Terima Penghargaan “Top 10 Most Outstanding People 2018” Maximus Tipagau Sejajar Dengan Tokoh Nasional

oleh -

NusantaraPos – Tokoh pemuda Papua, Maximus Tipagau menerima penghargaan “Top 10 Most Outstanding People 2018” dari majalah Infobank. Acara penghargaan tersebut diadakan di Ballroom Grand Hyatt Hotel, Jakarta, Jumat (11/05/2018).

Seusai menerima penghargaan, Maximus Tipagau mengatakan saya merasa belum melakukan banyak hal untuk bangsa dan negara, dan lebih khusus lagi bagi Papua. Seperti kita tahu luas Papua ini lima kali lipat dari pulau Jawa, Papua juga memiliki pesisir serta gunung.

“Namun kehidupan di pegunungan begitu sulit, karena belum ada pertumbuhan baik di tingkat pendidikan, kesehatan maupun ekonomi. Terlebih di tingkat ekonomi di sana tidak berjalan semestinya, karena harga-harga kebutuhan masyarakat di pegunungan itu lebih mahal,” ujarnya.

Maximus menggambarkan bagaimana kehidupan di Papua itu masih sangat jauh dari harapan karena tertinggal dari daerah lainnya. Meskipun begitu, Maximus tetap semangat dengan membantu saudara-saudara di Papua dengan hasil jerih payahnya.

“Dalam keadaan seperti ini, saya seorang Maximus yang tidak memiliki jabatan apapun di Indonesia ataupun Papua. Tapi saya memiliki cinta kasih. Usaha saya dalam bisnis yang saya miliki dengan ini saya termotivasi untuk lebih lagi membantu saudara-saudara di Papua melalui yayasan tanpa melihat perbedaan,” kata Maximus.

Bahkan, lanjut dia, saya memiliki mimpi memberikan bantuan bukan hanya di Papua tapi secara umum di Indonesia. Artinya dapat piagam atau penghargaan ini, agar kita dapat lebih berbakti kepada bangsa dan negara lebih khusus lagi di Papua.

Maximus bercerita saat dirinya berjuang tidak mendapatkan dukungan dari pemerintah baik daerah maupun pusat.”Fakta dalam beberapa tahun ke belakang ini, hampir semua proposal yang saya ajukan ke pemerintah daerah ataupun pusat serta instansi terkait tidak pernah dijawab sehingga bagi saya itu gagal maka dari itu lebih baik saya berusaha sendiri,” katanya.

“Dengan usaha itu kita bisa membantu saudara-saudara yang ada di Papua dan saya berhasil dengan itu. Menurut saya apa yang Tuhan beri ke saya itu yang bisa membantu saudara-saudara,” paparnya.

Maximus menjelaskan saya telah memiliki Yayasan Somatua, dimana yayasan ini sudah terbentuk secara hukum sejak 2008, sampai hari ini kami telah melayani masyarakat seperti dokter terbang, kami juga mempunyai pertanian kopi, dan kami telah membangun sekolah TK di Timika, rencananya kami akan membangun satu sekolah lagi di Sugapa. Selain itu kami juga telah membuat kegiatan kecil, puji Tuhan menurut saya itu berjalan.

Kalau Papua ini dari dahulu kala Tuhan sudah kasih kaya raya, sampai kapan pun Papua itu kaya. Sekarang orang Papua tidak boleh hidup meminta-minta atau mengharap pada orang lain. Tapi bagaimana orang itu menjadi sebuah kekuatan membantu orang Papua. Dan orang Papua juga bisa berubah asal mereka mau bekerja, roti itu tidak turun dari langit.

Tetapi kita harus kerja keras, orang akan melihat dan membantu ketika kita bekerja keras. Bagaimana orang lain ingin membantu jika kita sendiri menjadi orang malas. Kalau dengan pola seperti itu kapan pun orang Papua tidak akan maju, tetapi dengan kegiatan saya itu mungkin memberikan inspirasi dan motivasi kepada orang Papua.

Sekaligus memberikan edukasi agar orang Papua berpikir ayo kita berubah, ayo kita bisa. Kenapa orang lainnya maju sementara orang Papua yang tubuhnya gagah-gagah tapi mentalnya lembek, ini tidak boleh seperti itu lagi. Jadi kegiatan saya bukan seperti mencari pangkat, jabatan ataupun uang tetapi ini bagian dari bentuk berbakti untuk bangsa dan negara serta orang Papua.

Jangan kalah sama Maximus,tambah dia, yang tidak sekolah tinggi, tidak belajar tinggi tapi dapat bekerja dan melakukan sesuatu. Jangan mau kalah khususnya kepada adik-adik yang sudah bekerja dan sekolah di pulau Jawa harus lebih dari saya dan kakak-kakak saya yang saat ini ada di eksekutif, legislatif, di pemerintahan, birokrasi dan DPR. Jangan sampai kalah, kalau ada kekurangan kita, saya akan belajar itu menjadi kekuataan untuk lebih baik. Bukan mengejekkan, bukan mengkritik orang, bukan mendemo orang, bukan memfitnah orang lain.

“Pekerjaan yang kita lakukan adalah memberikan inspirasi kepada orang Papua, saya hanya motivator untuk anak Papua kenapa saya dipilih mendapatkan penghargaan ini karena saya mungkin dianggap sebagai seorang motivator itu tadi,” tutupnya.(Hari.S)