Jakarta, Nusantarapos.co.id — Dugaan perlakuan tidak profesional mencuat di tubuh PT Indoraya Group. Dua petinggi perusahaan, RS selaku Direktur Operasional dan AJ sebagai Direktur Marketing, mengaku mengalami pengucilan serta belum menerima hak-hak mereka, termasuk pembagian keuntungan proyek bernilai miliaran rupiah yang dijanjikan oleh SLO yang diduga menjabat sebagai Direktur Utama PT Indoraya Group.
Kepada media, AJ mengungkapkan bahwa hubungan profesional dengan SLO bermula dari pertemuan dalam sebuah organisasi pada 2022 dan berkembang menjadi relasi pertemanan dekat. Sejak 2025, AJ dan RS disebut kerap diminta mendampingi SLO dalam berbagai aktivitas bisnis, mulai dari kegiatan golf, jamuan hiburan (entertainment), hingga pertemuan dengan sejumlah pejabat.
Pada November 2025, keduanya mengaku ditawari jabatan strategis sebagai direktur di PT Indoraya Group. Penawaran tersebut disertai janji pembagian keuntungan dari sejumlah proyek besar, di antaranya:
Giat Basarnas senilai sekitar Rp 1,9 miliar dan Giat Rak Agrinas dengan nilai proyek mencapai Rp 375 miliar, disertai janji pembagian 10 persen keuntungan
Namun, meski telah menjalankan tugas tanpa batasan jam kerja dan menangani berbagai tanggung jawab strategis perusahaan, AJ dan RS mengaku justru menghadapi situasi kerja yang tidak kondusif. Keduanya menyebut adanya drama internal, perubahan sikap, hingga mood swing dari SLO yang berujung pada dugaan pemutusan komunikasi dan pengucilan secara sepihak.
Puncaknya, pada akhir Desember 2025, AJ mengaku diberhentikan secara sepihak tanpa kejelasan mengenai status pekerjaan maupun realisasi hak-hak yang dijanjikan. Hingga saat ini, baik AJ maupun RS menyatakan belum menerima pembagian keuntungan dari proyek-proyek yang telah mereka tangani.
AJ juga mengungkap bahwa rekening perusahaan kerap digunakan untuk berbagai transaksi, termasuk kebutuhan rumah tangga, atas arahan langsung SLO. Seluruh aktivitas tersebut, menurut AJ, dijalankan olehnya bersama RS dengan penuh tanggung jawab sebagai bagian dari tugas perusahaan.
Kasus ini memicu sorotan publik terkait dugaan lemahnya profesionalisme manajemen serta kepastian perlindungan hak bagi pejabat senior di perusahaan swasta berskala besar. AJ dan RS mengklaim memiliki sejumlah bukti pendukung, termasuk percakapan elektronik (chat) dan rekening koran, yang siap ditunjukkan untuk memperkuat klaim mereka.
Hingga berita ini diterbitkan, SLO belum memberikan klarifikasi resmi terkait dugaan pengucilan maupun hak-hak yang disebut belum dibayarkan.
Tim redaksi telah berupaya menghubungi yang bersangkutan untuk meminta konfirmasi dan memberikan ruang hak jawab guna menjaga keberimbangan pemberitaan, namun hingga saat ini belum mendapatkan respon dari yang bersangkutan. (*)

