China Antara Jokowi dan Prabowo Soebianto

oleh -298 views

Oleh: Djafar Badjeber, Ketua Bappilu DPP Partai Hanura

China lagi jadi perbincangan politisi Indonesia, khusus Capres 01 dan 02. Jokowi sudah lebih awal melihat peranan China dalam bisnis global. China benar-benar bangkit dari keterpurukan, China berhasil menggeser dominasi USA. China benar-benar menjadi Macan Asia, bukan sekedar wacana.

Beberapa waktu yang lalu para pendukung 02 selalu memojokkan Jokowi seakan-akan pro China dan pro aseng. Hampir tiap hari Jokowi disikat soal kedekatan dengan China. Justru saya melihat Jokowi orang cerdas melihat China telah menggeliat maju pesat dan sudah hampir menggeser kecanggihan USA.

Dalam 25 tahun terakhir, China dalam beberapa hal telah mengalahkan Amerika Serikat, ini sungguh luar biasa.

Belum ada negara lain di dunia ini yang bisa menyaingi Amerika dalam hal apa saja. Keunggulan komparatif China paripurna sejak Deng Shio Ping membawa reformasi, China mengalami perubahan signifikan. Ilmuan China terus berusaha membuat apa saja yang bisa dibuat AS.
China memilki devisa sekitar 7000 T USA, menguasai sekitar 70 persen Tembaga dunia, dan menguasai 40 persen Emas dunia. China mampu membuat jalan tertinggi, terowongan tersulit, Kereta Api cepat dan telah mengalah Amerika dalam hal kuantitasnya.

Selain itu, China berhasil mengintegrasikan ekonomi Euroasia, Afrika dan Timur Tengah. Bisnis China dengan dunia Arab terus terjadi karena adanya simbiosis mutualistis. Salah satu proyek besar dan mahal adalah Silkroad atau lebih dikenal dengan One Belt One Road Policy.

Walhasil, terlalu banyak proyek raksasa China hampir seluruh dunia. Dalam KA super cepat China menggunakan dan melibatkan teknologi baja, metalurgi, material komposit, lokomotof, listrik, komunikasi, telekomunikasi, kontrol otomatis, kontrol keamanan dan kontrol teknik.

Prabowo sadar bahwa China tidak boleh di kesampingkan, meskipun sebagian pendukungnya kurang happy. Mungkin diantara pendukungnya melihat China dalam perspektif lain atau sempit. Olehnya, mau tidak mau Prabowo harus objektif dan realistis.

Dunia Arab yang penuh aturan boleh dan tidak boleh akhirnya membuka diri. Tidak mungkin selamanya menutup diri dalam pergaulan Internasional. Prabowo tentu sangat paham dengan dunia Arab, setidaknya dia pernah tinggal di Yordania beberapa waktu lalu.

Pikirnya, Indonesia yang lebih maju dan terbuka dari dunia Arab mengapa tidak bisa membangun kerja sama dengan China (red-itupun kalau dia terpilih jadi presiden).

Melihat kenyataan itu, semua pemimpin butuh kerjasama dengan negara manapun di dunia, tidak terkecuali Jokowi atau Prabowo. Ini hukum alam dan juga hukum bisnis.

Apapun ide dan gagasan calon Presiden sepanjang menguntungkan, win-win solution. Kerjakanlah yang penting, tidak bertentangan dengan budaya, adat istiadat serta agama.

Ada hal yang berbeda secara diametral antara pekerja Indonesia dan China. Ethos kerjanya sangat disiplin dan pantang menyerah. Kalau ethos kerja kita seperti orang China, saya yakin bukan saja menghapus kemiskinan, tetapi kita makmur!!