JAKARTA,NUSANTARAPOS, – Ditengah hiruk-pikuk ibu kota, sekelompok lansia membuktikan bahwa semangat belajar dan merawat toleransi tak pernah lekang oleh usia.
Suasana hangat dan sarat makna spiritual mewarnai pertemuan ke-7 Sekolah Lansia Ratu Sinuhun Srikandi TP Sriwijaya yang digelar di kawasan Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat pada hari Rabu (11/2/2026).
Kegiatan bertema “Mengisi Dimensi Spiritual Sekolah Lansia” ini menjadi momentum refleksi sekaligus penguatan nilai harmoni antarumat beragama melalui kunjungan edukatif ke lorong bawah tanah yang menghubungkan Masjid Istiqlal dengan Gereja Katedral.
Acara diawali sambutan hangat dari pembawa acara, Ultia Novida, yang mewakili pengurus inti Sekolah Lansia Ratu Sinuhun.
Ia menyampaikan apresiasi atas kehadiran Ketua Harian Srikandi TP Sriwijaya Ibu R.A. Aisyah, Kepala Sekolah Lansia Ibu Dr. Ir. Lies Rosdiyanti M.Si., Protokoler Masjid Istiqlal ;
Bapak Yusuf, Kasubdit Pembinaan Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Umat dari Pengurus Masjid Istiqlal Ibu Nur Afiani M.Si., serta para pengurus dan peserta lansia.
“Semoga kegiatan hari ini berjalan lancar, mendapat ridho Allah SWT, serta menghadirkan ilmu yang bermanfaat bagi kita semua,” ujar Ultia membuka acara.
Ketua Harian Srikandi TP Sriwijaya, R.A. Aisyah, SE., MM., menegaskan bahwa kunjungan ini bukan sekadar wisata religi, melainkan bagian dari proses pembelajaran sepanjang hayat bagi para lansia.
“Banyak di antara kami yang sudah puluhan tahun tinggal di Jakarta, namun belum pernah menyaksikan langsung simbol persaudaraan lintas iman yang begitu indah ini. Saat memasuki ‘Terowongan Silaturahmi’ kami tidak hanya berjalan di sebuah lorong, tetapi merasakan pesan kuat tentang persatuan,” ujarnya.
Menurutnya, pengalaman ini memperluas wawasan sekaligus memperdalam kesadaran bahwa keberagaman adalah kekuatan bangsa.
Ia menilai, lansia memiliki peran strategis sebagai teladan dalam menanamkan nilai toleransi kepada generasi muda.
“Di usia senja, kami semakin memahami bahwa kedamaian harus dirawat bersama. Harmoni antarumat beragama bukan sekadar slogan, tetapi nilai yang harus dihidupkan dalam keseharian,” tegas R.A. Aisyah.
Kasubdit Pembinaan Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Umat Masjid Istiqlal, Nur Afiani, M.Si., menjelaskan bahwa ‘Terowongan Silaturahmi’ dinamai demikian karena pada dindingnya terpampang simbol jabat tangan antara Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral sebagai representasi persaudaraan lintas iman.
Terowongan ini diresmikan pada 12 Desember 2024 sebagai simbol komitmen kebangsaan dalam merawat toleransi. Dengan jarak kedua rumah ibadah yang hanya sekitar 22 meter, masyarakat kini dapat mengakses langsung kawasan Katedral melalui lorong bawah tanah yang nyaman dan estetis.
Protokoler Masjid Istiqlal, Yusuf, menambahkan bahwa awalnya konsep penghubung kedua rumah ibadah tersebut berupa jembatan saat renovasi masjid pada 2020. Namun desainnya kemudian dikembangkan menjadi terowongan bawah tanah yang dinilai lebih humanis dan ramah pengunjung.
Renovasi Masjid Istiqlal rampung pada 2021, sementara Terowongan Silaturahmi resmi dibuka untuk publik pada 2024. Kini, kawasan ini menjadi salah satu destinasi wisata religi unggulan Jakarta dengan kunjungan mencapai 500 hingga 1.000 wisatawan per hari, baik domestik maupun mancanegara.
Memasuki terowongan, para peserta disambut nuansa audio-visual yang unik: lantunan musik religi, suara bedug, hingga dentang lonceng gereja berpadu harmonis. Perpaduan ini menghadirkan pengalaman spiritual yang menyentuh hati setiap pengunjung.
Selain mengikuti tur edukatif, para peserta Sekolah Lansia Ratu Sinuhun juga melaksanakan shalat Zhuhur berjamaah, mendengarkan kultum, berbagi cerita, serta berinfak kepada pengurus masjid.
R.A. Aisyah menegaskan bahwa Sekolah Lansia Ratu Sinuhun tidak hanya fokus pada kesehatan fisik dan aktivitas sosial, tetapi juga penguatan spiritualitas.
“Kami ingin lansia tetap produktif, tetap bahagia, dan membawa energi positif. Jangan ada ruang untuk prasangka. Yang ada adalah semangat saling memaafkan, saling menghargai, dan terus berbagi,” tuturnya.
Masjid Istiqlal sebagai simbol kemerdekaan bangsa dan Gereja Katedral Jakarta yang telah berdiri sejak abad ke-19 selama ini menunjukkan kerja sama harmonis, termasuk berbagi area parkir saat perayaan Idul Fitri dan Natal.
Kehadiran ‘Terowongan Silaturahmi’ semakin mempertegas komitmen tersebut dalam bentuk fisik yang nyata.
Bagi R.A. Aisyah, kunjungan ini menjadi pengingat bahwa Indonesia dibangun di atas fondasi keberagaman yang kokoh. Lansia, dengan kebijaksanaan dan pengalaman hidupnya, memiliki peran penting menjaga fondasi tersebut tetap kuat saat dikonfirmasi, Sabtu (14/2/2026).
“Kami pulang bukan hanya membawa foto dan kenangan, tetapi membawa pesan bahwa persaudaraan lintas iman adalah kekayaan bangsa yang harus dijaga bersama,” pungkasnya.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa usia bukanlah penghalang untuk terus belajar, memahami, dan menebarkan nilai-nilai kebaikan.
Di lorong yang menghubungkan dua rumah ibadah itu, para lansia menemukan satu pesan yang sama: harmoni adalah jembatan menuju Indonesia yang damai dan bermartabat.
Para peserta Sekolah Lansia Ratu Sinuhun pun menyampaikan apresiasi kepada pengelola Masjid Istiqlal yang memberikan kesempatan kepada para peserta untuk mengenal lebih dekat simbol nyata kerukunan umat Islam dan Nasrani di Indonesia.*

