Musim Pendemi “Nyawa Rakyat” Bergantung di Tangan Bansos

oleh -

Penulis:Irianto

Ketika tiap orang memikirkan bagaimana bisa memenuhi kebutuhan makan sehari-hari di musim covid-19 ini maka tidak ada lagi tempat untuk memikirkan hal yang lain.Mereka(warga)cenderung tidak segan melanggar aturan protokol kesehatan agar bisa mencari sesuap nasi.Inilah sebabnya peranan bantuan sosial(Bansos)begitu krusial dalam penanganan wabah covid-19.

Sejumlah survei menunjukan masyarakat di Indonesia lebih takut kelaparan ketimbang terinveksi virus korona.Data puluhan dan ratusan hingga seribu orang meninggal pun yang tertular covid-19 yang diumumkan setiap hari tidak mengubah urutan ketakutan tersebut.

Masyarakat Indonesia tidak sendiri,kelaparan pun juga menghantui penduduk di berbagai negara selama masa pendemi,yang hingga kini belum diketahui kapan akan berakhir.Badan PBB World Food Programe memperkirakan lebih dari 250 juta penduduk dunia akan mengalami kelaparan akut per akhir tahun ini dan sekitar 130 juta lainnya berada dalam posisi rentan.

Sayangnya,penyaluran bansos di negeri ini,masih sangat carut-marut.Data yang usang membuat penyaluran bansos banyak tidak tepat sasaran,inipun masih diperparah dengan penyelewengan-penyelewengan dengan berbagai macam modus,mulai dari penggelembungan harga bansos, pemotongan hingga manipulasi data bansos.

Ancaman KPK yang akan menuntut penyalahguna bansos dengan hukuman mati tampaknya tidak cukup menggentarkan.Kita semua berharap instrumen-instrumen pemerintah seperti Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan juga bergerak aktif mendeteksi penyelewengan,bukan hanya sekedar duduk-duduk menunggu umpan balik dari aduan masyarakat.

Penyaluran bansos yang tepat sasaran dan tepat jumlah ibarat sebuah nyawa,bukan hanya bagi rakyat dalam kelompok miskin dan rentan melainkan juga untuk keberhasilan pengendalian wabah covid-19.Istilah penulis”Penularan bisa dihambat,nyawa seluruh rakyat harus terselamatkan.