Ketua RDN Percaya Kebhinekaan di Indonesia Masih Ada

oleh -
Ketua Rumah Doa Nusantara, Brian Pattiasina (kiri) sedang mendoakan agar Indonesia tak terpapar oleh kelompok intoleransi dan radikalisme.

Jakarta, NUSANTARAPOS.CO.ID – Meskipun beberapa waktu lalu Indonesia sempat dirong-rong oleh kelompok-kelompok radikal yang berniat memecah belah persatuan Indonesia. Namun pasca Pilpres keadaan tersebut sudah mulai pulih dan terlihat bagaimana antar masyarakat masih tetap bersatu dalam perbedaan.

Ketua Rumah Doa Nusantara (RDN) Brian Pattiasina mengatakan kami yang berkumpul pada malam ini adalah para tokoh lintas agama yang peduli akan persatuan dan kesatuan Indonesia. Untuk itu kami mendoakan agar Indonesia tetap bersatu sampai kapanpun, tidak ada lagi kata mayoritas maupun minoritas.

“Kami yakin Kebhinekaan di Indonesia itu masih ada, dan akan tetap ada sampai kapanpun. Meskipun sempat terkoyak oleh sekelompok orang yang tidak ingin Indonesia bersatu,” katanya dalam acara Indonesia Berdoa di rumah susun (rusun) Marunda, Jakarta Utara, Jumat (26/7/2019) kemarin.

Para tokoh lintas agama bergandengan tangan usai acara “Indonesia Berdoa” di Rusun Marunda.

Sementara itu, Pembina Gerakan Anti Intoleransi dan Radikalisme Haidar Alwi menyatakan dipilihnya Rusun Marunda karena di sini memiliki spesifikasi rusun terbesar di Indonesia, dimana penduduknya sangat majemuk karena terdiri dari berbagai macam suku, agama dan budaya semuanya ada di sini. Sehingga rusunawa Marunda ini bisa dikatakan sebagai miniaturnya Indonesia.

“Kegiatan ini adalah embrio dari gerakan besar yang akan kami lakukan di seluruh wilayah untuk tetap menyuarakan persatuan Indonesia, dalam rangka mencegah dan memberangus habis kelompok intoleran dan radikal dari bumi Indonesia,” ujarnya.

Menurut Haidar, radikalisme dan intoleran yang paling besar untuk bergerak itu biasanya dari grassroot (bawah).”Gerakan tersebut terus bergerak dari bawah ke atas, seperti halnya di Indonesia sekarang mudah dikeni karenaya memiliki ciri sangat khas. Untuk itu kita perlu berhati-hati, terlebih saat ini ASN (Aparatur Sipil Negara) dan karyawan BUMN sudah banyak yang terpapar radikalisme,” tegasnya.(Hari.S)