LAHAT, NUSANTARAPOS – Peringatan Hari Santri Nasional di Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan, Rabu (22/10/2025), berlangsung istimewa. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, perayaan kali ini diwarnai dengan aksi solidaritas dan dukungan bagi kemerdekaan Palestina.
Sejak subuh, puluhan ribu warga dari berbagai pelosok kecamatan dan desa berdatangan ke pusat kota Lahat. Dua titik utama, Tugu Patung Si Pahit Lidah dan Stasiun PJKA, menjadi lokasi berkumpulnya massa untuk mengikuti Apel Hari Santri Nasional. Lautan manusia yang berjumlah sekitar 50 ribu orang dengan pakaian putih dan hitam itu membentang sejauh 3 kilometer, membawa semangat santri dan pesan kemanusiaan.
Usai apel, massa melanjutkan kegiatan dengan pawai akbar atau long march menuju Lapangan Eks MTQ, tempat acara utama diselenggarakan. Sepanjang perjalanan, peserta pawai diiringi dentuman drumband dan orasi dari mobil komando. Yang paling mencuri perhatian adalah bentangan bendera Merah Putih dan bendera Palestina sepanjang 1,5 kilometer. Bendera raksasa itu menjadi simbol persaudaraan dua bangsa yang sama-sama memperjuangkan kemerdekaan dan keadilan sejati.
Pawai akbar ini merupakan bentuk solidaritas global untuk Palestina. Sejumlah tokoh nasional hadir dan menyampaikan orasi kemanusiaan dalam berbagai bahasa. Mereka antara lain Hariman Siregar (tokoh Malari), Connie Rahakundini Bakrie (Guru Besar dari St. Petersburg State University, Rusia), Syahganda Nainggolan (Direktur Great Institute), Nasrullah (Ketua Umum Keluarga Besar PII), serta Irma Hutabarat, jurnalis senior.
Selain orasi, kegiatan juga diisi dengan penggalangan dana kemanusiaan untuk rakyat Palestina.
Palestina Ada di Hati Kita
Dalam sambutannya, Bupati Lahat, Bursah Zarnubi, menegaskan bahwa acara ini bentuk komitmen moral untuk membela kemanusiaan. Ia menyebut penderitaan rakyat Palestina telah berlangsung lebih dari 70 tahun.
“Jutaan orang Palestina terpaksa meninggalkan tanah air mereka mencari tempat yang aman di berbagai penjuru dunia. Hampir satu juta orang telah menjadi korban. Hari ini, Lahat ingin menyampaikan pesan kepada dunia: Palestina ada di hati kita, rakyat Indonesia,” ujar Bursah.
Ketua Umum APKASI ini juga mengingatkan kembali sejarah solidaritas kedua bangsa. “Jangan lupa, bangsa Palestina adalah salah satu yang pertama mendukung kemerdekaan Indonesia pada tahun 1944,” kata Bursah.
Dia mengingatkan pidato Bung Karno bahwa selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada rakyat Palestina, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menentang Israel.
Bursah tampak terharu saat melihat kekompakan dan keikhlasan masyarakat Lahat memberikan donasi untuk Palestina. Hingga akhir acara terkumpul dana lebih dari 500 juta untuk disumbangkan ke rakyat Palestina.
“ini bukan nilai besar-kecilnya sumbangan, sebutir gandum pun akan sangat berharga mengurangi penderitaan rakyat Palestina,” kata Bursah penuh haru.
Suara dari Kaki Bukit Serelo
Dalam orasinya yang disambut riuh peserta, Connie Rahakundini Bakrie menyerukan pentingnya keadilan global dan reformasi hukum internasional. Ia berbicara dalam Bahasa Indonesia yang diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh Adlina Zatalini Bursah. Connie bersuara lantang dan berharap dari kaki gunung Bukit Selero teriakan keadilan dan kemanusiaan dari masyarakat Lahat akan didengar oleh dunia internasional.
“Berbicara Palestina berarti berbicara tentang solusi politik dan struktur keadilan dunia. Gaza dan Palestina membutuhkan Marshall Plan untuk membangun kembali peradaban dan martabatnya,” ujarnya.
Connie menegaskan, dunia tidak boleh dibiarkan tunduk pada kekuatan yang mengabaikan keadilan. “Sebagai bangsa beradab, kita harus menempatkan etika sebagai pondasi politik global. Palestina adalah cermin nurani dunia, dan cermin itu dimulai dari Lahat,” katanya.
“Apakah dunia harus membiarkan hukum ditentukan oleh kekuatan, atau kekuatan ditentukan oleh keadilan? Dan keadilan itu, harus dimulai dari Lahat,” tegas Connie.
Acara yang diinisiasi berbagai kelompok masyarakat di Kabupaten Lahat ini mendapat dukungan penuh dari pemerintah daerah.
Dalam semangat perjuangan untuk Palestina, masyarakat Lahat bersatu melampaui sekat golongan dan identitas. Para tokoh masyarakat, ulama, pemuda, partai politik, dan forum lintas agama berdiri dalam satu barisan untuk memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan.
“Bagi masyarakat Lahat, kegiatan ini merupakan wujud kesadaran sejarah dan tanggung jawab moral terhadap perjuangan Palestina Merdeka,” ujar ketua pelaksana, Parisman.
Dikatakannya, Masyarakat Lahat ingin menegaskan bahwa apa yang disuarakan Presiden Prabowo Subianto di panggung global adalah suara kolektif rakyat Indonesia.
Seperti diketehui, dalam pidatonya di Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa beberapa waktu lalu, Presiden Prabowo menegaskan bahwa pengakuan terhadap negara Palestina adalah langkah yang tepat dan berada di sisi sejarah yang benar.

