oleh

Ketum Ninja Minta Polisi Usut Penyebar Isu Penganiayaan Ratna Sarumpaet 

Jakarta, nusantarapos.co.id – Polisi mengungkap sejumlah kejanggalan dalam kejadian dugaan penganiayaan yang dialami aktivis dan seniman Ratna Sarumpaet. Mulai dari tidak adanya saksi yang mengetahui kejadian maupun kegiatan konferensi internasional yang dihadiri Ratna di Bandung, Jawa Barat, maupun ketidaksesuaian waktu keberadaan Ratna, dan lain sebagainya. Hasil penyelidikan, polisi menyebut jika pada waktu kejadian, yakni 21 September 2018 malam, Ratna justru berada di Rumah Sakit Bina Estetika, Menteng, Jakarta Pusat.

Ratna berada di rumah sakit khusus bedah estetika atau kecantikan itu, sejak pukul 17.00 WIB. Ia berada di tempat tersebut setelah melakukan pemesanan sebelumnya pada 20 September 2018. Hal ini terungkap berdasar keterangan pihak rumah sakit, buku tamu, dan CCTV atau kamera pengintai di lokasi.

Menyikapi temuan polisi, Ketua relawan Jokowi Negeriku Indonesia Jaya (Ninja), C Suhadi, meminta penegak hukum terus fokus mengusut dugaan penyebaran berita bohong peristiwa penganiayaan Ratna. Tidak hanya Ratna, pihak-pihak terkait seperti para politisi yang turut berkomentar mengenai kejadian ini, diharapkan turut diperiksa.

“Aktor-aktor politik seperti Rachel Maryam, Fadli Zon, Hanum Rais, bahkan Pak Prabowo yang sampai menggelar konferensi pers terkait peristiwa Ratna, juga dimintai keterangan, untuk diusut keterlibatannya,” ujar Suhadi dalam keterangan tertulis, Rabu (3/10/2018).

Apabila hasil penyelidikan dan penyidikan menunjukkan jika para politisi tak terlibat dalam dugaan penyebaran informasi hoaks, imbuh Suhadi, mereka diharapkan meminta maaf ke publik.

“Kalau memang mereka (para politisi) ternyata dibohongi juga sama Ratna, mereka harus kasih statement meminta maaf karena telah berusaha menggiring persoalan ini ke ranah politik,” kata dia.

Menurut advokat senior ini, cara paling mudah menguak tabir peristiwa ini adalah dengan memeriksa para dokter atau pihak terkait di rumah sakit. Dokter atau pihak administrasi rumah sakit diharapkan mampu menjelaskan ke polisi dalam rangka apa Ratna ke tempat itu. Apakah hendak operasi plastik mempercantik wajah, atau memperbaiki wajah yang terluka akibat kekerasan. Pihak rumah sakit diharapkan kooperatif dengan petugas, sehingga persoalan bisa segera rampung.

“Jika Ratna datang ke situ karena sebelumnya dianiaya, dokter juga harus mampu menjelaskan kondisi Ratna sebelum ditangani secara medis, apakah dalam keadaan luka-luka, atau justru sebaliknya,” tutur Suhadi.

Apabila indikasi Ratna melakukan kebohongan menguat, polisi juga diminta mengungkap motif tindakan dilakukan. Suhadi mengatakan, karena ada usaha menarik perkara ini ke ranah politik, ia menduga apa yang disinyalir dilakukan Ratna ini bertujuan untuk menggiring opini negatif terhadap kubu calon presiden dan calon wakil presiden (capres-cawapres).

Lebih lanjut, tambah Suhadi, seluruh tindakan oleh kepolisian diminta cepat dilaksanakan, untuk menghindari politisasi terutama pada momen Pemilu 2019.

“Jika benar Ratna melakukan kebohongan, polisi perlu mendalami motifnya. Selain Ratna merupakan tim salah satu capres-cawapres, persoalan ini juga sedikit banyak telah ditarik ke ranah ke politik. Artinya bisa jadi motivasi ratna melakukan kebohongan untuk membuat opini di masyarakat bahwa pihak/kubunya dizalimi kubu petahana. Yang ujungnya, masyarakat geram, tidak empati, sehingga suara pemilih pasangan capres-cawapres lawan, tergerus. Nah kalau gini kan namanya black campaign (kampanye hitam). Ini bisa saja terjadi,” dan selanjutnya polisi harus memproses penyebaran berita bohong ke ranah hukum, tandas calon anggota legislatif Partai Nasional Demokrat (Nasdem) ini.

Komentar