Momentum Pilkada Ujian Bagi Partai Politik

oleh

Oleh : SUKARDI, S.IP
Minggu 1 Juli 2018

Nusantara.Pos-Momentum Pemilihan kepala daerah (Pilkada) dengan sistim demokrasi merupakan sebuah ajang perhelatan yang cukup bergengsi di semua wilayah di Indonesia, sebab perhelatan itu tidak hanya mempertaruhkan calon dan strateginya, melainkan juga ujian bagi partai politik (parpol) yang mengusung calonnya.

Parpol akan diuji kehebatannya pada momentum tersebut karena dia menjadi salah satu penentu kemenangan. Misalnya, seseorang baru dapat menjadi calon jika memiliki partai pengusung yang mencukupkan dukungannya dan juga bisa menjadi pemenang jika partai pengusungnya bekerja secara maksimal.

Jika berpegang pada dua hal ini dan mencoba mengabaikan sementara faktor lain seperti tambahan suara rakyat, money politic dan lain sebagainya, maka sederhananya, parpol yang memiliki kader dan pengurus terbanyak seharusnya mutlak menjadi pemenang, apalagi dengan tambahan koalisi parpol lain.

Akan tetapi jika paslon dengan parpol yang memiliki kader dan pengurus banyak kalah bahkan meski telah memiliki koalisi, maka parpol pengusungnya perlu dipertanyakan, seperti pada momentum Pemilihan Gubenur (Pilgub) Sultra beberapa waktu lalu.

Dari tiga calon yang ada jika bercermin pada parpol pengusung, mestinya kemenangan pasangan calon (paslon) Ir Asrun-Ir Hugua adalah mutlak, tetapi faktanya paslon tersebut justru berada pada urutan ke tiga setelah paslon Rusda-Sjafei dan paslon Ali Mazi-Lukman.

Dukungan paslon Ir Asrun-Ir Hugua terdiri dari lima parpol yakni PAN, PDIP, PKS, Gerindra dan Hanura. Paslon Rusda-Sjafei diusung parpol Demokrat, PPP dan PKB sementara paslon Ali Mazi-Lukman didukung parpol Golkar dan Nasdem.

Dari jumlah ini jika kita sederhanakan dengan sample angka, misal setiap parpol memiliki 1000 pengurus dan kader diseluruh daerah di Sultra maka paslon Ir Asrun-Ir Hugua telah memiliki cadangan suara sebanyak 5000 dan lebih unggul dibanding paslon Rusda-Sjafei yang hanya memiliki 3000 cadangan suara, serta paslon Ali Mazi-Lukman dengan cadangan suara 2000.

Kemudian, setiap parpol ini memiliki kadernya yang telah lulus ujian yakni para anggota legislatif atau dikenal juga dengan sebutan perpanjangan suara rakyat (Anggota DPRD). Tentu, mereka telah memiliki basis suara disetiap daerah pemilihan (dapil) masing-masing.

Kita sederhanakan, setiap parpol memiliki 3 kader anggota legislatif disetiap satu kabupaten/kota dan wilayah Sultra sendiri terdiri dari 27 kabupaten/kota, maka total keseluruhan satu parpol memiliki 81 anggota legislatif. Lalu setiap anggota legislatif memiliki 10 basis suara maka satu parpol dari sudut ini telah memiliki cadangan suara sebanyak 810.

Jika dikalkulasi kembali dengan koalisi parpol pengusung paslon maka untuk Ir Asrun-Ir Hugua memiliki cadangan suara sebanyak 5 x 810 atau sebanyak 4.050 cadangan suara sementara paslon Rusda-Sjafei 3 x 810 atau sebanyak 2.430 dan paslon Ali Mazi-Lukman sebanyak 2 x 810 atau sebanyak 1.620 cadangan suara. Sehingga jika digabungkan dari dua sumber cadangan suara diatas maka untuk paslon Ir Asrun-Ir Hugua memiliki 9.050 suara, paslon Rusda-Sjafei memiliki 5.430 suara dan paslon Ali Mazi-Lukman memiliki 3.620 suara.

Hasilnya, kemenangan paslon Ir Asrun-Ir Hugua mutlak tak terbendung, namun sayang fakta dilapangan paslon ini justru berada pada urutan ke tiga. Yang artinya, parpol pengusung paslon edikit ketimbang momentum pilkada lain, yang secara tidak langsung menggugurkan beberapa faktor untuk mempengaruhi kemenangan paslon dari sudut money politic,suara rakyat dan lain sebagainya.