PACITAN,NUSANTARAPOS,- Museum dan Galeri SBY-Ani hari ini, Jumat (16/8/24) memsuki usianya yang pertama. Dalam peringatan tersebut, Soesilo Bambang Yudhoyono, Presiden RI ke-6 beserta para jenderal seangkatannya ikut serta dalam acara tersebut.
Bupati Pacitan, Indrata Nur Bayuaji dalam pidatonya mengatakan mengucapkan terima kasih karena acara tasyakuran ini seperti acara-acara sebelumnya. Dengan ikut sertanya tamu SBY ke Pacitan ini ternyata membawa berkah bagi pengusaha hotel yang ada di Pacitan, karena banyak hotel yang penuh ditempati tamu undangan. “kami berdoa mudah-mudahan ada pengembangan lagi, mungkin ada hotel yang representative di Kabupaten Pacitan. Mudah-mudahan dilancarkan semuanya,” kata Bupati Aji.
Berdirinya museum dan galeri SBY-Ani di Pacitan ini merupakan sesuatu yang luar biasa, dimana ini merupakan sebagai bukti bahwa Pacitan sealalu ada ikatan dengan SBY. “Kalau boleh bercerita, Pacitan ketika saya kuliah sebelum dan sesudahnya jarang yang mengetahui Pacitan. Kalaupun orang Pacitan di luar ditanya biasanya mengakunya bukan orang Pacitan tapi di kota Madiun,” bebernya.
Begitu juga setelah masa tugas berakhir, SBY selalu mengangkat Pacitan melalui museum dan galeri SBY-Ani.
Sementara itu, Soesilo Bambang Yudhoyono yang juga memberikan sambutan, dalam pidatonya mengatakan ucapan terima ksasih kepada Bupati, Wakil Bupati, Forkopimda termasuk Dandim dan Kapolres, jajarn dinas terkait dan dunia usaha hotel-hotel, warung-warung, masyarakat luas dan juga Direktur eksekutif dan karyawan museum atas segala kebaikan penyambutan masyarakat begitu hangatnya.
Selain itu, SBY juga berharap kepada Badan Pertanahan Nasional mudah-mudahan rakyat memiliki sertifikat semua. “Mudah-mudahan mafia tanah bisa diberhangus berikan kemudahan dengan tekhnologi modern agar yang punya hak dinegeri ini punya sertifikat. Tanah itu juga konsep keadilan bukan hanya konsep bisnis atau property,” pungkasnyapintanya.
Lebih lanjut, dengan dibangunnya museum ini bagi SBY merupakan salah satu bentuk tanggungjawabnya kepada rakyat Indonesia, dimana dirinya memahami tentang konsep kekuasaan bagi seorang pemimpintermasuk bagi seorang presiden, dimana kekuasaan itu diperoleh secara sah, secara etis dan konstitusional yang menyangkut darimana kekuasaan itu diperoleh.
“Setelah seseorang mendapatkan kekuasaan, maka kekuasaan itu harus digunakan secara sah, secara etis dan konstitusional dalam arti tidak menyalahgunakan kekuasaan,” pungkasnya.

