidak lepas dari karyawan yang ikut menunjang, lalu bagaimana agar mereka bisa bekerja dengan profesional apakah tunjangan mereka mencukupi ?

Di sini kita mempunyai kategori, tidak bisa merekut karyawan sembarangan. Itu harus dilakukan oleh akademi, baik yang dilakukan oleh PMI sendiri yang ada di jalan Haji Johe atau yang ada di Solo dan satu tempat lainnya. Jadi saya rekrutnya dari ketiga tempat itu tadi.

Yang bekerja di sini itu harus yang betul-betul mengerti, dia mesti expert. Saat ini setidaknya ada sekitar 70 orang, dengan gaji di atas UMR. Paling tidak gaji mereka sudah 4 juta bahkan lebih, jika dihitung 4 juta saja dikali 70 orang maka sudah 280 juta setiap bulannya. Itu baru untuk gaji, bagaimana dengan operasional, tentunya kita harus punya donatur yang bisa mensupport agar kita yang bergerak di bidang pelayanan dapat berjalan dengan baik.