PACITAN,NUSANTARAPOS, – Sore itu, seperti biasanya, Waluyo (54) baru pulang dari ladang membawa hasil panen palawijanya yang telah ditanam beberapa bulan lalu. Dengan motor butut kesayangannya, ia menata karung-karung yang berisi hasil panennya di jok belakang. Jalanan basah dan licin selepas hujan semalam membuatnya harus ekstra hati-hati saat hendak kembali ke rumahnya yang berjarak sekitar 9 kilometer.
Namun, naas tak dapat ditolak. Saat melewati jalan turunan yang curam, ban motornya tergelincir. Dalam sekejap, Waluyo dan motornya terjatuh, palawija yang dibawanya pun berserakan bercampur lumpur. Wajahnya yang semula cerah berubah sendu, menatap hasil panen yang rusak tertindih motor.
Dengan perasaan sedih, ia tak kuasa menatap hasil kerja kerasnya berserakan di jalan, bercampur dengan lumpur dan air sisa hujan. Terlebih hasil panen itu merupakan sumber utama penghasilan keluarganya.
“Ya Allah… bagaimana ini? Banyak yang rusak. Padahal besok harus saya jual ke pasar untuk beli beras dan kebutuhan rumah,” ujarnya lirih, suara bergetar di antara rasa sedih dan pasrah.
Bagi warga Dusun Nongko, Desa Petungsinarang, Kecamatan Bandar, Kabupaten Pacitan, kisah seperti yang menimpa Waluyo bukanlah hal asing. Mereka sudah terbiasa bergelut dengan keterbatasan dan jalan rusak yang menjadi satu-satunya akses menuju ladang maupun pasar. Bukan karena mereka tak ingin mengeluh, tapi karena mereka sudah terlalu sering menelan kenyataan pahit itu dengan sabar dan pasrah.

Selama bertahun-tahun, warga di sana hidup dalam keterbatasan infrastruktur. Namun kini, perlahan, secercah harapan mulai tampak. Melalui program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-126 Kodim 0801/Pacitan, harapan itu mulai menjelma nyata dan membawa angin perubahan yang telah lama diimpikan.
Sinergi Membangun Negeri: TMMD ke-126 Resmi Dibuka di Pacitan

Pagi itu, udara Desa Petungsinarang terasa berbeda. Kabut yang biasanya enggan pergi dari lereng-lereng hijau seolah menyingkir perlahan, memberi ruang bagi matahari untuk menyapa lapangan desa yang telah disiapkan rapi. Di tengah hijaunya sawah dan siluet perbukitan, bendera Merah Putih berkibar gagah. Sederhana, namun menggetarkan.
Di bawah langit Pacitan yang jernih, deretan prajurit berdiri tegap, sementara di sisi lapangan, warga dari berbagai dusun datang berbondong-bondong. Ada yang membawa anaknya, ada yang mengenakan caping usang, bahkan ada pula yang datang hanya untuk melihat dari kejauhan. Namun di wajah mereka, terpancar rasa bangga yang sama. Hari itu, desanya menjadi bagian dari sejarah pengabdian.
Dentuman drum mengiringi langkah tegap pasukan pembawa bendera. Tak ada gemerlap kota, tak ada sorotan kamera besar, tetapi setiap langkah terasa sakral. Di sanalah, di lapangan kecil di tengah desa terpencil, semangat kebersamaan bangsa berdenyut kembali.
Upacara pembukaan Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-126 Tahun Anggaran 2025 oleh Kodim 0801/Pacitan berlangsung dengan khidmat. Setiap aba-aba terasa menggema bukan hanya di lapangan, tetapi juga di hati setiap orang yang hadir.
Dalam sambutan Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji yang dibacakan oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Pacitan, Kemal Pandu Pratikna, S.T.T.P., terselip nada penuh haru dan kebanggaan.
“TMMD merupakan wujud nyata sinergi antara TNI, Pemerintah Daerah, dan masyarakat dalam mempercepat pemerataan pembangunan sekaligus memperkuat ketahanan nasional,” ujar Kemal dengan suara lantang namun bergetar pelan di ujungnya.
Tema “Dengan Semangat TMMD Mewujudkan Pemerataan Pembangunan dan Ketahanan Nasional” hari itu bukan sekadar kalimat dalam spanduk. Ia hidup dalam pandangan warga, dalam langkah prajurit, dan dalam peluh yang akan menetes di hari-hari berikutnya.
Di sudut sana ternyata ada seorang bapak paruh baya berdiri di pinggir lapangan nampak memegangi topi lusuhnya sambil menatap ke arah bendera. Di matanya, ada kilau air yang tertahan. Di sampingnya, seorang bocah kecil melambaikan tangan ke arah pasukan yang lewat, seolah menyapa masa depan yang baru saja tiba di desanya.
Ketika gong dipukul bersama oleh Inspektur Upacara dan Forkopimda Kabupaten Pacitan, dentumannya membelah udara seperti tanda kebangkitan. Suara itu menggema ke seluruh penjuru desa, melintasi sawah, menyusuri sungai kecil, dan bergema di antara pepohonan jati. Itu bukan sekadar tanda dimulainya program, melainkan simbol dimulainya babak baru kehidupan bagi warga Petungsinarang.
Bupati Pacitan melalui sambutannya juga menyampaikan apresiasi mendalam kepada Korem 081/Dsj dan Kodim 0801/Pacitan atas dedikasi dan keberpihakan yang tulus terhadap masyarakat.
“Kami menyampaikan terima kasih atas ditetapkannya Desa Petungsinarang sebagai lokasi TMMD ke-126. Semoga hasil kegiatan ini benar-benar dirasakan manfaatnya oleh warga,” lanjutnya.
TMMD ke-126 bukan sekadar program kerja. Ia adalah jembatan antara kesunyian desa dan denyut kehidupan yang lebih layak. Ia adalah kisah tentang bagaimana peluh berubah menjadi jalan, bagaimana kerja keras menjelma menjadi jembatan, dan bagaimana kemanunggalan menjadi pondasi bagi masa depan.

Setiap hentakan cangkul dan denting palu yang terdengar dari lereng Petungsinarang membawa makna lebih dalam daripada sekadar pekerjaan fisik. Di sana, di antara embun dan lumpur, kami belajar kembali arti kebersamaan yang sejati. Para prajurit dengan seragam loreng yang mulai kusam oleh debu dan keringat bekerja beriringan dengan warga: menarik truk semen di tanjakan, menata batu, hingga menyeka keringat satu sama lain dengan senyum.
Anak-anak berlari di pinggir jalan sambil bersorak, ibu-ibu membawa termos berisi teh panas dan singkong rebus, sementara para bapak mengangkat karung pasir di pundak. Tak ada sekat, tak ada jarak; yang ada hanyalah tekad untuk membuka akses kehidupan bagi desa yang lama terisolasi.
Di saat peninjauan, melihat kejadian ini Dansatgas TMMD Kodim 0801 Pacitan sempat merasa terhentak batinnya. Dirinya terharu, bangga dan begitu yakin jika pekerjaan yang dilakukan oleh para anggotanya dapat membewa perubahan Desa Petungsinarang. “Kemanunggalan yang memang benar-benar hebat,” gumam Letkol Arh Imam.
Menjawab Kesulitan Masyarakat
Kurangnya sarana dan prasarana infrastruktur yang layak membuat Desa Petungsinarang masih kesulitan untuk berkembang. Padahal, desa yang terletak di wilayah dataran tinggi ini memiliki potensi besar dari hasil pertanian palawija dan peternakan kambing. Melihat kondisi tersebut, Kodim 0801/Pacitan bersama Pemerintah Kabupaten Pacitan berupaya menghadirkan solusi melalui pelaksanaan program TMMD.
“Masih terbatasnya infrastruktur, terutama akses jalan yang layak, membuat kami merasa terpanggil. Inilah alasan kami memilih Desa Petungsinarang sebagai lokasi pelaksanaan TMMD tahun ini,” kata Dansatgas TMMD ke-126 Kodim 0801/Pacitan Letkol Arh Imam Musahirul.

Program TMMD kali ini berfokus pada pembangunan infrastruktur dasar, antara lain pembukaan akses jalan baru sepanjang 2.000 meter dan rabat jalan sepanjang 2.100 meter yang akan menghubungkan Desa Petungsinarang dengan Desa Ngreco. Selain itu, juga dilakukan pembangunan talud di 3 titik berbeda, 3 unit jembatan, gapura, serta gorong-gorong untuk memperlancar aliran air.
Sementara itu, pada sasaran fisik tambahan, dilakukan renovasi sembilan unit rumah tidak layak huni (Rutilahu), perbaikan musala, pemasangan penerangan jalan umum (PJU), serta pengaspalan jalan sepanjang satu kilometer.
Tak hanya fokus pada pembangunan fisik, TMMD juga menghadirkan berbagai kegiatan nonfisik yang langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Di antaranya adalah pengobatan gratis, pelayanan KB dan kesehatan, pasar murah, pemberian bantuan sosial bagi warga kurang mampu, layanan administrasi kependudukan, pelayanan SIM dan STNK, serta berbagai penyuluhan masyarakat yang bersifat edukatif dan produktif.
Untuk memberikan dampak yang lebih luas, TMMD kali ini juga mengintegrasikan program unggulan Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad), meliputi pembangunan 5 unit sumur bor, penanaman tanaman produktif, pembangunan 2 unit MCK, serta program penurunan angka stunting dan pembersihan lingkungan guna meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara berkelanjutan.
Dansatgas berharap, berbagai sasaran yang dikerjakan tersebut mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat, termasuk bagi kemajuan Desa Petungsinarang sendiri.
“Warga di sini mayoritas bekerja sebagai petani dan peternak. Kami berharap hasil TMMD ini bukan hanya menjadikan desa ini lebih baik dari infrastrukturnya saja, tetapi juga dapat meningkatkan kesejahteraan dan derajat kesehatan masyarakatnya,” ujarnya.
Akselerasi Pembangunan dan Ekonomi
Senada dengan itu, Danrem 081/DSJ Kolonel Arm Untoro Hariyanto menegaskan, TMMD merupakan upaya TNI membantu pemerintah mempercepat pembangunan di daerah-daerah terisolir.
“Berbeda dengan program lain, TMMD menyentuh wilayah yang sulit dijangkau agar pembangunan lebih merata dan tidak terjadi ketimpangan,” sebutnya saat meninjau lokasi.
Terkait pembangunan akses jalan dalam program TMMD ke-126 Kodim 0801/Pacitan, ia menilai bahwa sasaran tersebut tidak hanya berfungsi sebagai penghubung antardesa, tetapi juga diharapkan mampu meningkatkan efektivitas aktivitas warga dalam kehidupan sehari-hari.
“Akses jalan yang dibangun ini sebenarnya juga bisa dikatakan sebagai jalur alternatif menuju jalan utama Pacitan–Ponorogo. Jika sebelumnya warga harus memutar sejauh sekitar 13 kilometer, kini jaraknya hanya sekitar 5 kilometer. Tentu hal ini sangat membantu dan mendukung kelancaran kegiatan masyarakat sehari-hari,” ungkapnya.
Ia pun berharap, dengan semakin mudahnya akses menuju jalur utama Pacitan–Ponorogo, perekonomian masyarakat dapat tumbuh lebih baik.
“Kalau jalan sudah bagus, hasil panen bisa lebih cepat dipasarkan, begitu juga distribusi hasil pertanian dan peternakan akan semakin lancar,” katanya optimis.
Tepat Sasaran dan Sesuai Target
Meskipun kondisi medan yang dihadapi tidaklah mudah, berbekal semangat kemanunggalan TNI dan rakyat, berbagai pembangunan infrastruktur yang dilaksanakan dalam TMMD ke-126 Kodim 0801/Pacitan dapat berjalan dengan baik, lancar, dan optimal.
Tim Wasev (Pengawasan dan Evaluasi) Brigjen TNI (Mar) Bambang Hadi Suseno turut memberikan apresiasi tinggi terhadap pelaksanaan TMMD tersebut. Ia menilai, seluruh kegiatan yang dilakukan di wilayah Kota 1.001 Goa, sebutan lain untuk Kabupaten Pacitan, telah sesuai dengan target serta tepat sasaran.
“Tadi kita sudah melihat bersama, baik sasaran jalan, jembatan, MCK umum, Rutilahu, sumur bor, maupun sasaran fisik lainnya. Seluruh progresnya sangat baik dan semua itu benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat di Desa Petungsinarang ini,” ujarnya saat melakukan peninjauan di lokasi.
Bambang juga berpesan agar hasil pembangunan yang telah dicapai dapat terus dijaga dan dirawat dengan baik, sehingga memiliki usia pakai yang lebih panjang dan memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi warga.
“Semua pihak harus peduli dan memiliki rasa tanggung jawab dalam menjaga dan merawat hasil pembangunan ini supaya manfaat jangka panjangnya bisa lebih luas lagi,” sebutnya.
Jalan Baru di Tengah Hutan, Jalan Baru untuk Masa Depan
Setiap langkah di Petungsinarang seakan mengulang cerita lama, tentang desa yang lama terpisah oleh hutan dan bukit, tentang anak-anak yang harus menapaki tanah licin hanya untuk sampai ke sekolah. Di tempat seperti inilah para anggota satgas TMMD datang membawa harapan, bukan sekadar alat berat dan peta kerja.

Membuka jalan di tengah hutan bukan perkara mudah. Pohon-pohon besar ditumbangkan dengan hati-hati, bukan hanya untuk membuka jalur, tetapi untuk menyiapkan ruang bagi kehidupan baru. Setiap tanah yang tergali menjadi saksi bahwa pembangunan sejati dimulai dari keberanian untuk menembus keterisolasian.
TMMD bukan hanya program kerja. Ia adalah panggilan jiwa, menyalurkan rasa cinta kepada tanah air dengan cara paling sederhana: bekerja bersama rakyat. TNI hanya bagian dari upaya besar itu, dan rakyatlah yang menjadi pusatnya.
Dari Jalan Setapak Menuju Cahaya Harapan: Suara dari Petungsinarang

Di Petungsinarang, setiap langkah pembangunan selalu diiringi doa dan rasa syukur dari warga. Mata mereka berbinar saat melihat perubahan yang kini mulai nyata.
Kepala Desa Petungsinarang, Suryadi, tak mampu menyembunyikan harunya.
“ Kami hidup di desa terpencil, tapi tentara datang membawa perubahan. Ini bukan sekadar jalan, ini masa depan kami. Terima kasih Pak Dandim,” ucapnya penuh tulus.
Kata-kata sederhana itu terasa begitu dalam. Sebab kami tahu, di balik setiap jengkal jalan yang dibuka, ada harapan yang ikut tumbuh.
Hal serupa juga dirasakan Panirah, warga lanjut usia yang matanya berkaca-kaca saat menyaksikan truk melintas di jalan yang dulunya hanya setapak di antara semak belukar.
“ Saya tak pernah menyangka. Baru kali ini seumur hidup, kendaraan bisa lewat dusun kami,” ucapnya lirih.
Perempuan itu kini tinggal di rumah layak huni, menggantikan gubuk kayu berukuran empat meter persegi yang dulu berdiri di pelosok Dusun Ngagrik. Ia menjadi satu di antara sembilan penerima bantuan program RTLH TMMD ke-126.
“ Terima kasih Pak, sudah dibuatkan rumah yang layak. Saya ini hanya petani, makan pun dari hasil buruh,” katanya sambil menyeka air mata.
Momen-momen seperti inilah yang membuat saya yakin, TMMD bukan sekadar program kerja. Ia adalah jalan pengabdian, jalan di mana TNI dan rakyat melangkah bersama, menumbuhkan kehidupan dan menyalakan kembali harapan di pelosok negeri.
Di Ujung Jalan, Ada Harapan yang Tumbuh Usai TMMD

Tepat 30 hari, pelaksanaan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke 126 harus ditutup. Bahkan secara serentak di 50 Kodim se-Indonesia sama-sama melakukan upacara penutupan. Warga desa pun menyambutnya dengan antusias. Mereka berbondong-bondong ke lapangan Desa Petungsinarang guna memberikan penghormatan dan ucapan selamat jalan bagi para anggota satgas TMMD yang selama ini saling bersama-sama dalam membangun asa desa.
Pada kesempatan tersebut, Kepala Dinas Potensi dirgantara (Kadispotdirga) Lanud Iswahjudi madiun Kolonel Tek Ricki Armades, S.E yang memimpin langsung upacara penutupan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-126 membacakan amanat Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD).
Dalam amanatnya, Kasad Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, berpesan agar semangat gotong royong bersama prajurit TNI Angkatan Darat yang ditunjukkan selama melaksanakan program TMMD dapat terus ditumbuhkembangkan.
“Munculkan rasa memiliki dan upaya untuk selalu menjaga dan memelihara dengan baik semua hasil pembangunan fasilitas umum dan fasilitas sosial, sehingga dapat dimanfaatkan dalam jangka waktu yang panjang,” katanya.

Senja turun perlahan di Petungsinarang. Usai para anggota satgas pergi melepaskan Desa Petungsinarang, kabut menggantung rendah, menutup sebagian bukit yang kini sudah tertaut oleh jalan baru. Di bawah cahaya temaram, kini tak terlihat lagi prajurit dan warga menutup hari dengan tawa sederhana. Teh panas di tangan mereka mengepul, menandai lelah yang terbayar lunas.
Petungsinarang bukan lagi nama yang sunyi di peta Pacitan. Di sini, harapan tumbuh dari tanah yang dulu keras disentuh cangkul. Dari tangan-tangan warga yang tidak pernah lelah menolong, dari doa-doa ibu-ibu yang tak putus di sore hari.
TMMD bukan hanya tugas. Ia adalah cara TNI kembali pulang ke akar, menyatu dengan rakyat, bekerja tanpa pamrih, dan meninggalkan jejak yang berarti.
Kini, jalan telah terbuka, menghubungkan dusun ke dusun, hati ke hati. Bukan sekadar akses menuju pasar atau sekolah, tetapi jalan menuju masa depan yang lebih terang.
Bukan karena datang untuk niat membangun saja, tetapi justru di sini, di Petungsinarang, dapat belajar apa arti membangun sesungguhnya: membangun harapan, menegakkan semangat, dan menjaga kemanunggalan.
Di ujung jalan ini, momen TMMD itu lebih dari sekadar seremonial. Ia adalah penegasan bahwa kebersamaan masih menjadi kekuatan terbesar bangsa ini. Selama tangan prajurit dan rakyat masih saling menggenggam, tak ada desa yang terlalu jauh, tak ada medan yang terlalu berat.
TMMD adalah tentang menghadirkan negara sampai ke pelosok paling sunyi. Dan pagi itu, di Petungsinarang yang sederhana, saya melihat Indonesia dalam bentuknya yang paling tulus: rakyat dan TNI berdiri berdampingan, menyambut cahaya harapan dengan mata yang berbinar. Mereka yakin bahwa Desa Petungsinarang kelak menjadi cermin keberhasilan desa yang mandiri.

