Vonis Meiliana, Mosi Tidak Percaya Diberikan ke MA dan Polri

oleh

Nusantarapos.co.id – Aksi protes terhadap vonis yang dijatuhkan hakim terhadap terpidana penistaan agama, Meiliana, terus berlanjut. Kali ini protes disampaikan ke Mahkamah Agung (MA), oleh Presidium Rakyat Menggugat (PRM), Rabu (12/9).

“Kasus yang terjadi pada Meiliana adalah preseden yang sangat buruk untuk peradilan Indonesia,” ujar Juru Bicara PRM Sisca Rumondor, di depan kantor MA.

Menurut dia, ada sistem peradilan yang lemah dari vonis 18 bulan penjara yang dijatuhkan hakim. Proses hukum perkara tersebut juga dinilai kental intervensi.

“Ada masalah minoritas dan mayoritas serta intoleransi. Karena itu PRM terusik atas proses peradilan yang tidak adil,” kata Sisca.

Apa yang terjadi pada Meiliana, dianggap melanggar sila ke-5 Pancasila. Atas itu semua, mosi tidak percaya dilayangkan kepada seluruh penegak hukum yang menangani perkara, antara lain Polri, MA, Komisi Yudisial, Kementerian Hukum dan HAM hingga Kementerian Agama RI.

“Hati-hati mengetokkan palu hakim. Meiliana adalah seorang ibu dengan empat anak yang masih di bawah umur yang perlu asuhan. Karena itu seharusnya hukuman yang diberikan hukuman percobaan atau tahanan rumah saja,” tuturnya.

Sementara, peserta aksi lainnya, Yudi Wibowo, menilai proses hukum dan tindakan main hakim sendiri terhadap Meiliana dinilai tak tepat.

“Beragama (Islam) harus rahmatan lil alamin. Jangan ada ibadah yang merugikan pihak lain. Agama ada bukan untuk memenjarakan orang lain,” tandas pria yang berprofesi sebagai ustad tersebut.

Diketahui, Meiliana divonis pidana penjara 18 bulan akibat tindakannya memprotes suara adzan masjid di sekitar kediamannya, Tanjung Balai, Sumatera Utara. Majelis hakim yang mengadili menilai perempuan itu terbukti menistakan agama, sesuai dakwaan jaksa. Keputusan ini dinilai tak adil, mengingat pelaku pembakaran dan perusakan bangunan akibat protes Meiliana, hanya dihukum sekitar 1 bulan penjara. Kik