oleh

Intelektual Suku Mee Deiyai dan Paniai Himbau Masyarakat Tidak Terprovokasi Usai Pilkada 2018 

Jakarta, NusantaraPos – Pilkada serentak 2018 telah usai dan kini sebagian sedang berperkara di Mahkamah Konstitusi (MK). Diantara daerah yang mengikuti pilkada serentak dan hasilnya sedang diperkarakan tersebut adalah Kabupaten Deiyai dan Paniai, provinsi Papua.

Tokoh intelektual Suku Mee, Kornelis Package mengatakan saya harap masyarakat Deiyai dan Paniai tidak terprovokasi dengan situasi pilkada serentak 2018. Sebab kita sudah berhasil menyelenggarakan pilkada dengan baik, aman, damai dan terkendali.

“Pemahaman masyarakat Deiyai dan Paniai tentang politik sangat tinggi dan berlogika. Dan kini telah berakhir intervensi masyarakat samapai pada pleno penetapan Bupati dan Wakil Bupati terpilih periode 2018 – 2023, itulah hasil usaha, upah dan doa masyarakat Mee Deiyai dan Paniai,” katanya di Jakarta, Kamis (9/8/2018).

Selanjutnya, sambung Kornelis, apabila di sengketakan ke MK maka bukan urusan masyarakat lagi, tapi urusan kandidat dengan Makamah Konsitusi di Jakarta. Tugas masyarakat adalah berdoa dan menunggu hasil akhir oleh putusan hukum tertinggi di MK.Kami mengerti bahwa politik itu seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara konstitusional maupun non konstitusional.

“Di samping itu politik juga dapat ditilik dari sudut pandang berbeda, usaha yang ditempuh warga untuk mewujudkan kebaikan bersama. Maka itulah kami saksi bersama hasil setelah KPUD tetapkan pemenangan Bupati dan Wakil Bupati terpilih,” ujarnya.

Untuk itu, lanjut Kornelis, kita jangan sampai putus tali kekeluargaan, hubungan, sahabat, teman, hanya karena politik. Politik hanya sesaat untuk hidup orang tertentu, pahami bagi anda intelektual Deiyai dan Paniai serta masyarakat umum.”Bupati Kiyakeko Kanigouneka Aayai, Akinako, Akinaki Ipaa”.

“Untuk itu saya menghimbau untuk kandidat menang dan kalah, jangan mengajak masyarakat sebab intervensi masyarakat  telah selesai dan hasilnya kita telah saksikan bersama tanpa masalah. Saat ini rakyat lebih konsentrasi hidup berkebun, untuk mencari untuk nafkah bagi keluarga, istri dan anak-anak mereka, bukan kamu yang jamin seumur hidup mereka,” tegasnya.(Hari)

Komentar