Tokoh Anti-PKI Ingin Pemilu 2019 Damai

oleh -69 views

Jakarta, NusantaraPos – Tokoh anti-komunis Arukat Djaswadi meminta Pemilu 2019 berlangsung damai dan aman. Hal ini demi masa depan bangsa yang lebih baik.

“Saya mengimbau kepada warga Indonesia dalam kesempatan ini, demokrasi (pemilu) harus kita gunakan untuk membangun bangsa ini supaya anak, cucu kita nanti tidak jadi korban,” ujar Arukat di Jakarta, Rabu (3/4/2019).

Arukat ingin pemilu berlangsung kondusif baik sebelum maupun sesudah pesta demokrasi, karena berkaca pada pengalamannya di masa lampau pada 1965. Pada tahun itu, perselisihan ideologi begitu kental di masyarakat, sehingga sempat menimbulkan konflik horizontal. Atas itu, pria 71 tahun tak ingin sejarah pahit bangsa terulang kembali, khususnya ketika Pemilu Legislatif (Pileg) dan Pemilu Presiden (Pilpres) 2019.

“Pemilu damai itu bukan hanya penting, tapi kita harus menguatkan ikatan persaudaraan dan kebangsaan kita dan jangan dibiarkan begitu saja. Semangat kebangsaan dengan Pilpres ini perlu dipererat. Di negara demokrasi mana pun perbedaan itu wajar,” tuturnya.

Salah satu upaya mempersatukan perbedaan yang terjadi di masyarakat saat ini ialah dengan mengamalkan nilai-nilai Pancasila. Seluruh pihak disarankan mengingat kembali ideologi bangsa itu,  yang menjadi wadah untuk mengakomodir seluruh kepentingan dan perbedaan suku, agama, ras dan antargolongan (SARA).

“Perbedaan ideologi, budaya itu hal yang kodrati. Enggak usah dibentur-benturkan. Para pendahulu kita membangun kesamaan dalam satu dasar negara berfalsafah Pancasila. Semua bisa ditampung di situ. Itu adalah bentuk kompromi oleh pendiri bangsa,” jelasnya.

Salah satu hal yang dinilai berpotensi mengancam persatuan dan kedamaian bangsa ialah beredarnya hoaks di ruang publik. Arukat meminta produksi dan penyebaran informasi bohong itu ditindak, tanpa pandang bulu.

“Dengan Pancasila kita bisa bersatu, dan berkembang atau maju bersama. Terkait hoaks tentu harus (penindakannya) dikenakan kepada semua, tidak pandang bulu,” pungkas Direktur Center for Indonesia Comunity Studies (CICS). (RK)