SEMUA  

Pendidikan Yang Pragmatis Ketimbang Selebratis

Indonesia telah mengalami berbagai pergantian kurikulum. Bahkan ada sindiran bahwa setiap Menteri Pendidikan selalu hadir dengan ide kurikulum baru yang sering kali tidak substantif. Guru-guru kerap merasa apa yang dilakukan pemerintah hanyalah menambah beban administrasi sementara penghasilan masih begitu-begitu saja. Di sisi lain, pendidikan kita juga belum bisa menekan angka pengangguran yang selalu di kisaran 5-7 persen secara nasional.
Selama ini, banyak pengusaha yang mengeluhkan bahwa lulusan belum siap kerja. Sedangkan pemerintah selalu berdalih bahwa fungsi sekolah adalah untuk membentuk pola pikir. Dalih ini bisa saja dijustifikasi karena kita memiliki kelompok intelektual muda yang bisa menjadi motor perubahan. Namun,, kalau kita boleh bicara secara terbuka, kita lebih membutuhkan angkatan pekerja yang siap daripada intelektual yang kritis.
Pendidikan yang pragmatis mungkin terdengar tidak menarik. Tidak sedikit yang menuduh upaya ini sebagai bentuk komersialisasi pendidikan. Yang acap terlupakan, bagi masyarakat menengah ke bawah, pendidikan adalah tiket untuk keluar dari kemiskinan.
Inilah yang jarang dibahas, pendidikan sebagai upaya membangun pola pikir adalah milik kaum menengah ke atas atau elit. Mereka sudah tidak khawatir dengan kebutuhan pokok dan melihat kehidupan sebagai upaya aktualisasi diri. Sementara, di kalangan menengah ke bawah, mereka tidak sempat memikirkan aktualisasi diri karena untuk bertahan dari hari ke hari pun sudah cukup sulit.
Di Indonesia, realitas nyata menunjukkan bahwa masih banyak masyarakat kita yang berada pada kelas menengah ke bawah dan melihat pendidikan sebagai upaya untuk menjadi mandiri secara ekonomi. Berdasarkan kenyataan itu, pendidikan harus disusun secara pragmatis. Murid harus belajar apa yang dibutuhkan saja.
Sebagai contoh, pada masa penjajahan Hindia Belanda, sekolah masyarakat Tionghoa hanya memfokuskan sekolah pada tiga modul saja: baca, tulis, dan berhitung (dagang), yang sangat berbeda dengan pelajaran di sekolah Hindia Belanda. Sekilas kita akan merasa bahwa model sekolah ini menyempitkan pikiran murid. Padahal, ketika anak mahir baca, tulis dan berhitung (dagang), secara otomatis mereka bisa mandiri dan pelajaran serta pengetahuan umum lainnya akan bisa mengikuti.
Jika dilogika, seharusnya pendidikan Belanda yang lebih lengkap akan menghasilkan murid yang lebih baik. Ternyata tidak, sebab dalam model pembelajaran yang fokus, anak tidak hanya sampai tahap learn, tapi mereka menguasai skill tersebut. Berdasarkan teori dari Stephen Krashen yang ia gunakan dalam pembelajaran bahasa. Sekolah dengan banyak variasi subjek hanya menjadikan seseorang belajar. Padahal, supaya siap kerja, seseorang harus menguasai sebuah skill.
Senada dengan Stephen Krashen, Barbara Oakley menyebut bahwa pembelajaran yang terfokus sangat penting. Anak-anak akan belajar apa yang disebut focus mode dimana mereka belajar teori, prosedur dan sebagainya. Namun kemudian, mereka harus belajar dalam mode difusse, di mana mereka harus mengaplikasikan keahlian mereka dalam kehidupan nyata. Jika terlalu banyak subyek mata pelajaran, kapan seorang murid bisa menajamkan skill-nya?
Hari ini Indonesia butuh menjadi pragmatis. Pelajaran harus sesuai kebutuhan industri. Sementara itu, ilmu dan isu sosial dapat dipelajari melalui interaksi mereka dalam komunitas sosial. Kenyataannya, Indonesia sebagai negara demokratis, membuka jalan bagi dibahasnya berbagai isu. Artinya, pengetahuan umum, tidak akan kurang informasinya bagi murid-murid. Sebaliknya, sekolah yang terfokus akan sangat membantu masyarakat kelas menengah ke bawah. Bahkan, kita memotong tahun wajib belajar sehingga angkatan kerja kita bisa lebih muda dan lebih siap

” Ardiyanto Pramono , Founder dari Basagita, Institusi yang bergerak di bidang pendidikan bahasa dan human resources. Pemegang Master in International Relations dari Webster University dengan thesis berfokus pada pembangunan ekonomi masyarakat yang terpinggirkan”.