oleh

Objek Jaminan Fidusia Dialihkan, Direktur MUF Laporkan Oknum Polisi ke Polda Sulsel

Makassar, NusantaraPos – Kepala kantor cabang Mandiri Utama Finance (MUF) Sulawesi Selatan Muhammad Taufan melaporkan pihak ketiga yang telah menerima objek jaminan fidusia ke markas Polisi Daerah (Polda) Sulsel pada Senin (20/8/2018). Laporan tersebut dibuat dikarenakan terlapor bernama Awaluddin tidak bersedia memberikan objek jaminan berupa 1 unit mobil Toyota new Yaris yang merupakan objek jaminan fidusia.

Kuasa Hukum Direktur BUF, Yulianto, SH, MH mengatakan permasalahan bermula ketika saudara Rumah Dg Itung dan Ny. Diana Suci Asih memerlukan fasilitas pembiayaan kendaraan bermotor roda empat senilai Rp. 227.890.400 (dua ratus dua puluh tujuh juta delapan ratus sembilan puluh ribu empat ratus rupiah) yang tertuang dalam surat perjanjian dengan nomor 070017001010 dan telah dituangkan dalam akta notaris Mohammad Fajri Eka Putra, SH, MKn nomor 4376 sebagai bukti otentik kesatu.

“Bahwa sesuai dengan UU No. 42/Thn 1999 tentang Jaminan Fidusia, perjanjian tersebut diatas kemudian didaftarkan oleh notaris ke kantor pendaftaran fidusia di Kementerian Hukum dan HAM kantor wilayah Sulawesi Selatan sehingga terbitlah sertifikat dengan nomor W23.00206165.AH.05.01 Tahun 2017 pada tanggal 27-12-2017 pukul 10:06:10 sebagai bukti otentik kedua,” ujar senior advokat dari Sulawesi Justice tersebut kepada NusantaraPos via pesan WhatsApp, Senin (20/8/2018) malam.

Lebih lanjut Yulianto menjelaskan, yang menjadi jaminan fidusia/objek eksekusi adalah 1 unit mobil Toyota New Yaris berwarna merah metalik tahun 2017 yang memiliki nomor mesin 2NRX193996 dan nomor polisi DD1130CI atas nama Ruma Dg Itung. Selanjutnya Ruma Dg Itung beserta Ny. Diana Suci Asih telah berjanji akan melunasi akan melunasi hutangnya dengan cara diangsur selama 60 kali, dimana angsuran pertama dimulai tanggal 15 Januari 2018 dengan nilai angsuran Rp. 5.785.000,- (lima juta tujuh ratus delapan puluh lima ribu rupiah).

“Ruma Dg Itung dan Ny. Diana Suci Asih juga telah berjanji tidak akan memindah tangankan objek jaminan tersebut dengan cara dan jalan apapun juga. Tibalah saatnya Ruma Dg Itung melakukan pembayaran angsuran yang pertama jatuh tempo pada tanggal 15 Januari 2018, dan bulan kedua jatuh tempo tanggal 15 Februari 2018 namun baru dibayarkan pada tanggal 31 Maret 2018 sehingga disitu sudah ada keterlambatan angsuran” katanya.

Setelah itu, sambung Yulianto, saudara Ruma Dg Itung dan Ny. Diana Suci Asih tidak pernah lagi melakukan pembayaran angsuran sebagaimana yang dijanjikan dalam surat perjanjian awal. Karena keterlambatan tersebut, akhirnya klien kami membuat surat peringatan dan kunjungan ke alamat tagih pihak Ruma Dg Itung dan Ny. Diana Suci Asih. Akan tetapi setibanya di sana karyawan klien kami telah meninggal pada tanggal 10 Februari 2018.

“Ny. Diana Suci Asih menyatakan ketidak mampuannya untuk melaksanakan sisa kewajiban pada perjanjian pembiayaan dimaksud. Yang mengejutkan Ny. Diana mengatakan objek jaminan fidusia telah dialihkan pihak Ruma Dg Itung kepada terlapor yang diduga merupakan oknum Polisi,” ujarnya.

Setelah itu, tambah Yulianto, tim klien kami bertemu dengan Ny. Diana di alamat domisili terlapor guna melakukan mediasi dan eksekusi sukarela atas objek jaminan fidusia tersebut. Namun pihak terlapor menolak dikarenakan alasan bahwa Ruma Dg Itung masih memiliki sangkutan utang piutang terkait masalah jual beli kendaraan lain yang dilakukan di bawah tangan tanpa ada bukti transaksi dengan total hutan senilai Rp 80.000.000,- (delapan puluh juta rupiah).

“Atas perbuatan tersebut di atas, maka klien kami sangat berkeberatan sehingga mengajukan laporan/pengaduan dugaan UU No. 42 Tahun 1999 kepada Polda Sulawesi Selatan. Semoga pihak Kepolisian dapat mengambil tindakan menurut hukum terhadap terlapor sesuai dengan prosedur dan peraturan perundang-undangan yang berlaku,” tutup Yulianto sang penegak hukum dari Condet.(Hari.S)

Komentar