Eco Art Project di SMA NSA Surabaya: Kolaborasi Biologi dan Seni Jadi Media Pembelajaran Nyata

Pembelajaran berbasis STEAM (Science, Technology, Engineering, Art, and Mathematics).

SURABAYA,NUSANTARAPOS, – Inovasi pembelajaran terus berkembang seiring tuntutan pendidikan abad ke-21. Salah satu terobosan menarik datang dari SMA Nation Star Academy (NSA) Surabaya melalui program Eco Art Project, yang mengintegrasikan biologi dan seni dalam bentuk proyek nyata berbasis lingkungan.

Program ini diwujudkan melalui pembuatan air terjun artifisial yang terhubung dengan kolam ikan mini sebagai media pembelajaran berbasis STEAM (Science, Technology, Engineering, Art, and Mathematics). Kegiatan ini berlangsung pada 11–12 Maret 2026 di Eco Art Corner sekolah tersebut.  Dalam proyek ini, siswa tidak hanya belajar teori di kelas, tetapi terlibat langsung dalam proses perancangan hingga implementasi. Mereka membangun ekosistem sederhana yang memungkinkan pengamatan langsung terhadap interaksi makhluk hidup dan lingkungannya.

Guru Biologi SMA NSA, Budi Utomo, S.Pd., menjelaskan bahwa proyek ini memberikan pengalaman belajar yang lebih kontekstual. “Melalui sistem air terjun dan kolam ikan mini ini, siswa dapat mengamati langsung interaksi komponen biotik dan abiotik dalam ekosistem. Pembelajaran menjadi lebih empiris dan tidak sekadar konseptual,” ujarnya. Air terjun buatan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai elemen estetika, tetapi juga memiliki nilai ilmiah. Aliran air membantu meningkatkan kadar oksigen terlarut yang dibutuhkan organisme air, sekaligus menjadi contoh nyata proses dalam ekosistem perairan.

Selain aspek sains, unsur seni juga menjadi bagian penting dalam proyek ini. Guru seni, Widjijono,S.Pd,Gr., menilai bahwa pendekatan estetika mampu menumbuhkan kesadaran ekologis siswa.“Seni dalam proyek ini bukan sekadar memperindah, tetapi menjadi media refleksi agar siswa merasa terhubung dengan alam dan terdorong untuk menjaganya,” katanya. Proses pembelajaran dilakukan secara kolaboratif. Siswa berdiskusi, membagi peran, hingga menyelesaikan berbagai tantangan selama pembangunan proyek. Pendekatan ini dinilai mampu meningkatkan keterampilan berpikir kritis, kreativitas, serta kemampuan kerja sama.

Laboran sekaligus guru biologi, Muhammad Zahrudin Afnan, S.Pd., menambahkan bahwa metode ini sejalan dengan prinsip pembelajaran konstruktivistik. “Siswa membangun pengetahuan melalui pengalaman langsung. Mereka tidak hanya memahami konsep, tetapi juga melihat dan memverifikasi secara nyata di lapangan,” jelasnya. Kepala SMA NSA Surabaya, I Putu Tony Purana, S.T., M.M., menegaskan bahwa program ini merupakan bagian dari upaya sekolah dalam menanamkan kesadaran ekologis sejak dini. “Pendidikan tidak cukup hanya mentransfer pengetahuan. Siswa harus dilatih untuk peduli dan bertanggung jawab terhadap lingkungan melalui tindakan nyata,” ujarnya. Melalui Eco Art Project, siswa juga belajar memanfaatkan barang bekas menjadi sesuatu yang bernilai. Proyek ini sekaligus menunjukkan bahwa limbah dapat diolah menjadi media pembelajaran yang inovatif dan bermakna.

Program ini menjadi contoh konkret penerapan pembelajaran berbasis proyek yang tidak hanya menekankan aspek akademik, tetapi juga pembentukan karakter dan kepedulian lingkungan. Dengan menghadirkan pembelajaran yang kontekstual dan multidisipliner, SMA NSA Surabaya menunjukkan bahwa ruang belajar tidak lagi terbatas pada kelas, melainkan dapat berkembang menjadi ruang hidup yang mendorong siswa untuk berpikir kritis, kreatif, dan berkelanjutan. (M.Zahrudin)