OPINI  

C. Suhadi : Kompas Ceritamu Kini

C. Suhadi, S.H., M.H.

Jakarta, NUSANTARAPOS.CO.ID – Tergelitik saya membaca tulisan Kompas hari ini, walaupun itu hanya sebaris judul “Persatuan dan Kesatuan Republik Yang Menjadi Komitmen Kami“, tidak tanggung-tanggung tulisan tersebut ditulis oleh seorang Ninok Leksono, wartawan senior Kompas yang sudah malang-melintang di dunia jurnalis. Di zamannya, dia adalah sosok wartawan senior yang di miliki Kompas.

Dari carut marutnya wajah Kompas yang dimulai dari hasil survei, kemudian berita peliputan deklarasi pengusaha ke paslon 01 dan paslon 02, dan Kompas utamanya Kompas TV mulai ada yang beda.

Untuk mendukung langkah Kompas yang tidak netral, barangkali cuitan pematung terkenal asal Bali, Nyoman Nuarta bisa dijadikan rujukan. Dalam cuitannya “Saya Lagi Marah Besar Dengan Kompas, Dia Menjadi Tangan 02”. Kemarahan ini bermula dari suatu pertunjukan seni yang mengambil latar belakang kebudayaan Bali, di Theatre NUART, Bandung, Jawa Barat yang merupakan kepunyaan Bapak Nyoman Nuarta.

Dalam pentas seni yang mengambil judul Calonarang, yang dimainkan sekelompok jurnalis yang tergabung di dalam Kompas Grup, dan Rosi sang Presenter Kompas TV dari cuitan itu ada dan menjadi bagian dari acara pentas tersebut. Kemarahan beliau sudah mau ditumpahkan di acara tersebut, namun dilarang oleh pihak keluarga, akhirnya jalan tengahnya sang pematung yang telah menetap di Bandung walk out dari acara pentas tersebut. Karena dianggap pentas seni yang mempunyai nilai budaya tinggi di Bali, telah dijadikan ajang kampanye 02. Bukan itu saja pentas seni itu telah dipakai untuk menjelek-jelekan Jokowi.

Semua orang tahu, Rosi presenter Kompas TV adalah orang yang kritis, cerdas dan tahu apa-apa yang dia lakukan. Namun ternyata tidak demikian setelah Pemred Kompas dipimpin oleh Ninuk Pamudi, Rosi telah berubah arah dari awalnya netral menjadi memihak.

Semua tidak kebetulan, karena Pemred sekarang adalah anak tokoh pejabat tinggi negara di era orba dan sang suami kader salah satu parpol pendukung paslon 02.

Akibat itu semua, Kompas mulai diserang dari segala sudut. Bukan hanya suvei yang belum lama di release tapi juga berita Kompas maupun TV. Dan untuk meredem semua itu, Kompas secara khusus di halaman pertamanya, Kompas menjawab, Persatuan dan Kesatuan Indonesia Yang Menjadi Komitmen Kami. Telah membuat tulisan, tujuannya adalah untuk menengahi isue miring tentang Kompas yang telah menjadi corong parpol, sehingga apapun suguhan beritanya untuk pembaca, terutama pembaca yang kritis termasuk Bapak Nyoman Nuarta terluka dengan sikap Kompas seperti itu. Apa salahnya Pak Jokowi dan apa salahnya pemilu ? Kalau dibungkus dengan netral dan kritis semua pembaca akan suka. Sebab Kompas adalah media yang sangat terpercaya dalam menjaga netralitas kepada pembaca, tidak seperti sekarang Kompas menjadi alat Partai.

Bagi saya salah satu jalan pemecahannya bukan dalam bentuk tulisan, ataupun sanggahan dari seniornya, karena kalau itu terjadi maka kami sebagai pembaca telah beranggapan senior Kompas sedang membela yuniornya yang sedang punya agenda politik. Entahlah…!!!

Penulis : C. Suhadi, S.H., M.H., Pembaca Setia Kompas dan juga Advokat senior