Ini Harapan Orang Tua Korban Dugaan Bullying di SD Alam Pacitan

SD Alam Pacitan (Foto: Joko)

PACITAN,NUSANTARAPOS,- Perlakuan dugaan bullying (perundungan) oleh siswa kelas 4B yang terjadi di SD Alam yang terletak di Plelen, Sidoarjo, Pacitan beberapa waktu lalu, akhirnya pihak sekolah melakukan pertemuan dengan orang tua korban dengan hasil memindahkan pelaku ke kelas yang berbeda dan memberikan solusi kepada orang tua korban untuk dilakukan pendampingan selama melaksanakan kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolahnya.

AR nama samara orang tua korban menjelaskan, disaat melakukan musyawarah tersebut juga disambut oleh guru dan juga kepala sekolah. Bahkan menurutnya, pelaku juga sudah dipanggil orang tuanya. Sedangkan untuk korban sendiri, pihak sekolah tidak memaksakan untuk mau sekolah atau tidak selama hingga masa-masa korban, MM mau sekolah lagi.

AR yang merupakan ibu korban dugaan bullying ini mengapresiasi dan menerima solusi yang diberikan pihak sekolah, namun memiliki keinginan ada pendampingan bagaimana cara membangun mental anaknya agar dapat lagi seperti sedia kala. “Untuk tuntutan sebenarnya saya pengin ada pendampingan bagaimana cara membangun mental anak saya biar dia mulai PD lagi mau bersekolah, PD lagi dengan teman-temannya dan sedikit demi sedikit melupakan masalah yang terjadi kemarin, tapi untuk secepat mungkin ya itu tidak mungkin karena memang harus butuh pelan-pelan dan harus butuh kontrol dari rumah sebagai orang tua saya dari sekolah ya dari pihak sekolah, gurunya atau dari teman-temannya atau dari guru-guru yang lain, paling enggak saling mengerti saja bagaimana cara membangun mental anak saya kembali,” katanya kepada wartawan, Minggu (16/2/25).

AR juga menambahkan, untuk yang paling bagus semestinya dalam pendampingan kepada anaknya dan pelaku ini seharusnya dilakukan oleh psikolog untuk memantau perkembangan kedua belah pihak sehingga dapat diketahui penyebab dari permasalahan pelaku serta perkembangan mental yang dihadapi oleh korban. “Yang paling bagus ya memberikan pendampingan dari psikolog untuk menanyakan kedua belah pihak biar kita tahu ada apa dengan mental si korban dan ada apa dengan perilaku si pelakunya tersebut,” terangnya.

Dengan kejadian ini, orang tua korban berharap pihak sekolah untuk lebih cepat tanggap menyikapi permasalahan baik itu kepada murid maupun guru dengan sesegera mungkin mengkomunikasikan kepada orang tua murid. “Kalau memang dapat diselesaikan dengan cepat kenapa harus berlama-lama. Komunikasi kepada orang tua murid juga diperlukan dalam segala hal di tempat pendidikan manapun. Harusnya berkomunikasilah dengan orang tua juga kalau ada hal yang terjadi di sekolah. Karena memang pengennya saya sebagai orang tua ya dapat kabar yang pertama dari pendidik bukan dari anak saya jika terjadi di sekolah,” pungkasnya.