Diduga Cawabup Majalengka Dari PDIP Gunakan Ijazah Palsu

oleh
Direktur RAYA Indonesia Hery Chariansyah, SH, MH

Jakarta, NusantaraPos – Rumah Kajian & Advokasi Kerakyatan (RAYA Indonesia) menelusuri dugaan ijazah palsu yang digunakan oleh Calon Wakil Bupati Majalengka Tarsono Dian Mardiana. Dalam investigasi ada beberapa keganjilan yang ditemukan oleh RAYA Indonesia.

Direktur RAYA Indonesia Hery Chariansyah mengatakan berdasarkan investigasi dan penelusuran kami, calon wakil bupati nomor urut 2 diduga menggunakan ijazah palsu pada pencalonan legislatif tahun 2014 lalu.

“Ijazah Strata Satu (S1) Ilmu Administrasi atas nama Tarsono Dian Mardiana yang dikeluarkan oleh Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) YAPPAN dengan nomor seri ijazah 05820 tanggal 2 Maret 2012 diduga palsu,” ujar Hery saat menggelar jumpa pers di wilayah Jakarta Selatan, Kamis (07/06/2018).

Lanjut Hery, investigasi ini dilakukan RAYA Indonesia untuk menindaklanjuti laporan atau pengaduan masyarakat yang melihat ada keanehan dalam mencapai gelar akademik yang digunakan oleh yang bersangkutan pada pemilu legislatif tahun 2014 lalu. Tarsono Dian Mardiana menggunakan gelar akademik S1 dalam dokumen administrasinya yang kemudian menghantarkan beliau menjadi ketua DPRD kabupaten Majalengka periode tahun 2014-2019.

“Namun ketika ikut kontestasi pemilihan kepala daerah kabupaten Majalengka Tarsono yang menjadi calon wakil kepala daerah yang berpasangan dengan Karna Sobahi sebagai pasangan nomor urut 2 tidak menggunakan gelar akademik S1 nya,” ujarnya.

Tarsono, tambah Hery, merupakan calon wakil kepala daerah dari PDI Perjuangan. Meskipun begitu keterangan kami kepada teman-teman media tidak ada kaitannya dengan politik praktis dan menjatuhkan salah satu kandidat demi menguntungkan pihak lainnya.

“Kami hanya ingin agar pilkada di Indonesia khususnya kabupaten Majalengka bisa dilaksanakan dengan baik, bersih dan jujur. Sehingga masyarakat Majalengka bisa mendapatkan pemimpin yang sesuai dengan yang diharapkan,” paparnya.

Sementara itu Ronaldo Deputi Bidang Advokasi RAYA Indonesia menyatakan investigasi yang dilakukan RAYA Indonesia untuk mencari kebenaran dalam laporan masyarakat ini dilakukan dengan beberapa cara. Yang diantaranya melakukan penelusuran rekam jejak digital yang bersangkutan dengan mengirimkan surat ke beberapa pihak untuk mengkonfirmasi dan memfasilitasi keabsahan dan atau keaslian ijazah S1 yang digunakan oleh Tarsono Dian Mardiana pada pemilu legislatif tahun 2014.

“Atas investigasi itu ditemukan dugaan awal bahwa ijazah S1 yang dikeluarkan oleh Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) YAPPAN dengan nomor seri ijazah 05820 tanggal 2 Maret 2012 digunakan oleh personal Dian Mardiana pada pemilu legislatif 2014,” katanya.

Namun, lanjut Ronaldo, pada pemilihan kepala daerah tahun 2018 ini Tarsono Dian Mardiana tidak mencantumkan gelar akademisnya. Sehingga dalam logika sederhana kita duga ada maksud atau hal tertentu untuk tidak mencantumkan gelar akademik S1 tersebut. Padahal gelar tersebut dapat menguntungkan dalam kampanye dan manajemen perolehan suara.

“Koordinator Perguruan Tinggi Swasta (KOPERTIS) wilayah III dalam surat jawaban ke kami pada pokoknya menyampaikan bahwa ijazah S1 atas nama saudara Tarsono Dian Mardiana yang dikeluarkan oleh STIA YAPPAN tidak dapat divalidasi,” terangnya.

Dalam kesempatan tersebut Hery yang merupakan advokasi dari organisasi KAI mengungkapan dalam jejak digital tentang biodata Tarsono Dian Mardiana menyebutkan bahwa yang bersangkutan berkuliah di STIA YAPPAN sejak tahun 1992 – 2012. Dengan data ini dapat dilihat bahwa yang bersangkutan berkuliah di STIA YAPPAN selama 20 tahun sehingga menurut kami tidak masuk akal.

“Setelah kami telusuri banyak informasi melalui media bahwa STIA YAPPAN adalah kampus yang diduga melakukan praktik jual beli ijazah dan sempat diancam akan dicabut perizinannya oleh Direktorat Pendidikan Tinggi Kemendikbud,” tutupnya.(Hari.S)