Garuda Malang Peringati Haul Gus Dur Ke-11

oleh -

Malang, Nusantarapos – Gerakan Gusdurian Muda (Garuda) Malang mengadakan acara Haul Gus Dur yang ke sebelas pada hari Jumat (08/01/2021).

Dengan mengusung tema “Menggerakkan Nilai, Merawat Indonesia”, acara yang digelar secara virtual via zoom itu menghadirkan empat tokoh lintas iman sebagai pembicara dalam diskusi. Adapun ke empat tokoh lintas iman tersebut antara lain K.H Husein Muhammad, Bondhan Rio, Samnera Jayasarano, dan Yohannes Gani Sukarsono.

Ketua Pelaksana acara, Suryo Atmojo, mengatakan, Haul Gus Dur merupakan acara rutinan yang digelar untuk mengenang wafatnya Gus Dur. Acara ini sudah berlangsung dari tahun ke tahun dengan tema dan konsep acara yang berbeda setiap tahunnya.

“Untuk tahun ini, kita mengadakan haul secara virtual sesuai protokol kesehatan yang ada. Namun demikian, kami tetap mengusahakan agar acara tetap ramai dan tak hilang kesan kebersamaan seperti biasanya”, terang Suryo.

Tidak hanya pembicara, acara yang dimulai sejak pukul 19.00 WIB itu pun dihadiri oleh kawan-kawan dari lintas iman, lintas komunitas, bahkan lintas usia. Acara dibuka dengan tebar sapa dan ramah tamah kepada para peserta zoom, lalu dilanjutkan dengan sambutan ketua pelaksana, perwakilan penggerak, juga presidium gusdurian Jawatimur yang diwakili oleh Kristanto Budiprabowo.
Selain itu, tahlil dan tawasul turut dilaksankan sebelum acara inti dimulai.

Tepat pada pukul 19.30, diskusi lintas iman yang menjadi acara inti dimulai. Dimoderatori oleh Dyah Monika, K.H Husein Muhammad mengisi giliran pertama untuk memaparkan materi. Ia banyak berkisah tentang Gus Dur dan hubungannya dengan aktivitas kemanusiaan, menggali nilai-nilai Islam yang ramah, dan membacakan beberapa syair yang ia gurat untuk Gus Dur,sebagai rasa rindu sekaligus pesan terhadap para peserta zoom di tengah disrupsi dari tantangan paham transaksional.

Pemateri selanjutnya ialah Bondhan Rio. Penganut Penghayat Kepercayaan ini menggali gagasan Gus Dur yang dapat memberikan spirit kepada generasi muda untuk menggerakkan kearifan lokal di era milenial seperti sekarang ini. Berdasarkan pengalaman yang ia lakoni saat bersama Gus dur di tahun 1999, ia menilai, PR penggerak adalah memperjuangkan hak untuk saling menghormati agama dan kepercayaan, sebagai usaha untuk melanjutkan apa yang diperjuangkan Gus Dur.

Sementara itu, Samnera Jayasorano memberikan sebuah pandangan terhadap nilai-nilai Budha yang memiliki kesamaan dengan apa yang diaktualisasikan dan diajarkan dari konteks toleransi Gus Dur. Perwakilan dari agama Budha ini mengutarakan pendapatnya, bahwa substansi yang dibangun antara Gus Dur dan nilai Budha terletak pada bagaimana mewujudkan peradaban dimana manusia mampu untuk saling mengerti dan memahami.

Sebagai pamungkas, Yohannes Gani Sukarsono, seorang Romo dari Gereja Katolik Paroki Santo Vincentius A.Paulo Malang, menyampaikan gagasanya dengan meninjau dari segi ajaran Katolik tentang gerakan kerukunan untuk merawat Indonesia. Romo yang dikenal sebagai pemerhati anak dan kaum miskin tertindas itu menggarisbawahi komunikasi sebagai alat terpenting untuk hidup bersama dalam keberagaman. Sebagaimana Mahatma Gandhi, ia menganggap bahwa Gus Dur adalah Nurasi Bangsa Indonesia, dan itulah yang hendaknya dirawat selalu oleh seluruh masyarakat Indonesia.

Setelah pemaparan dari para pemateri usai dilaksanakan selama 60 menit, diskusi berlanjut dengan sesi tanya jawab selama 10 menit. Acara dilanjutkan dengan selingan musikalisasi puisi dan syiir tanpa wathon yang dikemas dalam panggung apresiasi. Panggung apresiasi tersebut digelar secara live di Kedai Arfat dan diramaikan oleh para penggerak dan perwakilan lintas komunitas.

“Meski banyak kendala dan kekurangan, semoga acara ini bisa menjadi api semangat bagi kami semua untuk terus merawat nilai Gus Dur dan menjaga kebersamaan diantara para penggerak”, ucap Suryo saat menyampaikan sambutan singkatnya usai mengumandangkan syiir tanpa wathon.

Acara ditutup secara resmi oleh pembawa acara tepat pukul 22.00 WIB dengan do’a lintas iman yang diwakili oleh tokoh lintas iman dan kepercayaan. Meski begitu, acara yang diikuti oleh kurang lebih 53 peserta ini tetap berlangsung dengan bincang santai dan temu kangen dari para penggerak dan lintas komunitas.

“Ini adalah zoom acara Haul yang paling keren. Semua berjalan sangat alamiah dan merdeka. Pesan-pesan yang disampaikan jadi sangat kuat terasa.”, demikian adalah kesan yang disampaikan oleh Kristanto Budi Prabowo, selaku persidium Jatim dan sesepuh garuda malang.