Kematangan Ideologi Bangsa (Jelang Debat Capres Ke Empat)

oleh -

Kurrotul A’yuni, M.Pd

(Sekretaris Majelis Hukum & Ham

Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Nganjuk)

Hari sabtu (30/03/2019) Komisi Pemilihan Umum (KPU) akan menggelar debat ke empat. Debat dengan tema ideologi, pemerintahan, keamanan, serta hubungan internasional menghadirkan dua calon Presiden Republik Indonesia Joko Widodo dan Prabowo Subianto.

Tema ideologi dapat dikatakan sebagai term pembicaraan yang sensitif. Ideologi yang menurut Francis Bacon merupakan pemikiran mendasar tentang sebuah konsep hidup. Dari makna dasarnya dapat dikatakan bahwa ideologi adalah ide atau gagasan yang tersistem dan dijadikan sebagai pandangan hidup.

Ideologi yang merupakan pandangan hidup dapat berfungsi sebagai kekuatan sekaligus pedoman bagi individu maupun suatu negara untuk mencapai tujuan yang dicita-citakan. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ideologi merupakan penentu arah suatu bangsa.

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menjadikan Pancasila sebagai ideologi bangsa. Pancasila dengan kelima silanya merupakan ideologi terbuka yang harus dipedomani dan dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Pancasila sebagai ideologi terbuka dianggap paling sesuai untuk diterapkan di Indonesia yang terkenal sebagai negara majemuk dengan banyak suku bangsa dan sudah pasti banyak gagasan atau ide dengan sistem yang beragam pula.

Pada momen suksesi seperti pemilu serentak 2019 kali ini, isu atau kritik terhadap ideologi sering dimenej sebagai strategi mendulang suara. Hal ini karena sifat ideologi sendiri yang menyentuh alam bawah sadar sehingga orang akan rela mempertaruhkan apa saja untuk mempertahankan ideologi yang dianutnya.

Seperti misalnya mempertentangkan antara Islam, Pancasila, dan komunis. Meski isu ini akan hilang dan tenggelam seiring berakhirnya suksesi, tetapi untuk saat ini masih menjadi term besar pembicaraan, baik di darat maupun online.

Islam dan Pancasila menurut saya bukanlah dua ideologi yang saling bertentangan. Ajaran Islam yang diterjemahkan pada sila-sila dalam Pancasila, serta sila dalam Pancasila mengakui  hadirnya Tuhan Yang Maha Esa menjadi bukti bahwa tidak ada pertentangan antara keduanya.

Muhammadiyah misalnya, dalam muktamar ke 47 pada tanggal 3-7 Agustus 2015 di Makasar memutuskan Negara Pancasila sebagai Darul Ahdi  Wa Syahadah. Darul ahdi artinya negara tempat melakukan konsensus nasional. Negara tempat berdiri karena seluruh kemajemukan bangsa, golongan, daerah, kekuatan politik, sepakat untuk mendirikan Indonesia.

Sedangkan darul syahadah bermakna negara tempat kita mengisi. Artinya setelah kita berhasil mempunyai negara Indonesia yang merdeka, adalah keniscayaan dari seluruh elemen bangsa untuk mengisi kemerdekaan bangsa ini sehingga menjadi Negara yang maju, makmur, adil bermartabat.

Pancasila yang menjadi dasar negara ini menurut Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir sudah sesuai dengan nilai-nilai Islam. Bahkan Muhammadiyah mengajak seluruh elemen bangsa menjaga konsep tersebut, agar Indonesia menjadi Negara yang diampuni Tuhan.

Adalah tugas dan tanggungjawab kita sebagai warganegara Indonesis untuk mengisi dan membangun Negara Pancasila yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdasar Pancasila, UUD 1945, dan Bhineka Tunggal Ika sebagai negeri dan bangsa yang maju, adil, makmur, bermartabat dan berdaulat sejalan dengan cita-cita Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur.

Debat Capres sabtu besok dapat menjadi referensi bagi pemilih bagaimana calon presiden memahami ideologi bangsa ini.  Bagaimana kedua capres memaknai ideologi bamgsa ini sehingga mampu menghadirkan pemerintahan yang bersih dan berkeadilan sebagaimana amanat UUD 1945, menjamin keamanan lahir batin bagi warga negaranha serta mampu membangun trust dan mandiri di kancah internasional.

Dalam tiga debat sebelumnya kita patut memberi apresiasi pada KPU yang selalu berbenah dan responship memperbaiki setiap kekurangan yang terjadi dalam debat. Masyarakat menaruh kepercayaan dan harapan besar pada KPU sebagai penyelenggara pemilu yang independen dapat secara apik menyelenggarakan debat keempat kali ini sehingga masyarakat tercerdaskan dan dapat menangkap visi capres khususnya yang berkaitan dengan ideologi, pemerintahan, keamanan, dan hubungan internasional.