oleh

Dampak Negatif Dari Edukasi Satwa Liar Yang Tidak Pada Tempatnya

Oleh : May Reza Fadhilla S.Kom

Belakangan ini kita ramai melihat kegiatan edukasi tentang burung hantu kepada masyarakat ,dengan tujuan yang katanya untuk menghilangkan mitos negatif tentang burung yang dianggap mistis ini.

Baik, mari kita bahas tentang bagaimana “edukasi” itu berjalan. Efektifkah? Atau malah menimbulkan masalah baru?

*Pelaksanaan edukasi*
Umumnya yang kita lihat, kegiatan “edukasi” mengambil tempat di lokasi yang ramai dikunjungi orang.Taman Kota, Area Car Free Day, Mall ,dll. Pengunjungnya mulai dari yang muda hingga yang tua ,dan umumnya orang-orang tersebut masih awam soal burung hantu. Disitulah para “edukator” berkumpul dengan membawa beberapa ekor burung hantu. Yang biasanya menarik minat para pengunjung untuk mendekat dan menggali informasi. Lalu dengan sukarela para “edukator” akan menjelaskan. Mulai Dari menyangkal mitos negatif dari burung eksotis itu, perawatan, pakan bahkan pelatihan yang diterapkan terhadap pemangsa yang umumnya aktif di malam hari ini.

*Seberapa efektifkah?*
Jika tujuan mereka hanya untuk mengenalkan dan menghilangkan ketakutan masyarakat terhadap burung hantu, tentu cara ini efektif. Tapi efektifkah jika dilihat dari segi konservasi? Tunggu dulu. Jangan-jangan kegiatan seperti ini, jika dilakukan dengan tidak tepat justru memberikan dampak negatif dari sisi konservasi.

Apakah dampak negatif dari kegiatan “edukasi” semacam itu?

1.Potensi Tumbuhnya minat masyarakat awam terhadap burung hantu akan semakin besar ,bermula dari ketertarikan karena melihat para “edukator” membawa “partner/burung hantunya”. Ditambah dengan atraksi-atraksi yang menunjukan kebolehan burung-burung yang dianggap eksotis dan unik tersebut.

2.Dari tumbuhnya minat tersebut, maka potensi akan kebutuhan dan minat masyarakat tentang burung hantu juga akan meningkat.

3.Celakanya, jika kebutuhan masyarakat akan burung hantu meningkat, maka populasi di alam juga akan semakin terancam.Karena sebagian besar burung yang diadopsi adalah hasil panen alam liar.

4.Jika keadaan seperti ini terus menerus berjalan ,bukan tidak mungkin populasi burung hantu di Indonesia juga akan berada di ambang kepunahan.

Maka dari itu untuk para penghobi dan para anggota komunitas pecinta burung hantu berfikir panjanglah sebelum Anda mempublikasikan kegiatan “unik” Anda. Ini bukan cuma soal kebanggaan dan unjuk kebolehan agar dianggap keren tapi harus didasari dengan kepedulian akan konservasi.

Sangat bagus jika kita berupaya mengedukasi masyarakat soal burung hantu ,tapi edukasilah dengan cara yang tepat. Dengan cara mengajak untuk peduli akan kelestarian popupalsinya dan bukan dengan mengajak untuk ikut melakukan kegiatan yang Anda lakukan.

Membawa burung hantu saat edukasi tidak terlalu diperlukan ,karena pengenalan suatu obyek tidak harus membawa objek nyata.Bisa dengan video atau gambar ,kalaupun terpaksa membawa objek nyata libatkanlah instansi atau dinas terkait. Atau bawalah burung hantu dari hasil penangkaran resmi lengkap dengan lisensi atau semacamnya.

Sehingga masyarakat tidak berfikir bahwa mereka juga punya “hak” yang sama untuk MENCURI atau MENGAMBIL dari alam liar demi kesenangan dan nafsu semata. Kenalkan ke masyarakat tentang peran penting burung-burung pemangsa di alam ,tentang bagaimana pentingnya menjaga kelestarian dan keberlangsungan populasi mereka di alam. Bukan mengajarkan mereka untuk ikut menangkap dari alam atau mendukung dengan cara membeli dari orang lain untuk merusak regenerasi populasi burung pemangsa yang kita cintai ini.

Komentar