Relawan Ninja : Yang Melaporkan Pidato Jokowi Diduga Membuat Laporan Palsu

oleh

Jakarta, NusantaraPos – Ketua Umum Negeriku Indonesia Jaya (Ninja) C. Suhadi menyesalkan pihak yang membuat laporan terkait pidato Presiden Joko beberapa hari lalu di Sentul. Menurutnya laporan tersebut tak mendasar dan diduga merupakan laporan palsu.

Lebih lanjut Suhadi mengungkapkan serangan terhadap Presiden begitu gencar dan luar biasa. Betapa tidak, hanya sebuah pernyataan yang jelas – jelas sangat menyejukkan dan bijak. Karena itu merupakan petuah seorang Presiden kepada para relawannya. Namun dengan tindakan yang sangat konyol telah dipelintir sedemikian oleh pihak tertentu.

Dalam pidatonya Jokowi mengatakan sejumlah kalimat yakni, jangan bangun permusuhan, jangan membangun ujaran kebencian, jangan membangun fitnah, jangan menjelek-jelekkan orang lain dan yang terakhir tapi kalau diajak juga berani.

Rupanya dengan segala bentuk provokatif dan bertujuan menyerang kehormatan Presiden kalimat tersebut dipenggal sedemikian rupa. Sehingga dari kalimat yang tidak utuh menjadi sebuah kalimat ajakan “berantem”, tanpa mengaudit kalimat diatasnya (lihat kutipan).”Kemudian dari maksud si pengedit seolah-olah Presiden mengajak berantem. Dari segi berita si pengedit berhasil, namun dari segi hukum tidak, karena hukum bicara tentang fakta dan data yang tidak dapat diutak atik seperti kampret,” kata Suhadi.

Suhadi menjelaskan rupanya, urusan potong memotong adalah keahilan pihak-pihak yang tidak suka dengan Presiden. Betapa tidak, akibat penggalan kalimat yang telah diedit sedemikian rupa telah menjadi kalimat yang mengundang tafsir permusuhan. Yang seyogyanya hal tersebut tidak demikian apa yang dimaui oleh Presiden. Hal ini saya ketahui karena saya berada di lokasi dan duduk sederet dengan Presiden, bahkan saya masuk dalam kepanitiaan sebagai Koordinator Team Advoksi dan sebagai Ketua Organ.

Bahwa selain ramainya masalah pernyataan tersebut, baru – baru ini ada sekelompok masyarakat yang menamakan dirinya ICM, sebuah masyarakat sipil di Yogyakarta, telah melaporkan Presiden ke kepolisian di di Yogyakarta.

Menurut hukum dari penyataan Presiden tersebut, tidak ada yang salah dari kalimat dalam Pidatonya. Kalimat ajakan dan atau seruan “berantem” bukan kalimat dalam pidato beliau. Akan tetapi kalimat yang sudah di edit. Sehingga secara hukum laporan dimaksud tidak berdasar dan tidak tepat.

“Karena tidak tepat dan tidak berdasar maka dapat digolongkan membuat laporan, kalau benar laporan tersebut masuk maka bisa diartikan itu merupakan sebuah laporan palsu.Sehingga dengan mengacu kepada LP tersebut masuk dalam pelanggaran tindak pidana seperti diatur dalam pasal 317 KUHP dan melanggar undang-undang ITE,” ucapnya.

Oleh karena itu, tambah Suhadi, kami dari Negeriku Indonesia Jaya ( Ninja ), juga sebagai Koord Team Advokat RURJ akan meminta pihak-pihak yang telah membuat laporan tersebut untuk mencabut laporannya, apabila tidak maka kami akan melaporkan si pelapor ke Mabes Polri.

“Karena dari kasus ini beberapa teman-teman relawan juga sudah melaporkan balik si pelapor pidato Presiden. Bagi teman-teman yang sudah melapor saya support atas laporan tersebut. Dan sebagai penguat kami juga akan membuat laporan yang sama dalam waktu dekat ini,” tutupnya.(Hari)