Mulai Kehilangan Eksistensinya, SBY Didesak Benahi Partai Demokrat

Subur Sembiring (foto Liputan6.com)

Jakarta, NUSANTARAPOS.CO.ID – Eksistensi Partai Demokrat (PD) yang sedikit demi sedikit mulai ditinggalkan simpatisan dan pendukungnya mendesak Forum Komunikasi Pendiri dan Deklarator Partai Demokrat (FKPD-PD) angkat bicara dan berharap Ketua Umum partai berlambang bintang mercy itu mulai membenahinya.

Wakil ketua Umum FKPD-PD, DR Subur Sembiring seperti dikutip dari possore.com mengungkapkan kecemasannya terhadap kelangsungan hidup PD jika kesimpangsiuran pernyataan dan statement pengurus yang dilansir berbagai media massa terus terjadi seperti sekarang.

Dia bahkan menilai pernyataan-pernyataan politik pengurus DPP PD tidak mencerminkan etika politik Partai Demokat yang Cerdas, Bersih dan Santun sebagaimana selalu diungkapkan Ketum PD SBY dalam setiap pertemuan kader.

“Nyaris hilang etika berpolitik yang cerdas, bersih dan santun tersebut dalam setiap pernyataan-pernyataan politik yang terlahir dari pengurus PD saat ini,” tegas Subur Sembiring.

Pernyataan Waketum FKPD-PD itu bisa disaksikan masyarakat umum melalui media televisi, media cetak maupun media online yang sekarang menjadi suguhan menarik setiap hari bagi masyarakat terutama kader dan simpatisan Partai Demokrat yang mengharapkan partainya kembali tampil sebagai partai besar yang pernah mengantar kadernya menjadi Presiden RI dua kali berturut-turut.

Tidak menutup kemungkinan ada oknum-oknum tertentu yang memiliki agenda tersendiri dalam memberikan pernyataan politiknya seakan-akan itu adalah sikap politik partai, padahal keluar dari benak dan niatnya sendiri.

Untuk itu FKPD-PD mendesak SBY sebagai Ketum PD untuk menata kembali carut-marutnya etika politik di dalam tubuh PD dan jangan sungkan-sungkan untuk membersihkan PD dari anasir-anasir yang ingin ‘menghancurkan’ nama besar PD dari dalam.

“Saya tau pak SBY masih dirundung rasa duka yang mendalam atas kepergian Ibu Ani Alharhumah, namun rumah besar ini (Partai demokrat – Red) juga perlu segera dibenahi. Dan hanya SBY yang mampu untuk melakukannya.”

Jejak digital yang sempat ditelusuri atas sejumlah pernyataan-pernyataan politik dan sikap pengurus DPP PD menunjukkan tidak ada satu kata dalam sikap politik PD saat ini, bahkan ada pengurus yang bisa menyalahkan dan menyudutkan ulama dengan lontaran bahasa yang jauh dari kesantunan.

FKPD-PD juga mempertanyakan dualismne dalam berkoalisi pada Pilpres dimana Partai Demokrai bergabung dalam koalisi partai-partai pendukung Prabowo-Sandi, namun pernyataan-pernyataan politik yang terlontar dari beberaspa pengurus PD. seakan-akan PD bermain pada dua kaki.

Memang, lanjut Subur Sembiring, tidak ada koalisi yang abadi tetapi jika berpegang pada etika berpolitik Partai Demokrai, mestinya letupan-letupan perpecahan dalam koalisi tidak terlontar saat ini. “Tunggulah sampai keputusan MK tanggal 28 Juni 2019 nanti.”

Kebingungan terhadap sikap PD itu juga sempat tercuat dari Direktur Advokasi dan Hukum Badan Pemenangan Nasional (BPN), Sufmi Dasco Ahmad meminta Partai Demokrat untuk satu suara dalam koalisi Prabowo-Sandi. Sebab, jika tak satu suara membuat anggota koalisi lainnya bingung.

Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Hinca Panjaitan sebelumnya menegaskan partainya akan tetap bersama BPN Prabowo-Sandi hingga proses gugatan hasil Pilpres 2019 di Mahkamah Konstitusi (MK) selesai. Hal itu dilakukan dengan partai politik koalisi pendukung Prabowo-Sandi lainnya.

Namun ada beberapa pengurus yang dinilai sering bertentangan dengan citra politik santun yang selama ini dibangun oleh SBY selaku Ketua Umum Partai Demokrat. Beberapa kalangan menyebutkan hal itu dinilai mengancam citra Partai Demokrat.

Hal ini juga menjadikan karakteristik Partai Demokrat menjadi tidak jelas di mata publik. Tak lagi sesuai dengan pola pencitraan yang hendak dibangun oleh SBY. Apabila hal tersebut terjadi, bukan tidak mungkin ada konsekuensi penurunan tingkat elektabilitas Partai Demokrat.(Hari.S)