BOJONEGORO,NUSANTARAPOS,- Pagi itu, kabut tipis masih menggantung di lereng-lereng bukit Desa Soko. Dari kejauhan, suara ayam berkokok bercampur dengan deru motor yang menanjak di jalan tanah berbatu. Inilah Desa Soko, Kecamatan Temayang merupakan wilayah yang sejuk, luasnya 4.021 hektare, tapi menyimpan cerita panjang tentang kerja keras warganya.
Jumlah penduduknya 2.809 jiwa, terbagi dalam 950 kepala keluarga. Setengah dari mereka hidup di bawah garis kemiskinan, 50,55% tepatnya. Sebagian besar adalah petani, tangan-tangan yang setiap hari bercumbu dengan tanah, berharap panen cukup untuk dapur dan sekolah anak-anak mereka.
Desa ini berada di dataran tinggi, dikelilingi perbukitan. Keindahan alamnya memanjakan mata, tapi bagi mereka yang tinggal di sini, jalannya yang sempit dan terjal adalah tantangan sehari-hari. Akses terbatas, fasilitas umum minim. Itulah mengapa, ketika TMMD ke-125 ditetapkan untuk dilaksanakan di Desa Soko, dimana pekerjaan ini bukan sekadar program, melainkan misi untuk membuka jalan dan harapan.
Sasaran fisik yang dibawa jelas: pembangunan jalan beton 1.372 x 3,5 m, rehab check dam, 6 unit rumah layak huni, pembangunan mushola, pagar, sumur bor, dan program ketahanan pangan di 2 hektare sawah. Namun, sasaran yang lebih penting adalah menghapus jarak antara TNI dan rakyat agar benar-benar menjadi satu.
Upacara Pembukaan TMMD ke-125, Langkah Awal Mimpikan Harapan
Rabu, 23 Juli 2025, Lapangan sepak bola Desa Soko pagi itu sudah ramai sejak matahari baru setinggi pohon kelapa. Ibu-ibu membawa anak-anak mereka, para bapak berdiri rapi di sisi lapangan, sebagian memegang bendera merah putih kecil. Nampak raut wajah mereka seakan ada rasa ingin tahu, ada harapan, dan sedikit ragu.
“Seragam loreng saya terasa lebih berat dari biasanya, bukan karena bahan kainnya, tapi karena amanah yang saya bawa,” kenang Dandim 0813/Bojonegoro, Letkol Czi Arief Rochman Hakim waktu itu.

Dalam acara upacara pembukaan itu juga nampak Bupati Bojonegoro, Setyo Wahono, berdiri tegap sebagai Inspektur Upacara. Selain itu, Dandim 0811 Tuban, Letkol Inf Dicky Purwanto, Kasiter Korem 082/CPYJ Letkol Arm Indra Asmara Manurung, Kepala Bakorwil Bojonegoro Agung Subagyo, Wakil Bupati Nurul Azizah, dan banyak lagi pejabat yang hadir di hari itu seakan menjadi saksi dimulainya TMMD ke-125.
Ketika Bupati mulai berbicara, suaranya lantang membelah udara pagi. Ia menjelaskan bahwa TMMD adalah program terpadu, lintas sektor merupakan wujud kepedulian TNI membantu pemerintah daerah memberdayakan masyarakat. Saya melihat beberapa warga mengangguk pelan, seakan mulai paham bahwa yang akan kami lakukan bukan hanya membangun jalan atau mushola, tapi membangun keyakinan bahwa desa ini bisa lebih maju.
Tak hanya itu, dalam menutup amanatnya Bupati Bojonegoro memberikan pesan yang membuat para hadirin terdiam sejenak:
“Kepada masyarakat Desa Soko, jadikanlah TNI sebagai saudara dan keluarga sendiri selama kegiatan TMMD berlangsung,” pintanya.
Meski di bawah terik matahari yang mulai meninggi, prajurit masih nampak berdiri tegap. Di benak mereka seolah hanya ada satu tekad selama 30 hari ke depan, kami bukan tamu di sini. Kami akan makan bersama warga, tidur di rumah-rumah mereka, memikul semen dan batu bersama mereka, dan di akhir nanti, meninggalkan jejak yang lebih dari sekadar bangunan.
Bagi mereka, TMMD ke-125 ini bukan hanya tentang beton, pagar, dan sumur bor, tetapi ini tentang meninggalkan warisan persaudaraan di Desa Soko. Karena di situlah kemanunggalan TNI dan rakyat menemukan makna yang sebenarnya.
Jalan yang Menyatukan Desa
Pagi itu, udara Desa Soko terasa segar. Matahari mulai memantulkan cahaya ke perbukitan, sementara deru mesin molen dan suara sekop sudah terdengar di jalur penghubung menuju Desa Pajeng. Di sinilah antara warga desa dan anggota satgas TMMD bekerja dalam pembangunan jalan cor beton sepanjang 1.372×3,5 meter yang menghubungkan Desa Soko, Kecamatan Temayang, dengan Desa Pajeng, Kecamatan Gondang, Kabupaten Bojonegoro.
Jalan ini adalah salah satu sasaran fisik pokok TMMD ke-125 yang berlangsung sejak 23 Juli hingga 21 Agustus 2025. Bersama personel Satgas dan masyarakat, mereka mengejar tenggat waktu sehingga setiap harinya terus menunjukkan progres nyata dalam pengerjaannya.

Bagi warga, jalan ini bukan sekadar hamparan beton. Ini adalah akses untuk mempermudah membawa hasil pertanian, jalur menuju fasilitas umum, dan jalan menuju peningkatan perekonomian serta kesejahteraan.
Lettu Inf Setyo Budi, Komandan Satuan Setingkat Kompi (SSK) Satgas TMMD ke-125 Kodim 0813 Bojonegoro, menyampaikan bahwa pembangunan ini sudah dimulai sejak Pra-TMMD. Semua dikerjakan dengan gotong royong antara anggota TNI dan warga setempat.
“Saya melihat sendiri, bagaimana rangka cor dipasang dan adukan material diratakan. Semua dilakukan bersama. Untuk mempercepat pengerjaan, pengecoran dibantu 1 unit truk molen dari Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Penataan Ruang Pemkab Bojonegoro. Di tengah teriknya matahari, loreng dan pakaian warga bercampur dalam satu irama kerja,” terangnya sambil menunjukkan rasa bangga kepada anggotanya.
Lebih lanjut ia menjelaskan, pembangunan jalan ini sangat penting karena Desa Soko secara geografis amat terpencil, berada di tengah perbukitan dengan hutan lebat di sekelilingnya. “Pembangunan jalan cor beton ini merupakan wujud nyata kemanunggalan TNI dengan rakyat. Harapannya dapat memudahkan aksesbilitas warga, sekaligus meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat,” urainya.
Di satu sisi nampak dari kejauhan terlihat warga tersenyum sambil berkata, “Kalau jalan ini jadi, musim hujan tak akan menghalangi kami lagi.”
Di ujung hamparan beton yang sudah mengeras, terlihat salah satu warga memandang ke arah bukit, membayangkan saat jalan ini sudah tersambung penuh. Bukan hanya dua desa yang terhubung, tapi juga harapan dan masa depan warga Desa Soko.
Menguatkan Penyangga Air, Menjaga Nafas Pertanian Desa Soko
Dari balik helm proyek dan deru alat berat, mereka, warga desa memandang rehabilitasi check dam di RT.010/RW.003 Dusun Sekonang Desa Soko sebagai lebih dari sekadar pekerjaan fisik. Inilah salah satu sasaran utama dalam pelaksanaan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-125 tahun 2025 di Kecamatan Temayang, Kabupaten Bojonegoro.
Check dam ini memiliki volume 156,80 meter persegi dengan total anggaran Rp. 388.520.075 yang dikerjakan oleh Pemkab Bojonegoro melalui Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air (PU SDA). Fungsi utamanya jelas, yakni menyimpan air baku pertanian saat kemarau dan menahan luapan sungai saat hujadan.
Air adalah urat nadi pertanian di Desa Soko, yang sebagian besar warganya adalah petani. Tanpa pengelolaan air yang baik, lahan-lahan bisa mengering di musim kemarau dan terendam saat musim hujan. Karena itu, rehabilitasi ini menjadi langkah strategis untuk memastikan ketersediaan air tetap terjaga dan dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin.
Harapan mereka merasa yakin, setiap tetes keringat yang jatuh di tanah ini akan menjadi bagian dari warisan bersama. Rehabilitasi check dam ini bukan hanya membangun penahan air, tetapi juga menegakkan harapan bahwa kesejahteraan masyarakat Desa Soko dapat meningkat, baik dari segi ekonomi, sosial, maupun kualitas hidup.
Air yang Mengalirkan Harapan
Pagi itu di Desa Soko, sinar matahari menembus celah pepohonan perbukitan. Di kejauhan, suara mesin bor berpadu dengan teriakan semangat anggota Satgas dan warga yang bekerja bahu-membahu. Selasa, 29 Juli 2025, mereka kembali bergerak mengerjakan sasaran fisik program terpadu dan lintas sektoral TMMD ke-125 Kodim 0813 Bojonegoro.

Hari itu, fokus mereka adalah pembangunan 1 titik sumur bor di Dusun Sumberpoh RT.015/002, dengan kedalaman 55 meter. Sumur ini bukan sekadar lubang di tanah. Ia adalah sumber kehidupan yang akan mengalirkan air bersih bagi warga yang selama ini harus berhemat dengan sumber air terbatas.
Selain satu titik ini, ada pula 4 titik sumur bor lain yang kami kerjakan di RT.007, RT.009, RT.012, dan RT.014 Desa Soko. Ini adalah sasaran tambahan yang juga merupakan program unggulan Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD) melalui TNI Manunggal Air Bersih (TMAB). Penempatan titik-titiknya sudah diperhitungkan agar strategis dan mampu menjangkau lebih banyak rumah warga.
Letda Cke Nur Alim, Danton II SSK Satgas TMMD bahkan melaporkan, “Progress pembangunan sumur bor di Dusun Sumberpoh sudah mencapai 90%. Saat ini, kami tengah memasang pipa air ke rumah-rumah warga.”
Semua ini merupakan jerih payah para prajurit dan warga yang bekerja cepat, saling mengoper pipa, menyiapkan sambungan, dan memastikan air agar nanti mengalir lancar.
Bagi warga sendiri, air bukan hanya urusan minum. Air adalah kualitas hidup. Air adalah kebersihan, kesehatan, dan kemandirian desa. Karena itu, program ini dijalankan dengan penuh kesungguhan. Terlebih, Desa Soko berada di daerah perbukitan yang saat musim kemarau sering kesulitan air.
Ketika saya berdiri di dekat sumur bor yang hampir selesai, saya membayangkan nanti suara mesin ini akan digantikan oleh suara air yang jatuh ke ember-ember warga. Warga tak perlu lagi berjalan jauh atau menunggu giliran dari sumber kecil di tengah hutan.
Program ini bukan sekadar memenuhi kebutuhan dasar, tetapi juga pondasi ketahanan desa. Seperti kata Dansatgas TMMD Kodim 0813 Bojonegoro, Letkol Czi Arief Rochman Hakim, S.E., M.M., “Dengan semangat gotong royong, semoga penyediaan air bersih ini bisa memberikan manfaat bagi masyarakat dan menjadi modal untuk membangun ketahanan desa yang lebih baik, khususnya ketersediaan air bersih yang berkelanjutan.”
Di TMMD ke-125 ini, ternyata tidak hanya membangun infrastruktur, namun juga membangun masa depan yang lebih ringan untuk dijalani.
Membangun Tempat Sujud di Tengah Desa
Semangat gotong royong warga desa Soko memang tak pernah surut, para personel TNI dari Satgas TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-125 Kodim 0813 Bojonegoro terus bekerja bersama warga. Di Desa Soko, Kecamatan Temayang, mereka tengah membangun sebuah Musala di lingkungan SDN Soko IV, sebuah bangunan sederhana yang kelak akan menjadi ruang rohani bagi siswa, guru, dan warga sekitar.

Pembangunan Musala ini merupakan bagian dari sasaran fisik TMMD ke-125 tahun 2025 yang berlangsung hingga 21 Agustus mendatang. Selain sebagai fasilitas ibadah, Musala ini juga diproyeksikan menjadi ruang pembinaan keagamaan yang lebih luas, memperkuat ikatan sosial dan spiritual masyarakat desa.
Komandan Peleton I SSK Satgas TMMD 125 Kodim 0813 Bojonegoro, Letda Mar Rohmad Widodo, menyampaikan, “Pengerjaan Musala ini dilakukan dengan gotong royong, sebagai cerminan harmoni antara prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) dengan rakyat. Mereka sangat kompak sekali, bekerja bersama percepat pembangunan Musala.”
Rohmad tak sekadar bicara soal bangunan fisik. Ia juga menaruh harapan besar pada fungsionalitas Musala ini kelak. “Semoga pembangunan Musala ini selesai tepat waktu, dan bisa segera dimanfaatkan oleh para siswa, guru maupun masyarakat untuk kegiatan keagamaan,” jelasnya.
Antusias warga Desa Soko ternyata menyambut hangat pembangunan ini. Mereka bahkan ikut turun tangan membawa bahan bangunan, mengaduk semen, bahkan menyediakan konsumsi bagi para prajurit. Semangat kebersamaan inilah yang menjadi pondasi utama dalam program terpadu lintas sektoral seperti TMMD.
Musala SDN Soko IV mungkin hanya satu dari sekian banyak proyek fisik TMMD tahun ini. Namun di balik tumpukan batako dan semen, tersimpan pesan kuat tentang persatuan dan kepedulian: bahwa pembangunan sejati dimulai dari hati yang saling memahami dan tangan yang mau bekerja bersama.
Menyemai Ilmu, Memanen Harapan: Sasaran Non Fisik TMMD ke-125 Kodim 0813
Di sela-sela suara molen yang terus berputar dan denting palu yang tak henti, ada satu kegiatan lain yang tak kalah penting dari pembangunan jalan, sumur bor, atau musala. Inilah sasaran non fisik TMMD ke-125 Kodim 0813 Bojonegoro dimana sebuah rangkaian kegiatan tersebut menyentuh langsung pola pikir, wawasan, dan keterampilan warga.
Dalam membangun desa bukan hanya soal menegakkan tiang dan menuang beton. Ada hal yang tak kasat mata tapi pengaruhnya jauh lebih panjang: membangun manusianya. Karena itu, selama TMMD ini, kami menggandeng berbagai pihak mulai dari pemerintah daerah, dinas terkait, hingga tokoh masyarakat untuk menggelar beragam penyuluhan dan pelatihan.

Di balai desa, suasana ramai sejak pagi. Ada penyuluhan pencegahan dan penanganan bahaya kebakaran dari Dinas Pemadam Kebakaran serta ketahanan pangan dari Dinas Pertanian, yang mengajarkan warga teknik memadamkan api bila terjadi kebakaran dan bercocok tanam hemat air ramah lingkungan. Tak jauh dari situ, Dinas Kesehatan menggelar penyuluhan stunting dan gizi seimbang, mengajak para ibu memahami pentingnya asupan bergizi untuk anak-anak mereka.
Selain itu, materi penanggulangan bencana dari BPBD, kesadaran hukum dari Kejaksaan Negeri Bojonegoro, hingga bahaya narkoba dari BNN juga turut dihadirkan. Semua itu dibungkus dengan bahasa sederhana dan contoh nyata agar mudah dipahami. Bahkan, di sela acara, prajurit TNI ikut bermain dan berinteraksi dengan anak-anak, membangun kedekatan yang tak ternilai.
Di malam hari, lapangan desa yang biasanya sepi berubah menjadi tempat nonton bareng film perjuangan. Warga duduk beralaskan tikar, anak-anak berlarian di sekitar, sementara layar putih memutar kisah yang membangkitkan rasa bangga dan cinta tanah air.
Sasaran non fisik ini adalah merupakan jiwa dari TMMD. Infrastruktur memang penting, tapi tanpa pengetahuan, kesadaran, dan persatuan, pembangunan itu tak akan bertahan lama. Seperti kata pepatah, “Membangun negeri dimulai dari membangun hati dan pikirannya.”
Melihat warga Desa Soko tersenyum, berani bertanya dalam penyuluhan, atau semangat menonton film bersama, membuktikan bahwa apa yang para satgas lakukan di sini akan meninggalkan jejak panjang , bukan hanya di jalan-jalan beton atau bangunan fisik, tetapi di pikiran dan hati masyarakatnya.

Ketika Tim Pengawas dan Evaluasi (Wasev) Mabes TNI-AD yang dipimpin Paban V/Bakti TNI Sterad, Kolonel Inf M. Herry Subagyo, S.I.P., meninjau sejumlah lokasi sasaran fisik program TMMD ke- 125 Kodim 0813 Bojonegoro, dirinya mengapresiasi capaian kegiatan tersebut. Pencapaian ini tak lepas dari kolaborasi antar semua pihak, sehingga kegiatan TMMD berjalan dengan lancar.
Kolonel Inf M. Herry Subagyo, S.I.P., mengatakan bahwa program TMMD merupakan salah satu wujud nyata sinergitas TNI dengan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro dan masyarakat dalam membangun desa, serta meningkatkan kesejahteraan rakyat.
“Harapannya, melalui kegiatan program TMMD ini dapat memberikan dampak positif yang signifikan, serta meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
“Telah kita lihat bahwa pelaksanaan program TMMD ke- 125 Kodim 0813 Bojonegoro ini memang sudah cukup bagus, dan kita berharap sebelum penutupan nanti tanggal 21 Agustus 2025 secara serentak, sasaran program TMMD ini bisa tuntas 100% selesai. Dan juga kita berharap sasaran-sasaran yang sudah dicapai nantinya bisa dirawat, dan dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kepentingan masyarakat,” pungkas Kolonel Inf M. Herry Subagyo, S.I.P.
Dari Pagi Berkabut di Perbukitan hingga Terbukanya Jalan Harapan di Desa Soko
Menutup rangkaian kegiatan TMMD ke-125 di Desa Soko, Dansatgas merasakan kebanggaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Selama hampir satu bulan, para personel anggota satgas TMMD bersama masyarakat setempat telah berjuang di lapangan, bahu membahu membangun berbagai sarana dan prasarana yang selama ini menjadi harapan warga. Mulai dari pengecoran jalan penghubung desa, pembangunan musholla, hingga penyediaan sumur bor di beberapa titik strategis.
Di tengah suasana penutupan, Kepala Desa Soko, Mohammad Johan Hariyoko menyampaikan ucapan yang begitu mengena di hati.
“Alhamdulillah, terima kasih Komandan Kodim 0813 Bojonegoro telah memilih desa kami menjadi sasaran program TMMD ke-125, dan tim Satgas yang sudah berjibaku tanpa rasa lelah membangun infrastruktur Desa kami,” ucapnya dengan senyum bahagia.
Dirinya menegaskan, program ini bukan hanya membangun infrastruktur, tetapi juga membawa dampak nyata bagi peningkatan perekonomian warga dan membantu mencegah angka stunting di wilayahnya. Banyaknya rangkaian kegiatan TMMD, baik fisik maupun non fisik, diakui sangat bermanfaat bagi masyarakat.
Begitu juga dengan Bupati Bojonegoro Setyo Wahono, dirinya mengatakan, “Dengan adanya TNI Manunggal Membangun Desa yang ada di Desa Soko merupakan langkah pemerintah dalam mewujudkan pemerataan pembangunan di Kabupaten Bojonegoro. Tentunya dengan kerjasama antara TNI, Polri dan stakeholder yang ada di Kabupupaten Bojonegoro ini diharapkan ke depan Desa Soko menjadi desa yang mandiri, memiliki ekonomi yang baik, serta memberikan dampak positif bagi generasi muda dalam menggapai cita-citanya.”
Dia pun melanjutkan, dari hasil pelaksanaan TMMD ini diharapkan warga Desa Soko dapat memetik hikmah yang terkandung dalam kegiatan tersebut, karena dalam pelaksanaan tidak hanya memberikan contoh tetapi secara langsung sebagai wujud bentuk perlunya gotong royong dalam mencapai suatu tujuan.

Dari semua capaian ini, terlihat bahwa outcome yang yang diraih lahir dari kerja keras bersama:
Secara fisik, infrastruktur yang dibangun telah memperlancar distribusi hasil pertanian, peternakan, dan perkebunan, menjadi jalur penghubung utama aktivitas warga, sekaligus memperkuat kemanunggalan TNI dan rakyat.
Sementara secara non fisik, kegiatan ini telah mendukung suksesnya program pemerintah daerah dalam mewujudkan masyarakat yang produktif, mandiri, dan maju, serta mempererat kolaborasi dan sinergitas TNI di wilayah Bojonegoro.
Sedangkan dari sisi output, Desa Soko kini memiliki sarana jalan, check dam, dan sumur bor yang memperkuat infrastruktur desa. Kegiatan sosialisasi, pelatihan, dan pelayanan dari berbagai dinas terkait juga telah memberikan wawasan, pengetahuan, dan keterampilan baru bagi warga.
Semua itu menjadi bukti bahwa TMMD ke-125 bukan sekadar program pembangunan, tetapi juga wujud nyata persatuan. TNI datang dengan membawa tekad membangun, dan pulang dengan keyakinan bahwa gotong royong adalah modal utama untuk memajukan desa. Desa Soko kini bukan hanya memiliki fasilitas yang lebih baik, tetapi juga semangat kolektif yang lebih kuat untuk menatap masa depan.

