Merajut Asa Merah Putih di Titik Terdingin Nusantara
Oleh: Rerta Maximiliano
Kabut dingin yang abadi seolah menjadi selimut bisu bagi rahasia-rahasia yang terkubur di lembah Puncak Jaya. Di sini, di kota Mulia, udara bukan sekadar oksigen yang dihirup, melainkan rasa dingin yang mengiris hingga ke sumsum tulang, berpadu dengan ketegangan yang menggantung di setiap sudut jalan.
Mei 2025 bukan sekadar catatan kalender bagi saya, melainkan sebuah ujian nyawa dan nasionalisme saat saya melangkah ke sebuah dunia di mana rompi pelindung adalah seragam wajib, dan senyum tulus anak-anak pedalaman menjadi satu-satunya cahaya di tengah pekatnya ancaman zona merah.

Panggilan dari Jantung Pegunungan Tengah
Awal Mei 2025 membawa sebuah kabar yang tidak biasa melalui getaran ponsel di saku saya. Sebuah pesan singkat masuk dari seorang sahabat lama yang kini memegang tanggung jawab besar di pundaknya.
Letkol Inf Prawito, sosok yang saya kenal sebagai prajurit tangguh, saat itu sedang menjabat sebagai Komandan Batalyon Infanteri (Danyonif) 715/Motuliato. Ia sedang berada di garis depan pengabdian.
Beliau tengah menjalankan penugasan bersama pasukannya di Distrik Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, Papua Pegunungan. Sebuah wilayah yang namanya sering kali muncul di tajuk berita keamanan nasional.
Melalui pesan tersebut, Letkol Prawito meminta saya hadir langsung ke daerah penugasan. Tujuannya sangat mulia: membantu mengabadikan jejak pengabdian Satgas Yonif 715/Motuliato melalui sebuah karya film dokumenter.
Saya terdiam sejenak membaca ajakan itu. Mulia, Puncak Jaya, bukanlah sembarang tempat. Dalam peta keamanan, wilayah ini dikategorikan sebagai zona merah yang sangat berbahaya.
Informasi yang saya terima menunjukkan bahwa Mulia adalah basis kuat Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB). Ancaman kontak tembak bisa terjadi kapan saja tanpa peringatan terlebih dahulu.
Kondisi saat itu semakin mencekam karena bertepatan dengan pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang sedang berlangsung dengan penuh kekacauan atau chaos.
Fanatisme dukungan membuat masyarakat terpecah menjadi dua kubu yang saling berseberangan. Gesekan ini memicu konflik horizontal yang sangat memprihatinkan di tengah masyarakat pegunungan.
Perang saudara pecah di beberapa titik waktu. Aksi saling bakar rumah warga menjadi pemandangan yang menyayat hati, bahkan hingga menimbulkan korban jiwa yang tidak sedikit.
Namun, di tengah berita duka dan ancaman maut tersebut, sebuah dorongan kuat muncul dari dalam dada saya. Rasa nasionalisme dan tanggung jawab moral sebagai anak bangsa mulai bergejolak.

Menembus Kabut dengan Sayap Perintis
Dengan tekad yang bulat, saya bersama satu tim kecil akhirnya memberanikan diri menerima tantangan tersebut. Kami menyadari bahwa ini bukan sekadar perjalanan dokumentasi biasa.
Pengalaman saya mengunjungi tanah Papua sebenarnya sudah cukup banyak. Saya pernah menginjakkan kaki di Jayapura yang ramai, Manokwari yang tenang, Merauke yang luas, hingga Timika yang sibuk.
Namun, perjalanan ke Mulia kali ini terasa sangat berbeda. Ini adalah pertama kalinya saya benar-benar terbang menuju jantung zona merah, tempat di mana keberanian diuji setiap detiknya.
Kota Mulia juga memiliki keunikan tersendiri. Ia menyandang predikat sebagai kota terdingin di Indonesia karena letaknya yang berada di ketinggian ribuan meter di atas permukaan laut.
Perjalanan panjang kami dimulai dengan penerbangan dari Surabaya menuju Timika. Di sana, kami melaksanakan transit untuk berpindah moda transportasi yang lebih spesifik bagi medan pegunungan.
Dari Timika, kami tidak lagi menggunakan pesawat jet besar. Kami harus berganti ke pesawat Karavan, sebuah pesawat perintis mungil yang hanya mampu memuat empat hingga lima penumpang saja.

Keamanan Berlapis di Markas Kotis
Kedatangan kami tidak disambut dengan kalungan bunga, melainkan dengan pengamanan ekstra ketat. Pasukan Yonif 715/Motuliato sudah menunggu di pinggir landasan dengan mobil taktis mereka.
Kami diminta segera mengenakan helm taktis dan rompi pelindung (vest). Prosedur ini wajib dilakukan mengingat area bandara merupakan salah satu titik rawan gangguan keamanan dari ketinggian.
Tanpa membuang waktu, kami segera memasuki mobil taktis. Kendaraan melaju cepat menuju Pos Komando Taktis (Kotis) yang akan menjadi tempat tinggal kami selama sepuluh hari ke depan.
Sesampainya di Markas, pelukan hangat dari sahabat saya, Letkol Inf Prawito, menyambut kami. Wajahnya yang tegas tampak sedikit lebih santai saat melihat kami tiba dengan selamat.
Situasi di Mulia benar-benar di luar perkiraan saya soal suhu udara. Kami harus segera mengenakan pakaian ekstra tebal agar tubuh tidak menggigil hebat karena dingin yang menusuk tulang.
Setelah beristirahat sejenak, kami mulai merancang jadwal kegiatan. Waktu sepuluh hari terasa sangat singkat untuk merekam begitu banyak realitas yang terjadi di Puncak Jaya.
Suasana di Pos Kotis sangat sederhana. Bangunannya menyerupai bekas kantor desa yang jauh dari kesan mewah, namun tetap terjaga kerapihan dan disiplin militernya.
Satu hal yang menjadi kemewahan di tengah isolasi ini adalah akses internet Starlink. Berkat fasilitas dari Satgas, komunikasi kami dengan dunia luar tetap berjalan dengan aman dan lancar.
Urusan konsumsi juga menjadi pelajaran tentang kesederhanaan. Setiap hari, saya duduk bersama para prajurit menikmati nasi dengan lauk mi instan sebagai menu setia kami.
Belanja di daerah ini sangat mahal dan stoknya sangat terbatas. Kami baru bisa menikmati lauk ayam mungkin hanya seminggu sekali, itu pun menjadi momen yang sangat disyukuri oleh semua.

*Salam Hangat di Tengah Perang Saudara*
Agenda syuting pun dimulai. Kami mulai berkeliling mengunjungi seluruh titik pos-pos yang tersebar di wilayah Puncak Jaya yang begitu luas dan berbukit-bukit.
Ada pos yang terletak di ketinggian ekstrem dan selalu tertutup kabut tebal sepanjang hari. Jarak pandang di sana terkadang hanya beberapa meter saja, menambah kesan mencekam.
Ada pula pos yang terletak tepat di basis wilayah KKB. Di sini, kewaspadaan berada pada level tertinggi; setiap gerakan di dalam hutan dipantau dengan sangat teliti oleh para prajurit.
Beberapa lokasi hanya bisa kami tempuh dengan berjalan kaki mendaki bukit yang cukup curam. Setiap langkah memacu adrenalin karena ancaman nyawa bisa muncul dari balik rimbunnya pepohonan.
Di tengah perjalanan, kami melewati pemukiman suku Dani. Terlihat beberapa rumah Honai tradisional masih berdiri kokoh, menjadi pelindung alami masyarakat dari dinginnya pegunungan.
Meskipun situasi sedang panas, masyarakat asli di sana ternyata sangat ramah kepada kami. Setiap kali berpapasan, kami menyapa mereka dengan bahasa setempat yang khas: “Waaa…”.
Kata itu seolah menjadi mantra penyejuk. Masyarakat suku Dani yang sedang terjebak dalam konflik pilkada tetap memberikan senyum tulus saat melihat kehadiran kami di tengah mereka.
Kami menyadari posisi kami harus netral. Di tengah perang saudara yang berkecamuk, Satgas TNI hadir sebagai penengah dan penjaga keamanan agar konflik tidak semakin meluas.
Di Pos Tirineri, kami mengangkat sebuah kisah yang sangat menyentuh hati. Satgas membangun sebuah “Rumah Pintar” sederhana agar anak-anak sekitar tetap bisa mengecap pendidikan.
Hati saya teriris melihat anak-anak itu belajar tanpa menggunakan sepatu. Kaki-kaki mungil mereka sudah terbiasa dengan dinginnya tanah dan tajamnya kerikil pegunungan Puncak Jaya.

Bakti Tanpa Batas di Ujung Negeri
Sebagai bentuk kepedulian, kami bersama tim Satgas membagikan beberapa sepatu gratis untuk anak-anak tersebut. Melihat binar mata mereka saat menerima sepatu adalah kebahagiaan tak ternilai.
Kegiatan Satgas di pos-pos lain pun tak kalah bermakna. Mereka melakukan pembersihan tempat ibadah, pembuatan sumur bor air bersih, hingga pemasangan instalasi listrik di rumah warga.
Ada pula program ketahanan pangan, bakti sosial kesehatan, hingga pemberian makan gratis bagi warga yang membutuhkan. TNI benar-benar hadir sebagai solusi bagi kesulitan masyarakat.
Melihat antusiasme anak-anak belajar di tengah keterbatasan, saya merasa kagum sekaligus sedih. Ada ketimpangan yang sangat nyata jika dibandingkan dengan kondisi anak-anak di kota besar seperti Jakarta.
Kehadiran Satgas TNI di sini bukan hanya soal perlindungan fisik. Mereka memberikan akses pendidikan dan kesehatan yang selama ini sulit dijangkau oleh masyarakat pedalaman Papua.
Tidur di berbagai pos memberikan pengalaman fisik yang berat bagi kami. Kadang kami hanya beralaskan kayu, berbagi ruang dengan kecoa, bahkan beberapa kali menemukan ular di sekitar pos.
Air bersih pun menjadi barang langka. Di beberapa pos, kami harus sangat berhemat dan hanya mengandalkan air tadah hujan sebagai sumber utama untuk mandi dan mencuci.
Namun, segala keterbatasan itu membuat saya semakin dekat dengan para prajurit dan anak-anak Papua. Saya sering memotret mereka dan mencetaknya langsung sebagai kenang-kenangan sederhana.
Bagian akhir dari dokumenter kami adalah sebuah skenario kolosal: pengibaran Bendera Merah Putih bersama seluruh masyarakat Mulia. Momen ini disambut dengan hangat dan penuh haru oleh warga.
Sepuluh hari berlalu, dan tiba saatnya kami kembali dengan membawa kenangan yang tak terlupakan. Papua adalah Indonesia, dan semangat nasionalisme di Mulia menjadi bukti bahwa NKRI tetap ada di jiwa mereka.
Saat pesawat Karavan perlahan mengangkat roda dari landasan Bandara Mulia, saya melihat ke luar jendela pada barisan pegunungan yang perlahan mengecil. Sepuluh hari di zona merah telah mengubah cara saya memandang arti kata “pengabdian”.
Saya pergi membawa ribuan rekaman gambar, namun yang paling membekas adalah tawa anak-anak Papua dan keteguhan prajurit yang makan mie instan demi menjaga kedaulatan. Mulia mungkin adalah kota terdingin di Indonesia, namun kehangatan nasionalisme di sana jauh lebih membara daripada apa pun yang pernah saya rasakan. Semoga damai selalu menyertai Papuaku.

