Diperlukan Kekompakan Keluarga untuk Menghadapi Pandemi Covid-19

oleh -
Alppind DKI Jakarta mengadakan seminar online bertemakan "Ketahanan Keluarga di Masa Pandemi".

Jakarta, NUSANTARAPOS.CO.ID – Pandemi Covid-19 yang berlangsung sejak April lalu secara drastis telah mengubah cara hidup seluruh warga dunia. Tak terkecuali keluarga-keluarga Indonesia. Perubahan ini mau tak mau harus dijalani oleh 270 juta penduduk dan 80.844.126 keluarga Indonesia (estimasi BPS 2020).

Survei yang dilakukan BKKBN selama masa pendemi Covid-19 di Jawa dan Sumatera saja menunjukkan hampir 95% keluarga mengalami stres akibat pandemi dan berbagai pembatasan yang diberlakukan. Sumber stres berasal dari dua hal. Pertama, akibat kekhawatiran tertular covid-19, hingga tingkat berlebihan. Kedua, dampak ekonomi yang timbul karena menurun penghasilannya.

Trend kecemasan dan stres juga terjadi secara global. WHO menyebutkan stres dan kecemasan muncul akibat pembatasan kehidupan sosial akibat pandemi. Laporan kenaikan KDRT juga terjadi di Belgia, Bulgaria, Perancis, Irlandia, Rusia, Spanyol, dan Inggris.

Kapan pandemi ini berakhir? Entah kapan. Namun harapan harus tetap dipupuk. Salah satunya dengan menahan dan mengelola agar dampak pandemi tak mempengaruhi ketahanan keluarga-keluarga Indonesia dengan cara membuat berbagai penyesuaian dalam kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat.

Ketahanan keluarga bersifat multidimensi. Namun mengacu pada definisi dari Kementerian Perlindung­an Perempuan dan Pemberdayaan Anak, disebutkan ada 5 dimensi ketahanan keluarga, yaitu landasan legalitas dan keutuhan keluarga, ketahanan fisik, ketahanan ekonomi, ketahanan sosial psikologis, dan ketahanan sosial budaya.

Menurut survei yang dilakukan BKKBN yang melibatkan 20.680 keluarga diantaranya menyebutkan misalnya soal pengasuhan anak, 21,7% responden menyatakan istri lebih dominan, sementara suami yang dominan soal pengasuhan anak dinyatakan nyaris tak ada. Atau soal siapa yang mengingatkan untuk hidup sehat 12,4% istri lebih dominan, sementara hanya 2,7% saja suami yang dominan. Hal-hal seperti ini tentu saja bisa menimbulkan konflik.

Kabar baiknya menurut survei BKKBN pula di masa pandemi ini, keluarga Indonesia sebanyak 99% mengatakan saling mendukung anggota keluarga, menghindari pertengkaran sebanyak 98,1%, dan sabar menerima kondisi pandemi sebesar 97,7%. Uniknya ada pernyataan selama pandemi sebanyak 2,5% terdapat cekcok pada keluarga yang mungkin bisa memicu perceraian.

Selain berbagai aspek yang mempengaruhi ketahanan keluarga, ada sektor pendidikan bagi anak-anak yang sangat terasa dihantam oleh pola-pola baru akibat pandemi. Masalah muncul mulai dari persoalan fasilitas fisik yang bersandar pada teknologi, tapi juga kesiapan psikologis orang tua dan anak dalam menjalani pendidikan jarak jauh.

Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebutkan lembaganya menerima banyak pengaduan sepanjang 16 Maret sampai 13 Mei. Pengaduannya meliputi 259 pengajuan pembelajaran jarak jauh dan 42 pengaduan terkait keluarga dan pengasuhan alternatif selama masa pandemi.

Menanggapi fenomena tersebut, organisasi Aliansi Perempuan Peduli Indonesia (ALPPIND) DKI Jakarta menyelenggarakan Seminar Online yang mengupas tuntas bagaimana tips dan trik menjaga agar keluarga tetap kompak dan kuat menghadapi berbagai problema semasa pandemi. Termasuk pula bagaimana menghadapi sistem pendidikan jarak jauh yang terpaksa dilakukan anak-anak dalam keluarga.

“Kami berpendapat bahwa menguatkan ketahanan keluarga di masa pandemi ini sangat penting,” kata Ketua Umum ALPPIND DKI Jakarta, Dr. Hj. Khasanah, M.Pd.

Bertajuk ‘Seminar Online Ketahanan Keluarga di Masa Pandemi’, acara ini digelar melalui aplikasi Zoom pada Minggu, 6 September 2020 itu berlangsung mulai pukul 08.00-11.00 dan dihadiri 158 peserta dari berbagai wilayah Indonesia.

Jumlah peserta yang hadir membuktikan pembahasan tema ini sangat dibutuhkan oleh banyak kalangan. Utamanya para orang tua yang ingin menjaga keharmonisan keluarga dan kelancaran pendidikan dan pengasuhan bagi anak-anak mereka.

Para narasumber yang ditampilkan adalah mereka yang sangat berkompeten di bidangnya, baik sebagai akademisi sekaligus sebagai praktisi. Dr. Hj. Aan Rohana, M.Ag, salah satu narasumber menyajikan tema ‘Strategi Penguatan Ketahanan Keluarga di Masa Pandemi’.

“Menurut kami ketahanan keluarga sangat penting karena keluarga adalah milik kita yang paling berharga, menentukanmasa depan kita, tempat melahirkan generasi unggul yang bertakwa dan menentukan peradaban dan kemajuan bangsa dan negara,” ,” kata Dr. Aan Rohana yang saat ini menjadi Pembina Yayasan Da’rul Qur’an Mulia, sekaligus pendiri Alppind ini.

Untuk itu Dr. Aan Rohana beberapa hal yang menjadi dasar strategi penguatan ketahanan keluarga selama masa pandemi. Yaitu
keimanan yang kokoh dengan beriman bahwa pandemi adalah takdir, rajin ibadah, memiliki hati tenang, banyak inspirasi melahirkan banyak kebaikan, bersabar dan berikhtiar maksimal untuk menjaga kesehatan.

Juga disebutkan suami dan istri harus bisa melaksanan kewajiban sebagaimana mestinya sebagai pasangan juga sebagai orang tua. Termasuk pula semua anggota keluarga saling bahu membahu bekerjasama dalam mengatasi semua masalah, juga saling meringankan beban dan tidak banyak menuntut

Tak hanya dari segi psikologis keluarga, Dr. Aan Rohana juga menyebut pentingnya pola hidup sehat, bersikap qona’ah, banyak berdoa, menjaga suasana kehangatan dalam keluarga, saling membahagiakan dan yang tak kalah pentingnya adalah dengan kemampuan mengambil mengambil hikmah dari dampak Covid 19

Hal senada diungkapkan oleh praktisi pendidikan dan Founder Sekolah Insan Mandiri, Dr. H. Karim Santoso, M.Si. “Salah satu hikmah atau kebaikan yang didapatkan dari adanya pandemi Covid-19 ini yaitu kita dapat mendekatkan diri kepada keluarga serta meningkatkan keteguhan iman kepada Allah SWT,” kata Dr. Karim Santoso yang memaparkan tema tentang ‘Memahami Psikologi Anak Sekolah di Masa Pandemi’.

Pendiri Sekolah Insan Mandiri, Dosen dan konsultan pendidikan itu menyebut sekolah menjadi indikator penting dalam perkembangan pendidikan dan sosial anak. Interaksi yang dibentuk melalui pertemuan yang intens dapat membentuk karakter anak.

Namun, berbicara mengenai sekolah di tengah Covid-19 di mana setiap anak harus melakukan sistem pembelajaran jarak jauh, hal ini dapat diformulasikan agar anak mampu untuk melanjutkan pembelajaran jarak jauh. “Ini menjadi tantangan bagi orang tua untuk mampu menyesuaikan dengan kebutuhan anak,” kata Dr. Karim.

Karenanya orang tua harus menyediakan tempat atau ruang yang tenang dan kondusif. “Orang tua sebaiknya mendapatkan SIM (Surat Izin Mengajar) dari anak-anak yang dapat didapat dengan membangun komunikasi yang efektif dengan anak secara intensif,” katanya.

Ada beberapa cara menyiapkan psikologis anak-anak di masa PJJ. “Dekatkan diri pada Allah, bangun bank emosi pada anak dengan menabung kebaikan-kebaikan sejak kecil dan jangan lupa ‘pause’ atau jeda agar anak tak merasa tertekan saat belajar,” katanya.

Jika Dr. Karim Santoso mengajak orang tua untuk lebih memahami psikologi anak selama menjalani pendidikan jarak jauh, hal yang lebih spesifik dan praktis dipaparkan Ketua ALLPIND DKI Jakarta yang juga menjadi pembicara pada sesi ketiga dalam seminar ini.

Dalam tema ‘Menyiapkan Anak Melakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) Sehat, Cerdas dan Berkarakter’, Dr. Khasanah mengajak para orang tua untuk lebih peduli dengan berbagai persiapan yang semestinya dilakukan saat membimbing anak belajar dari rumah.

“Pandemi ini seakan telah memaksa kita untuk bisa berproses lebih cepat dengan menggunakan teknologi yang ada. Pusat pembelajaran terdapat pada anak bukan lagi pada guru. Sehingga keaktifan anak menjadi hal yang perlu diperhatikan oleh orang tua,” demikian diungkapkan Dr. Khasanah, yang adalah juga
Owner Preeschool dan Daycare Rumah Ceria Indonesia, sekaligus Dosen Universitas Islam Assyafiiyah Jakarta.

Orang tua harus menjadi cerminan guru di mata anak. selama pembelajaran online ini, sistem mengharuskan orang tua melakukan pendekatan lebih intensif kepada anak dalam memberikan pendidikan

Tantangan terbesar dalam melakukan sistem daring terletak pada lapisan sosial dengan ekonomi yang lemah. Ini haruslah menjadi bahan pertimbangan pemerintah dalam mengatasi masalah ini.

Karenanya ALPPIND memiliki suatu program yang akan bersinergi bersama dengan pemerintah dimana berusaha untuk menggagas suatu solusi untuk memberikan pelayanan kepada murid-murid yang tidak bisa mengakses pendidikan secara online. Karena tidak semua masyarakat bisa mengakses pendidikan online ini dikarenakan salah satu sebab yang krusial yakni ekonomi keluarga yang tidak menunjang.

Sesi diskusi dan tanya jawab usai pemaparan materi dari narasumber berlangsung cukup meriah menjadi bukti pentingnya upaya menjaga ketahanan dan pembangunan keluarga di masa pandemi sekalipun. Seraya berharap bahwa pandemi segera berlalu, acara seminar ditutup dengan doa dan berfoto bersama.(HSY)