JAKARTA, NUSANTARAPOS – Di tengah keriuhan silaturahmi Lebaran, segelas es buah segar atau puding manis sering kali menjadi hidangan primadona. Namun, ada satu bahan yang wajib diwaspadai para orang tua yang membawa balita, kental Manis.
Meski sering dianggap sebagai pelengkap hidangan hari raya, kental manis menyimpan risiko kesehatan yang nyata jika dikonsumsi secara bebas oleh anak, terutama saat kue Lebaran dihidangkan.
Banyak orang tua masih terjebak mitos bahwa kental manis adalah sumber nutrisi yang setara dengan susu pertumbuhan. Faktanya, kental Manis bukanlah susu.
Produk ini didominasi oleh kandungan gula dan lemak, dengan kadar protein yang sangat rendah. Memberikan kental manis kepada anak, baik sebagai minuman maupun topping melimpah pada makanan, ibarat memberikan “bom gula” cair yang membahayakan metabolisme anak yang masih sangat rentan.
Saat bertamu, anak sering kali mendapatkan toleransi berlebih untuk mencicipi hidangan. Padahal kandungan gula pada kental manis bisa mencapai 50%. Ini dapat menyebabkan sugar rush yang membuat anak menjadi hiperaktif, sulit diatur, hingga mengalami gangguan tidur setelah pulang bertamu.
Selain itu, tekstur kental manis yang lengket sangat mudah menempel di sela-sela gigi balita. Jika tidak segera dibersihkan, gula ini akan diubah oleh bakteri menjadi asam yang merusak email gigi dalam waktu singkat.
Kalori tinggi dari gula kental manis juga dapat membuat otak anak merasa sudah kenyang. Akibatnya, saat sampai di rumah, si kecil akan mogok makan (GTM) makanan bergizi karena perutnya sudah penuh oleh kalori kosong.
Bahaya kental manis menjadi berlipat ganda ketika bertemu dengan bahan-bahan di dalam toples kue Lebaran yang disukai anak. Banyak kue kering menggunakan kental manis sebagai perekat adonan atau isian cokelat. Juga, paduan kental manis dalam minuman ditambah kue putri salju yang diselimuti gula halus bisa melampaui batas asupan gula harian balita.
Padahal batas maksimal gula tambahan untuk anak adalah 25 gram (sekitar 6 sendok teh) per hari. Satu sendok makan kental manis saja sudah mengandung sekitar 10-15 gram gula. Bayangkan jika si kecil meminum es buah dan memakan dua keping cookies.
Menghadapi tekanan sosial saat bertamu di rumah kerabat sering kali menjadi ujian tersendiri bagi para prang tua. Di satu sisi ada rasa sungkan menolak keramahan tuan rumah, namun di sisi lain kesehatan balita adalah prioritas yang tidak bisa ditawar. Penting bagi orang tua untuk memiliki keberanian dalam menegaskan batasan secara halus namun tetap tegas.
Jika tuan rumah menawarkan kental manis sebagai minuman untuk si kecil, segeralah sampaikan keberatan dengan nada yang sopan, misalnya dengan menjelaskan bahwa konsumsi gula anak sedang dalam pemantauan ketat dan lebih memilih air putih sebagai hidangan utamanya.
Apabila dalam situasi yang sulit dihindari si kecil terlanjur mencicipi hidangan yang sangat manis, langkah penyelamatan terbaik adalah dengan segera memberikan air putih. Air putih ini berfungsi sebagai “penetral” alami yang membantu membilas sisa-sisa gula yang menempel pada gigi mungilnya, sekaligus membantu mengencerkan kadar gula yang masuk ke dalam aliran darah agar tidak memicu lonjakan energi atau sugar rush yang berlebihan.
Lebaran adalah momen kemenangan, namun jangan sampai kemenangan itu ternoda oleh risiko kesehatan jangka panjang bagi buah hati. Jadilah orang tua yang jeli memilah antara hidangan yang “enak” dan hidangan yang “sehat”.

