SIDOARJO, NUSANTARAPOS – Kasus penahanan ijazah sekolah kembali terjadi di wilayah Kabupaten Sidoarjo. Kenyataan pahit itu dialami Revalina Ayu Dwiyanti, siswi Jurusan Akuntasi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) PGRI 2 Sidoarjo. Sejak dinyatakan lulus tahun 2024 sampai hari ini, dirinya tak memiliki ijazah SMK. Akibatnya ia kehilangan hak mendapatkan pekerjaan selama 2 tahun.
Mardjadi, Penjual bakso keliling, Orang tua dari Revalina dalam keterangannya mengatakan “Anak saya sulit dapat kerja, karena ijazah SMK-nya ditahan sekolah. Kebanyakan lowongan kerja yang dicari lulusan SMA/SMK. Dia sudah berusaha kesana kemari ngelamar kerja pake ijazah SMP, tapi belum ada panggilan.
Ia menyampaikan, saya dan Reva sudah berupaya membangun komunikasi ke sekolah, tapi tetap tidak ada solusi dan Ijazah tidak bisa diambil,” keluh, Mardjadi Kamis (9/4/2026).
Penjual bakso keliling ini mengaku pihak sekolah tetap ngotot minta tunggakan uang Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) empat bulan segera dilunasi. Sebagai keluarga dengan penghasilan pas-pasan, ia sudah mengajukan keringan. Namun tidak dikabulkan. Justru, anaknya menjadi korban dipermalukan di depan kelas.
Penjual bakso juga menambahkan, saya maupun Reva sudah beberapa kali ke sekolah dan dilarang bertemu kepala sekolah. Hanya diijinkan ketemu wali kelasnya saja, waktu itu dijabat Pak Khoirun Nasikin.” ujarnya
Inti pertemuan, saya diminta segera melunasi tunggakan SPP. Namun karena saya belum ada uang, yang dikejar justru Reva, sampai anak saya nggak kuat dan nangis karena dipermalukan di kelas, depan teman-temannya,” ungkap pria yang hidupnya bertahan di rumah kontrakan ini.
Mardjadi menyayangkan sikap wali kelas yang menurutnya terlalu berlebihan dalam menagih uang tunggakan. ia juga kecewa karena sekolah tidak memberikan satu lembar pun salinan ijazah. Bahkan Surat Keterangan Lulus (SKL) juga tak diberikan.
“Kebacut (kelewatan) kalau menurut saya. Jangankan Fotokopi ijazah, SKL juga gak dikasih. Nemen ancene (Keterlaluan banget),” ujarnya dengan logat jawa medok.
Meski tergolong keluarga miskin, Mardjadi berusaha melunasi semua biaya sekolah anaknya. Mulai dari uang pangkal, biaya daftar ulang, uang gedung, biaya seragam hingga uang ulangan sekolah. Termasuk SPP biasanya juga dibayar lunas. Hingga kemudian usaha berjualan sayur miliknya sepi pembeli. Maka sejak saat itulah, ia sudah mulai tak mampu lagi melunasi SPP.
“Sebelum jualan bakso keliling, saya awalnya dagang sayur. Alhamdulillah lumayan laris. Semua kebutuhan bayar sekolah anak lancar. Namun ketika Reva menginjak kelas XII, jualan sayur mulai sepi. Penghasilan terus merosot. Hingga nunggak SPP empat bulan. Sampai detik ini pun tidak bisa nebus. Akibatnya ijazah anak saya ditahan sekolah,” aku Mardjadi dengan raut wajah sedih.
Ia merinci jumlah tunggakan yang harus dibayarkan yakni SPP Rp 282.000 x 4 bulan, sekitar Rp 1.128.000. Mardjadi menyebut selain anaknya, ada pula murid lain yang juga tidak bisa menebus ijazah, karena memiliki tunggakan.
“Satu kelas ada empat anak yang ijazahnya ditahan sekolah, yakni Reva anak saya, Kemudian Tera Diniyanti, Renov Satria Bintang, dan Rana Yunita Sari. Ketiga murid tersebut tunggakannya berapa saya kurang tahu,” tutur ayah dua anak ini.
Mardjadi berharap pihak sekolah bisa memberikan solusi terbaik dalam permasalahan ini. Harapannya perkara penahanan ijazah tidak berlarut-larut dan tak menjadi beban pikiran bagi siswa. Sebab, dirinya mendengar Tera salah satu siswi sempat sakit berat akhirnya meninggal karena memikirkan ijazahnya yang ditahan sekolah.
“Tera memang sudah lama sakit-sakitan. Katanya orang-orang sakitnya jadi tambah parah dan kemudian meninggal akibat mikir berat gak bisa ambil ijazah. Kasihan karena orang tuanya juga tergolong miskin dan gharim (banyak hutang),” jelas pengurus masjid Baitur Rahman ini.
Sementara itu, dikonfirmasi di sekolah, Kepala SMK PGRI 2 Sidoarjo, Ida Rahmatiyah, S.Ag. M.A.P membantah jika siswinya Tera Diniyanti meninggal akibat memikirkan ijazah yang ditahan oleh sekolah. Menurutnya, almarhumah diketahui telah lama menderita sakit berat dan kondisi kesehatannya terus drop.
“Tidak benar itu, Tera meninggal disebabkan mikir ijazah. Setahu kami, ia meninggal akibat penyakit kompleks. Salah satunya penurunan autoimun atau kekebalan tubuhnya turun drastis.” ucap Ida di ruang kerjanya didampingi Waka Kurikulum, Kayatun.
Ida membeberkan alasan sekolah menahan ijazah, karena orang tua murid tidak ada itikad membayar. Pihak sekolah pun mengaku sudah memberikan kelonggaran kepada para murid yang menunggak uang SPP untuk tetap bisa mengikuti ujian.
“Banyak sekali yang nunggak tidak bayar SPP, Bahkan ada yang mulai dari kelas sebelas juga punya tunggakan banyak, tidak hanya satu atau dua bulan. Namun saat kelas dua belas, mereka tetap kita berikan kelonggaran untuk bisa ikut ujian,” beber Ida.
Perempuan yang kini menjabat periode kedua kepala SMK PGRI 2 Sidoarjo ini memastikan sekolah swasta tidak bisa membebaskan biaya bagi murid dari keluarga miskin. Karena untuk bisa beroperasi, sekolah membutuhkan dana yang cukup besar.
“Kami tidak bisa membebaskan biaya bagi murid, sekalipun mereka menunjukan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) yang dikeluarkan Desa. Sebab sekolah swasta mengandalkan biaya operasional dari SPP. Kalaupun ada pembebasan biaya hanya bisa diberikan kepada murid yatim piatu,” tegasnya. (Aryo).

