Oleh: Sugiyanto Pengamat Kebijakan Publik
Jakarta, Nusantarapos.co.id – Pada Kamis, 22 Januari 2026, saya menerima kiriman materi visual berupa pamflet yang memuat informasi mengenai kegiatan Arief Nasrudin, Direktur Utama Perumda Air Minum Jaya (PAM JAYA) DKI Jakarta, yang kini telah bertransformasi menjadi Perseroan Daerah (Perseroda). Setelah mencermati informasi tersebut, menelaah sejumlah pemberitaan terkait, serta melakukan analisis yang lebih mendalam, dapat ditarik kesimpulan yang sejalan dengan judul tulisan ini sebagaimana tersebut di atas.
Dalam konteks tersebut, Direktur Utama PAM JAYA, Arief Nasrudin, menyampaikan pandangannya terkait pengelolaan sumber air baku yang berkelanjutan. Ia menegaskan bahwa PAM JAYA selama ini secara konsisten menyampaikan kepada publik bahwa penyediaan air baku Jakarta bersumber dari Waduk Jatiluhur serta seluruh sungai yang mengalir di wilayah Jakarta, yang jumlahnya mencapai 13 sungai. Selain itu, PAM JAYA juga tengah menjajaki penambahan sumber air baku dari Bendungan Karian, yang saat ini masih dalam proses lanjutan kerja sama.
Arief Nasrudin juga menegaskan bahwa PAM JAYA tidak melakukan pengambilan air baku melalui eksploitasi air tanah dengan cara pengeboran. Setiap pengambilan air baku, baik dari waduk maupun sungai, dilakukan dengan memastikan volume pengambilan sesuai dengan perizinan yang berlaku serta tetap memperhatikan keseimbangan dan keberlanjutan ekologi. Menurutnya, pengelolaan air baku harus dilandasi pola pikir hijau atau green mindset, agar Jakarta tidak hanya memperoleh layanan air bersih hari ini, tetapi juga mewariskan lingkungan yang lebih baik bagi generasi mendatang.
Inilah green mindset Arief Nasrudin sebagai Direktur Utama BUMD vital DKI Jakarta, PAM JAYA. Selain itu, terkait perawatan dan persyaratan lingkungan pada 13 aliran sungai di Jakarta, diketahui bahwa selama ini PAM JAYA di bawah kepemimpinannya turut berpartisipasi aktif dan menunjukkan kepedulian yang tinggi. Pada kesempatan lain, saya juga pernah mengusulkan agar PAM JAYA bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta ikut berperan aktif menjaga kawasan hulu hutan dari aliran sungai yang menuju Waduk Jatiluhur, termasuk daerah aliran sungai (DAS) yang terhubung dengan Waduk Cirata dan Waduk Saguling.
Dalam hal ini, saya meyakini bahwa green mindset yang dimiliki Arief Nasrudin merupakan bagian penting yang tidak terpisahkan dari konsep Green Mind PAM JAYA. Argumentasi ini logis dan masuk akal, mengingat Waduk Jatiluhur merupakan sumber utama air baku bagi PAM JAYA. Artinya, PAM JAYA juga memiliki kepentingan besar terhadap berbagai persoalan alam, lingkungan, serta aspek lain yang berkaitan dengan keberlanjutan dan dampak positif Waduk Jatiluhur.
Pesan mengenai pandangan green mindset dari Direktur Utama PAM JAYA, Arief Nasrudin, tersebut disampaikan bertepatan dengan penyelenggaraan Metro TV Green Summit 2026 yang mengusung tema “Accelerating Indonesia’s Green Transition”. Kegiatan ini menghadirkan Prof. Emil Salim—ekonom senior, mantan Ketua Dewan Pertimbangan Presiden, sekaligus mantan Menteri Lingkungan Hidup—sebagai keynote speaker.
Selain Arief Nasrudin, acara ini juga menghadirkan sejumlah tokoh nasional dan pimpinan institusi sebagai pembicara, di antaranya Indah Irmahdini, Masyita Crystallin, Diaz Hendropriyono, Indrawan Ditapradana, Nixon Napitupulu, Bambang Patiyono, Deddy Sudiarjanto, Andre Simangunsong, Kamia Handayani, Djoko Siswanto, Fuad Bawazier, Sugeng Suparwoto, Yudistian Yunis, Agung Kurniawan, serta Chialmi Dialdestoro Rosalim. Informasi ini tercantum secara jelas dalam materi visual berupa pamflet yang saya terima.
Di sisi lain, hal yang tidak kalah penting adalah komitmen PAM JAYA dalam meningkatkan pelayanan kepada masyarakat Jakarta. Sebagai BUMD milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, PAM JAYA menegaskan komitmennya untuk menyediakan layanan air bersih yang andal, merata, dan berkualitas bagi seluruh warga Jakarta, dengan target cakupan layanan 100 persen pada tahun 2029.
Dalam hal ini, Arief Nasrudin menyampaikan bahwa upaya perluasan cakupan layanan terus dilakukan secara bertahap. Sepanjang tahun 2025, PAM JAYA berhasil menambah sekitar 206.537 sambungan rumah baru, sehingga cakupan layanan air bersih di Jakarta mencapai 80,24 persen pada akhir tahun. Capaian ini dipandang sebagai fondasi penting dalam memperluas layanan air minum perpipaan secara merata di ibu kota.
Meski demikian, Arief mengakui bahwa laju pertumbuhan infrastruktur perpipaan yang belum sebanding dengan pertumbuhan populasi penduduk Jakarta tetap menjadi tantangan utama untuk mencapai target layanan penuh. Kompleksitas jaringan perpipaan juga memerlukan penanganan yang serius, terencana, dan berkelanjutan.
Seiring dengan penguatan infrastruktur fisik, PAM JAYA turut melakukan transformasi digital dengan mengoperasikan sistem Enterprise Resource Planning (ERP) Fusion yang mengintegrasikan proses bisnis dan layanan pelanggan. Perusahaan juga meluncurkan layanan AI call center berbasis kecerdasan buatan untuk memberikan informasi layanan yang lebih cepat, akurat, dan responsif kepada masyarakat.
Terkait target pelayanan 100 persen pada tahun 2029, termasuk program penambahan pipa dan pengembangan jaringan distribusi lainnya, saya telah menulis sejumlah artikel sebelumnya. Kesimpulannya, program PAM JAYA tersebut telah menjadi harapan banyak pihak. Bahkan Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo, secara serius dan konsisten memantau langsung serta memberikan arahan tegas agar PAM JAYA mampu mewujudkan pelayanan air bersih terbaik bagi seluruh masyarakat Jakarta.


