Instruksi Jokowi untuk Stop Produk Impor Tidak Digubris

oleh -
H. Amiruddin dari Pemerhati Barang Impor Indonesia (PBII) saat meninjau ke lapangan mendapatkan produk tekstil impor menjamur di Jakarta.

Jakarta, NUSANTARAPOS.CO.ID – Produk impor terutama tekstil dari Tiongkok (China) masih menghantui pengusaha usaha mikro kecil menengah (UMKM) di dalam negeri. Pasalnya akibat membluknya produk impor yang disebabkan oleh perang dagang antara China dan Amerika banyak industri UMKM yang mengalami kerugian dan bahkan sampai gulung tikar.

Untuk mencegah hal tersebut, maka pemerintah harus lebih memperhatikan nasib para UMKM dalam negeri agar lebih bisa meningkatkan pendapatannya. Karena yang mengalami kerugian bukan hanya si pengusaha UMKM, tetapi tenaga kerja (karyawan) yang selama ini ikut mengandalkan pendapatan dari UMKM tersebut banyak yang menderita karena adanya pengurangan tenaga kerja.

Salah satu produk impor dari Tiongkok yang di kawasan Mangga Dua.

Menanggapi hal tersebut, H. Amiruddin Pemerhati Barang Impor Indonesia (PBII) merasa prihatin dengan serbuan produk tekstil impor, padahal kualitas produk di dalam negeri tidak kalah dengan mereka (impor,red). Harusnya pemerintah bisa lebih memperhatikan keluhan UMKM dalam negeri yang hidupnya mengandalkan produk yang dihasilkannya tersebut.

“Produk impor yang membanjiri Indonesia khususnya DKI Jakarta bukanlah dongeng belaka, karena kami telah turun langsung ke lapangan untuk mengecek keberadaan produk tekstil tersebut. Salah satu produk tekstil yang kami temukan berada di kawasan Mangga Dua, Jakarta Utara dimana di salah blok bagaikan surganya barang impor dari Tiongkok,” ujarnya saat ditemui di bilangan Senen, Jakarta Pusat, Senin (16/12/2019).

Di kawasan tersebut, lanjut Amiruddin, harga 1 stell baju hanya Rp 37.000, celana leging anak Rp 28.000 (minimal pembelian 1 kodi), celana anak motif kartun Rp 35.000 (minimal pembelian 1 lusin), baju kaos 1 lusin 3 warna kisaran Rp 300.000 – Rp 400.000, baju dress 3 motif Rp 36.000 (minimal 1 lusin), dan baju dress anak bahan kaos Rp 30.000 (minimal 1 kodi).

Deretan toko yang menjual produk tekstil dari Tiongkok.

“Dengan harga jual yang murah dan kualitas cukup bagus, sudah tentu para UMKM kita gelisah. Apalagi ada indikasi bahwa produk tekstil impor dari Tiongkok tidak memiliki izin dan dan membayar pajak sehingga negara bisa dirugikan atas hal tersebut,” katanya.

Maka dari itu, tambah Amiruddin, kami berharap pemerintah harus segera bergerak mengatasi produk-produk impor yang ilegal agar UMKM dalam negeri bisa dilindungi. Jika tidak maka akan sangat berdampak terhadap kemajuan ekonomi di Indonesia.

“Meskipun beberapa waktu lalu Pak Presiden Jokowi telah memberikan statement untuk membatasi produk impor, akan tetapi hal tersebut belumlah cukup karena di lapangan produk impor masih membanjiri pasar dalam negeri. Saya ingin agar Pak Presiden menindak jika ada oknum-oknum yang bermain di dalam pelolosan impor ilegal tersebut,” tegas Amiruddin yang juga salah satu relawan Jokowi sejak periode pertama.