Ramah Lingkungan, Plastik dari Singkong Diproduksi Massal

oleh

Jepara, NusantaraPos – Singkong ternyata tak hanya bisa disulap menjadi berbagai kudapan lezat. Tapi, singkong bisa juga menjadi media untuk menyelamatkan lingkungan dari menumpuknya sampah plastik yang sulit terurai selama ini.

Ya, plastik berbahan baku singkong sekitar dua tahun terakhir sudah mulai diproduksi pabrikan Sinar Jaya Plastindo, yang berada di Desa Parangjoro Kecamatan Grogol Kabupaten Sukoharjo Jawa Tengah.

Saat mengikuti pameran dalam Hari Lingkungan Hidup Sedunia Tingkat Jawa Tengah di Pantai Bandengan, Kamis (9/8), Direktur Sinar Jaya Plastindo Whelly Sujono menuturkan, sebelum diproduksi massal, pihaknya sudah melakukan riset selama lima tahun. Setelah meriset dari berbagai sisi, antara lain ketersediaan bahan baku dan keamanannya, akhirnya pihaknya memroduksi plastik berbahan baku singkong.

Ditambahkan, untuk mendapatkan bahan baku, pihak pabrik memilih bekerja sama dengan petani. Pihaknya tidak membuat perkebunan singkong sendiri, dengan tujuan membantu petani. Dalam proses pengolahan, singkong terlebih dahulu dijadikan tepung. Setelah itu dicampur dengan biji plastik dengan komposisi 80 persen singkong dan 20 persen biji plastik. Selanjutnya diproduksi menjadi kantong plastik berukuran kurang lebih 30 cm x 15 cm dan kantong sampah. Harga kantong plastik isi 50 pcs Rp 25.000 dan kantong sampah per pcs Rp 5.400

“Harganya memang lebih mahal dibanding yang oxium. Dengan isi yang sama, kantong plastik oxium harganya Rp 8.500. Namun kami tetap punya pangsa pasar, seperti di hotel dan restoran,” tutur Welly seperti dikutip dari laman resmi Pemprov Jawa Tengah.

Saat ini, kata Whelly, pihaknya baru memroduksi kurang dari 10 ton plastik singkong per bulan. Namun bila permintaan pasar semakin besar, dia siap memroduksi hingga 100 ton plastik. Keistimewaan plastik dari singkong ini dapat terurai hanya dalam waktu enam bulan. Di samping itu, bebas dari segala bahan berbahaya. Sehingga, ketika terurai dan termakan hewan, tetap aman.

“Teknologinya ini 100 persen Indonesia. Produk kami juga mendapat sertifikat dari World CSR Day and World Sustainability,” tuturnya.

Gubernur Jawa Tengah H Ganjar Pranowo SH MIP mengapresiasi inovasi tersebut. Apalagi, dalam catatannya, produksi sampah di Jawa Tengah mencapai 15.671 ton sampah per hari. Dalam setahun, menumpuk 5.719.915 ton sampah. Komposisinya terdiri 63,3 persen sampah organik, 36,34 persen sampah anorganik, dan bahan beracun berbahaya (B3) 0,29 persen.

“Untuk sampah plastik yang dihasilkan di Jawa Tengah rata-rata berkisar 17,7 persen dan nampaknya ada perubahan pola konsumsi masyarakat yang menunjukkan tren peningkatan,” katanya.

Meningkatnya penggunaan plastik, tak hanya di Indonesia tapi juga negara-negara lain. Sampah itu menimbulkan persolan yang tidak remeh. Bahkan, kini binatang tidak bisa membedakan antara makanan dan plastik, sehingga plastik pun dimakan. Adanya inovasi plastik dari singkong, menjadi salah satu mengatasi persoalan sampah plastik selama ini.

“Kemarin saya di-bully soal tiwul. Ternyata hari ini singkong dibuat tepung cassava, jadi macam-macam, jadi plastik dan hasil akhirnya adalah kantong sampah yang mudah terurai. Kita makin kreatif. Keren,” tutur Ganjar.

Untuk menggaungkan Jawa Tengah bebas sampah, imbuhnya, mulai besok (Jumat, 10/8), gubernur berencana menggalakkan gerakan pungut sampah setiap Jumat pagi setelah senam. Di awal pelaksanaan, cukup di lingkungan kantor. Berikutnya bisa di titik-titik public space yang sudah ditetapkan. (*)