BISNIS  

PT Pegadaian Gelar Serah Terima Jabatan dan Pisah Sambut Pemimpin Wilayah XII Surabaya

Oplus_131074

SURABAYA, NUSANTARAPOS – PT Pegadaian resmi melaksanakan Serah Terima Jabatan dan Pisah Sambut Pemimpin Wilayah XII Surabaya yang digelar di Grand Ballroom Vasa Hotel Surabaya, Rabu (21/1/2026).

Acara ini menandai pergantian kepemimpinan dari Beni Martina Maulan kepada Ahmad Zaenudin sebagai Pemimpin Pegadaian Kanwil XII Surabaya.

Direktur Teknologi Informasi dan Digital PT Pegadaian, Yos Iman Jaya Dappu, dalam sambutannya menyampaikan bahwa perubahan organisasi merupakan hal yang wajar dan menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk menyesuaikan diri dengan dinamika pasar.

“Perubahan organisasi adalah sesuatu yang wajar. Kami melihat adanya dinamika yang harus direspons, sehingga penyesuaian organisasi perlu dilakukan agar perusahaan tetap relevan dan kompetitif,” ujarnya.

Yos menjelaskan, salah satu langkah strategis yang diambil adalah penugasan Beni Martina Maulan ke kantor pusat untuk memperkuat divisi Unit Usaha Syariah. Menurutnya, Beni merupakan sosok yang memiliki peran penting dalam pengembangan bisnis syariah Pegadaian.

“Pak Beni merupakan salah satu pionir yang menciptakan proses bisnis dan produk syariah di Pegadaian. Karena itu, kami memerlukan beliau di kantor pusat untuk mengandalkan penguatan unit usaha syariah,” jelasnya.

Sementara itu, penunjukan Ahmad Zaenudin sebagai Pemimpin Pegadaian Kanwil XII Surabaya dinilai sebagai keputusan strategis.

Sebelumnya, Ahmad menjabat sebagai Pemimpin Pegadaian Kanwil Jakarta VIII Wilayah 3 dan dinilai berhasil meningkatkan kinerja wilayah, termasuk membawa Kanwil Jakarta 1 masuk dalam tiga besar nasional.

“Rotasi Pak Ahmad Zaenudin adalah pilihan yang tepat. Dengan pengalaman dan rekam jejaknya, kami optimistis kinerja Kanwil XII Surabaya dapat terus ditingkatkan,” tambah Yos.

Dalam kesempatan yang sama, Beni Martina Maulan, yang sebelumnya menjabat sebagai Pemimpin Pegadaian Kanwil XII Surabaya, menyampaikan bahwa perubahan organisasi merupakan hal yang tidak terpisahkan dari dinamika bisnis.

“Perubahan organisasi itu adalah sesuatu yang wajar. Pasar terus bergerak dan menuntut penyesuaian. Karena itu, organisasi juga harus adaptif agar tetap mampu menjawab kebutuhan masyarakat,” ujar Beni.

Beni menekankan pentingnya pemahaman karakteristik wilayah dan area dalam menjalankan program Pegadaian. Menurutnya, setiap area memiliki karakter yang berbeda sehingga membutuhkan pendekatan yang berbeda pula.

“Antara wilayah satu dengan wilayah lain, bahkan antar area, memiliki karakteristik yang berbeda. Perlakuan dan strateginya juga harus disesuaikan. Hal ini sudah kami diskusikan bersama jajaran cabang dan unit sebagai garda terdepan Pegadaian,” jelasnya.

Ia juga menyoroti pentingnya sinergi dengan berbagai stakeholder serta optimalisasi potensi pemasaran di Jawa Timur, khususnya Surabaya, yang dinilai masih sangat besar.

“Kami sangat optimistis potensi pemasaran di Jawa Timur masih luas. Dengan sinergi seluruh stakeholder, akseptasi masyarakat terhadap produk Pegadaian dapat terus ditingkatkan,” katanya.

Beni menyebutkan, tingkat inklusi nasabah Pegadaian di Jawa Timur saat ini masih berada di kisaran 7–8 persen. Namun pada 2026, Pegadaian menargetkan peningkatan signifikan hingga 15 persen dari total penduduk usia produktif Jawa Timur.

“Target-target sebenarnya sudah dipersiapkan sejak awal. Program pemasaran dan penjualan sudah disusun dari Januari hingga Desember. Tinggal bagaimana kita mengeksekusinya secara efektif agar target tersebut bisa tercapai,” tegasnya.

Selain pertumbuhan bisnis, Pegadaian juga fokus pada pengelolaan risiko, khususnya pengendalian Non-Performing Loan (NPL) melalui pemantauan D2D dan alokasi sumber daya yang tepat agar tetap sesuai dengan ketentuan.

Beni juga menyoroti peran digitalisasi, khususnya melalui aplikasi Tring, sebagai bagian dari transformasi digital Pegadaian.

“Dengan aplikasi Tring, masyarakat semakin mudah bertransaksi di Pegadaian. Ini memberikan pengalaman layanan yang lebih baik dan mendorong inklusi keuangan,” ujarnya.

Pegadaian juga membidik segmen milenial dan Gen Z sebagai bagian dari regenerasi nasabah. Saat ini, kontribusi Gen Z masih berada di kisaran 10–15 persen, namun potensinya dinilai sangat besar seiring dengan penyempurnaan layanan digital.

“Dengan aplikasi yang semakin user friendly, kami optimistis generasi muda akan semakin tertarik dan aktif menggunakan layanan Pegadaian,” pungkasnya. (Aryo).