Jadi Beban Semasa Pandemi, Jokowi Diminta Turunkan Biaya Penyeberangan Angkutan Barang

oleh -

Jakarta, Nusantara Pos – Presiden Joko Widodo (Jokowi) diminta menurunkan biaya penyeberangan angkutan barang antara Pulau Jawa dan Pulau Sumatera.

Sebab, di tengah kondisi pandemi Covid-19, biaya penyeberangan dirasakan sangat membebani dan menekan para pekerja angkutan barang.

Permintaan ini disampaikan Serikat Pekerja Angkutan Seluruh Indonesia (SPASI) melalui surat yang telah mereka kirimkan ke mantan Wali Kota Solo.

Ketua Umum SPASI Sugeng Prayitno mengatakan, biaya penyeberangan antara Pulau Jawa dan Pulau Sumatera yang tinggi sangat tidak selaras dengan keinginan pemerintah untuk menekan biaya logistik nasional dengan tujuan mengurangi ekonomi biaya tinggi di sektor transportasi

“Sesuai dengan arahan Bapak Presiden RI untuk percepatan pemulihan ekonomi nasional yang berdaya saing dan berdaya guna, kami selaku serikat pekerja di sektor angkutan barang antar pulau telah berdiskusi dengan salah satu perusahaan pelayaran nasional yang bersedia untuk mengoperasikan kapal roro dari Pelabuhan Merak Mas ke Pelabuhan Panjang dan sudah berinvestasi beberapa kapal roro berkapasitas besar untuk mengurai kemacetan dan menekan biaya logistik antar pulau tersebut,” ujar Sugeng, Kamis (13/8/2020).

Menurut Sugeng, data searates menunjukkan, Indonesia hanya memiliki 15 terminal kargo. Rinciannya di Jawa ada empat yang berlokasi di Cilegon (Banten), Tanjung Priok (Jakarta), Semarang (Jawa Tengah), dan Surabaya (Jawa Timur).

Sementara di Sumatera, terdapat tujuh terminal kargo yang terdiri dari Belawan (Sumatera Utara), Perawang (Riau), Panjang (Lampung), Padang (Sumatera Barat), Jambi, dan dua di Palembang (Sumatera Selatan).

“Dimana pembukaan jalur roro dari Pelabuhan Merak Mas ke Pelabuhan Panjang sudah sangat memenuhi kepentingan untuk mengangkut cargo dari Pulau Jawa dengan terminal Cargo di Pelabuhan Panjang,” jelasnya.

Namun, lanjut Sugeng, niat baik untuk menekan biaya logistik dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya di Pulau Jawa dan Pulau Sumatera, masih terhambat lantaran belum diizinkannya pengoperasian kapal roro tersebut.

“Menurut perhitungan kami setelah kami mengadakan pembicaraan dengan operator pelayaran dimaksud, penghematan yang bisa kami dapatkan selaku perusahaan logistik dengan kehadiran kapal roro dari Pelabuhan Merak Mas ke Pelabuhan Panjang kurang lebih sekitar Rp 500 ribu per truk,” papar dia.

Berikut rincian penghematan yang bisa dilakukan, menurut SPASI:

1. Biaya BBM dari Pelabuhan Bakauheni menuju Pelabuhan Panjang (Jarak 85 Km)= 42,5 Liter Solar x Rp 9.500,- /Liter= Rp 403.750,-

2. Biaya Tol dari Bakauheni menuju Tol Lematang= Rp 84.000,-

3. Biaya Sparepart + Ban + Oli= Rp 1.000/Km x 85 Km= Rp 85.000,-

Total biaya yang dapat dihemat= Rp 572.750,- /truk

“Dari data yang kami dapat dari anggota kami, asumsi truk yang menyeberang dari Pulau Jawa dan Pulau Sumatera diperkirakan sebanyak 3.500-4.000 truk per hari, apabila kami dapat penghematan sebesar Rp 572.750 dikalikan dengan 4.000 unit truk per hari maka penghematan biaya logistik nasional sebesar Rp 2.291.000.000  per hari atau dengan total sebesar Rp 836.215.000.000 per tahun,” jelas Sugeng.

“Dengan ini kami memohon kepada Bapak Presiden agar meminta Bapak Menteri Perhubungan RI untuk bisa segera merealisasikan program pelayaran dari Pelabuhan Merak Mas ke Pelabuhan Panjang sehingga perusahaan logistik nasional lebih dapat bersaing secara efisien dan akan berdampak terhadap penurunan biaya logistik nasional khususnya di Pulau Jawa dan Pulau Sumatera,” imbuhnya.