DAERAH  

Dibalik Pelatuk: Senapan Ikonik Pembawa Medali Emas Bojonegoro

BOJONEGORO, NUSANTARAPOS — Di balik gemerlap podium Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur 2025, ada sebuah senapan yang tak bisa disepelekan. Bukan senapan biasa, melainkan alat tempur yang menjadi saksi sejarah perolehan medali emas oleh Rasikhan Ahmad Al-Hazmi, atlet muda didikan Coach Slamet Raharjo Heri Nugroho—atau yang akrab disapa Coach Heri.

Senapan itu tak hanya menjadi alat menembak, melainkan perpanjangan dari filosofi sang pelatih: fokus, tenang, dan penuh keberanian. Di kediamannya yang sekaligus menjadi bengkel mobil di Jalan Setia Budi 74 Klangon, Bojonegoro, Coach Heri menyimpan senapan legendaris itu dengan penuh kehormatan. Bagi dirinya, senapan bukan sekadar peralatan olahraga, melainkan simbol dari proses panjang, latihan tanpa lelah, dan mentalitas juara.

Coach Heri memang bukan orang baru dalam dunia menembak. Sejak bergabung dengan Persatuan Menembak Indonesia (PERBAKIN) pada 2013, ia telah menekuni berbagai aspek olahraga ini—dari teknis hingga psikologis. Di bawah bendera klub AISC Bojonegoro, yang bermarkas di Jalan WR Supratman 11, ia mencetak banyak atlet muda potensial. Namun, Rafa—sapaan akrab Rasikhan—menjadi salah satu yang paling menonjol.

Dengan skor 340 di nomor Multirange, Rafa berhasil mengungguli lawan kuat dari Jombang yang mencetak 320 poin. Di balik ketenangan Rafa, ada latihan keras dan bimbingan intens dari Coach Heri. Senapan yang digunakan Rafa saat itu adalah hasil rakitan spesial yang dirawat dan disetel langsung oleh Coach Heri, memastikan akurasi dan kenyamanan maksimal bagi sang atlet.

Bukan hanya itu, senapan tersebut juga menjadi simbol ikatan batin antara pelatih dan atlet. Dalam setiap latihan, Coach Heri menekankan pada disiplin, sikap menghormati proses, dan keberanian untuk menghadapi tekanan di garis tembak. Prinsip itu terpatri dalam setiap peluru yang ditembakkan.

“Kalau sudah di garis tembak, tak boleh ragu. Fokus. Percaya pada latihan,” tegas Coach Heri.

Rafa, yang juga putra dari Danramil Kalitidu Bapak Surahmat dan Ibu Lina Ahsani, tumbuh dalam lingkungan disiplin. Namun pembentukan mental juaranya tak lepas dari ketelatenan sang pelatih. Kombinasi lingkungan rumah yang kuat dan bimbingan Coach Heri menjadikan Rafa tampil matang melebihi usianya.

Kini, senapan peraih emas itu bukan hanya disimpan, tapi juga menjadi sumber inspirasi bagi atlet-atlet AISC lainnya. Banyak yang datang ke kediaman Coach Heri untuk melihat langsung “senjata sakti” tersebut—menyentuhnya, merasakan sensasinya, dan membayangkan suatu hari mereka akan berdiri di podium yang sama.

Karena di tangan Coach Heri, setiap senapan bukan hanya logam dan laras, tapi juga simbol harapan, kerja keras, dan semangat untuk membawa nama Bojonegoro lebih tinggi di kancah olahraga nasional.(Aryo).