Kasus Jiwasraya, Relawan Yakin Moeldoko Tak Terlibat dan Dipertahankan Jokowi

oleh -
Teddy Syamsuri dari relawan Join Metal bersama Menteri BUMN Erick Thohir.

Jakarta, NUSANTARAPOS.CO.ID – Baru-baru ini seseorang yang mengaku salah satu relawan Jokowi dan mantan aktivis 98 mencerca Kepala Staf Presiden (KSP) Jenderal (Purn) TNI Moeldoko sebagai pejabat tidak becus dan terindikasi terlibat dalam kasus korupsi Jiwasraya.

Serangan itu disebarkan di media sosial (medsos) oleh Aznil Tan setelah dirinya gagal menjadi Tenaga Ahli Utama KSP. Aznil Tan bahkan sampai meminta Presiden Jokowi mencopot mantan orang nomor satu di TNI tersebut dari KSP.

Ocehan dan cercaan Aznil Tan ini dinilai oleh Aktivis Join Metal (Jokowi-Maruf Amin Menang Total), Teddy Syamsuri, sebagai nyanyian sumbang, sangat memalukan, naif dan provokatif, beraroma sakit hati dan dendam kesumat, sehingga yang keluar adalah sumpah serapah dan hasutan.

“Diksi-diksi yang digunakannya mirip seperti pertarungan hoaks, ujaran kebencian, fitnah, hujatan dan hasutan seperti ketika masa kampanye pilpres 2019 yang lalu,” ujar Teddy di Jakarta, Kamis (6/2/2020).

Menurut Teddy, relawan lebih percaya pada kehati-hatian dan ketelitian Jokowi dalam memilih skuad kabinet dan pejabat-pejabat penting, termasuk dalam hal penetapan Moeldoko sebagai KSP pada periode keduanya.

“Dalam tuduhan keterlibatan Moeldoko di kasus korupsi Jiwasraya, Aznil Tan menyebut untuk kepentingan pilpres, artinya Aznil Tan menuduh bahwa sebagian dana kampanye 01 berasal dari Jiwasraya, karena Moeldoko ketika itu posisinya sebagai Wakil Ketua TKN, sesuatu yang diharamkan oleh Jokowi, dan Moeldoko pasti tak akan berbuat sebaliknya, Pada kenyataannya Kejagung sudah menetapkan 5 tersangka, dan tidak ada nama Moeldoko,” katanya.

Dalam ocehannya, lanjut Teddy, Aznil Tan menyebut Moeldoko mengangkat mantan lawan politik Jokowi sebagai tenaga Ahli dan sebagian besar Penasihat, padahal Presiden Jokowi juga telah mengangkat Ali Muchtar Ngabalin sebagai Tenaga Ahli Utama KSP dan memberikan jabatan Menteri Prabowo dan Edi Prabowo

“Aznil Tan juga menyebut gaji Penasihat yg diangkat Moeldoko bergaji 50 juta, padahal dia tahu bahwa Penasehat tidak ada dalam nomenklatur, bagaimana bisa menggaji mereka, dan lagi pundi-pundi uang mereka sudah milyaran bahkan trilyun. Kalau mereka menerima gaji 50 juta, apakah logis ?? Itu pasti merendahkan kelas dan martabat,” terangnya

Menurut Teddy Syamsuri, Pengangkatan Penasihat bersifat personal karena kebutuhan bahwa Moeldoko memerlukan sumbangsih pemikiran para ahli untuk mensukseskan tugas-tugasnya yang kompleks, kalau ternyata Moeldoko tidak menggaji mereka, justru merupakan terobosan yang brilian, seperti Ahok yang membangun lintas Semanggi tanpa uang negara.

“Jadi selain pandai membuat tuduhan halusinasi cenderung fitnah Aznil Tan juga piawai dalam membuat dan menyebarkan hoax, relawan jadi ragu apakah mungkin Aznil Tan benar murni pendukung Jokowi, kegaduhan yang dibuatnya sangat murahan, bermuatan hoax, ujaran kebencian dan fitnah, atau Aznil Tan hanya digunakan sebagai pion, dan ada pihak lain yang berkepentingan bermain didalamnya,” katanya.

Lebih lanjut Teddy mengungkapkan media online yang dipakai Aznil Tan untuk memuat dan mengangkat ocehannya adalah link berita berinisial KATTA, sebuah media online yang memuat berita setengah jadi tanpa check and rechek ke pihak-pihak berwenang atau yang terkait, atau berita hoax, yang penting bisa meramaikan jagad maya, dan meraup banyak pundi recehan. Media super hoax seperti inilah yang selalu bermain untuk saling menjatuhkan baik pada pilpres, pilkada, atau untuk kepentingan kepentingan tertentu, lambat lain pasti konspirasi hoax Aznil Tan ini pasti terbongkar

“Saya dan kawan-kawan relawan malah bersyukur bahwa Aznil Tan akhirnya tertolak di staf KSP. Kalau saja Aznil jadi bertengger di lingkungan istana, saya yakin pasti akan rusak susu sebelanga. Keagungan istana akan tercabik oleh karakter performa dan kinerja Aznil Tan yang minus tak sebanding dengan Johan Budi atau Ali Muchtar Ngabalin,” terangnya.

Aznil Tan mengaku aktivis 98, tapi beda jauh karakter dengan Adian Napitupulu dan lain-lain yang dukung Jokowi tanpa reserve. Karena bukan untuk Jokowi pribadi, tapi untuk NKRI dan untuk rakyat Indonesia. Fakta Adian yang dipanggil langsung dan ditawari posisi oleh Presiden Jokowi, tapi dia menolak dengan elegan, itulah kepribadian relawan sejati. Relawan sangat yakin pasti pak Jokowi juga tidak suka dengan kegaduhan seperti yang dibuat Aznil Tan.

“Rakyat sangat tahu kinerja yang berkualiatas KSP Moeldoko dalam membentengi Presiden Jokowi dari berbagai hujatan dan serangan lawan-lawan politik dan pemecah belah bangsa, jadi relawan lebih yakin bahwa Presiden Jokowi lebih mempercayai dan mempertahankan KSP Moeldoko, dibanding Aznil Tan yang ternyata pemroduksi hoax dan ujaran kebencian,” tegas aktivis senior tersebut.