Jakarta, Nusantarapos — Tren diskusi publik hari ini di penuhi tema yang mengangkat tentang geopolitik global, politik nasional, serta kondisi perekonomian Indonesia. Andri Manik justru memilih untuk membicarakan hal-hal yang terasa dekat dengan keseharian di dunia kerja hari ini, cara menulis email, kondisi sepatu, dan mentalitas generasi muda pencari kerja.
Bagi Andri yang kini menjabat sebagai Direktur PT Bandar Anugerah Jaya, Bendahara Umum DPC HIPPI Jakarta Barat, Komite tetap bidang hubungan legislatif Kadin DKI Jakarta sekaligus juga Alumni IBS. Ini adalah inti dari banyak persoalan di dunia profesional hari ini.
Berkesempatan hadir sebagai salah satu narasumber alumni pada acara Youth Accounting Festival 2026 yang di gelar Himpunan Mahasiswa Akuntansi STIE Indonesia Banking School di Auditorium Indonesia Banking School, Jakarta Selatan pada Kamis (21/5/26), bertema “Accounting in a Borderless Economy: Innovation, Integrity and Global Financial Responsibility.” Andri Manik, sebagai alumni STIE IBS, berbicara dari pengalaman nyata dan memilih untuk mendarat lebih dekat ke bumi.
Penyelenggara merumuskan semangat acara dalam kalimat yang tegas bahwa di era global, dunia akuntansi bukan hanya tentang angka, tetapi juga inovasi dan integritas. Andri mengisi kalimat itu dengan tiga catatan. Dan yang ia sebut sebagai hal yang diam-diam menentukan nasib seorang profesional muda. Dan ini sangat jarang di bahas di ruang kuliah, tapi sangat di rasakan di dunia kerja.
Tantangan dan Peluang Itu Sama Besarnya — Cara Pandanglah yang Membedakan
Andri membuka sesi dengan mengajak para peserta untuk merenungkan, bagaimana kalian memandang diri kalian di dunia kerja hari ini?
Baginya, tantangan dan peluang karir bagi fresh graduate saat ini sama-sama nyata dan sama-sama besar. Dunia kerja tidak lebih mudah di banding generasi sebelumnya, tapi juga tidak ‘sekejam’ yang sering di ceritakan. Yang berubah, katanya, adalah bentuk dan variasinya.
“Tantangan dan peluang karir fresh graduate makin variatif hari ini. Tapi mana yang lebih dulu kalian temui, itu sangat bergantung pada bagaimana kalian memandang situasi yang ada,” ujarnya.
Andri menolak dua titik ekstrem yang sama-sama berbahaya. Di satu sisi, generasi muda yang terlalu pesimis karena terpapar narasi tanpa henti tentang sulitnya lapangan kerja hari ini, dan mereka yang terlalu santai karena merasa peluang akan datang sendiri. Perspektif, kata Andri, adalah keputusan pertama yang harus di ambil, bahkan sebelum CV dan lamaran di susun dan di kirimkan.
“Sebelum bertanya apa yang tersedia di luar sana, tanyakan dulu kepada diri sendiri: sudah siapkah saya untuk menyambut dan mengambil peluang itu ketika ia datang?”
Proaktif: Apa yang Bisa Kamu Tawarkan?
Poin kedua yang di sampaikan Andri adalah yang paling relevan dengan tren yang tengah berkembang di kalangan generasi muda saat ini. Dengan nada yang tegas, ia menyentuh fenomena yang banyak di bicarakan di kalangan muda belakangan ini. Yaitu kecenderungan memprioritaskan self-happiness dan mental healing sebagai sebagai hal yang di prioritaskan dalam dunia kerja kekinian.
Andri tidak menolak pentingnya kesehatan mental. Tapi ia menantang cara pikir yang menjadikan hal tersebut sebagai justifikasi untuk bersikap pasif terhadap berbagai peluang dan tantangan yang ada.
“Yang harus kalian tanyakan pertama bukan apa yang bisa dunia kerja berikan kepada saya. Tapi apa yang bisa saya tawarkan dan ciptakan kepada dunia kerja. Itu perbedaan mendasar yang akan menentukan bagaimana karir kalian dimulai,” tegasnya.
Bagi Andri, sikap proaktif dengan senantiasa membangun kompetensi, berani menawarkan nilai, dan tidak menunggu untuk di akui dan di validasi lebih dulu. Ini adalah mentalitas yang justru banyak hilang di kalangan pencari kerja maupun mereka yang tengah menjajaki peluang kolaborasi bisnis saat ini.
Tren fokus pada kebahagiaan diri sebagai prioritas utama, kata Andri, pada batas tertentu menjadi sikap mental yang perlu di evaluasi. Dunia profesional, katanya, tidak bergerak dengan logika menunggu seseorang siap, ia bergerak dan mencari mereka yang datang dengan sesuatu untuk ditawarkan.
“Industri tidak akan menunggu kalian selesai menyembuhkan diri. Tapi industri akan membuka pintunya lebar-lebar bagi siapa pun yang datang dengan nilai yang jelas untuk ditawarkan.” kata Andri.
Detail Matters: Hal-hal Kecil yang tidak terlihat di CV
Poin ketiga, Andri berbicara tentang detail-detail profesionalisme yang sering di anggap sepela. Padahal justru menjadi penentu kesan pertama dan kredibilitas jangka panjang di dunia kerja.
Hal pertama yang ia sorot adalah bahasa komunikasi formal. Andri menyebut kebiasaan yang makin sering terlihat hari-hari ini, yaitu membawa gaya bahasa percakapan ala WhatsApp ke dalam korespondensi resmi dan email profesional. Singkatan tanpa konteks, huruf kecil semua, tidak ada salam pembuka dan penutup, atau pilihan frasa yang terlalu kasual, semuanya adalah sinyal yang langsung terbaca oleh atasan dan mitra profesional sebagai kurangnya kesiapan.
“Cara kamu menulis email kepada klien atau atasan mencerminkan bagaimana kamu memandang mereka. Dan bagaimana kamu memandang diri sendiri di ruang profesional itu,” ujarnya.
Lebih lanjut, Andri Manik yang berinteraksi dengan komunitas pengusaha muda Jakarta Selatan, tidak menampik perkembangan gaya bahasa ‘jaksel’ yang kian marak di kalangan muda khususnya Jakarta. Namun menurutnya, tidak semua semua itu cook jika di terapkan dalam suasana formal-profesional.
Yang kedua adalah orientasi dalam kerja tim. Andri mengingatkan para mahasiswa STIE IBS, bahwa dunia kerja menghargai mereka yang mengutamakan keberhasilan tim, bukan mereka yang sibuk mencari perhatian atasan atau bermain office politics untuk menarik sorotan. Loyalitas kepada tim dan kontribusi yang tulus, katanya, selalu lebih tahan lama dan lebih di hormati di banding sekadar pencitraan di permukaan.
“Jangan lomba cari perhatian. Jangan asal ‘menjilat’. Fokuslah pada bagaimana tim kalian berhasil, karena di situlah nama kalian sesungguhnya akan di ingat,” ujar alumni STIE IBS.
Yang ketiga adalah soal penampilan. Andri memilih satu contoh sederhana namun tepat sasaran: sepatu.
“Saya tidak meminta kalian memakai sepatu mahal. Saya minta kalian memakai sepatu yang layak dan bersih. Ada perbedaan besar antara keduanya, dan orang yang mewawancarai kalian tahu mana yang lebih penting,” katanya.
Ia melengkapi poin ini dengan pesan tentang cara berpakaian secara keseluruhan: rapi, tidak mencolok, dan patut sesuai konteks. Bukan soal mengikuti tren atau menampilkan status sosial. Melainkan soal menunjukkan rasa hormat yang tulus terhadap situasi profesional yang sedang di hadapi.
“Detail matters. Bukan karena dunia kerja itu dangkal, tapi karena detail adalah bahasa dan sinyal yang di tangkap orang profesional. Yang untuk menilai seberapa serius kamu memandang kesempatan yang ada di depanmu.” tegas Andri di depan mahasiswa STIE IBS.
Pentingnya Menjadi Profesional yang Bermanfaat dan Bermartabat
Andri mengakhiri sesinya dengan kalimat yang sederhana. “Sebaik-baiknya kita adalah pekerja dan pebisnis yang bermanfaat dan bermartabat.”
Andri Manik merangkum dalam satu kalimat apa yang sesungguhnya di tuntut dari seorang profesional muda. Bukan sekadar sukses, bukan sekadar kaya, melainkan berguna bagi sekitarnya dan tidak mengorbankan harga diri di perjalanannya meraih tujuan.
Youth Accounting Festival 2026 yang di gelar Himpunan Mahasiswa STIE IBS berlangsung penuh antusias. Kehadiran Andri, dengan rekam jejak luas yang membentang dari ruang direktur, asosiasi pengusaha pribumi, hingga KADIN. Memberikan kedalaman yang jarang di jumpai dalam forum kemahasiswaan, khususnya di Jakarta Selatan.
Apa yang Andri bawa bukan sekadar ceramah motivasi yang mengambang. Andri membawa pengalaman nyata yang di sampaikan dengan kejujuran dan kepedulian yang tulus terhadap generasi yang akan meneruskan tongkat estafet dunia bisnis dan profesi akuntansi Indonesia.

