Seknas Indonesia Maju Konsisten Dukung Pemerintahan Prabowo-Gibran

Foto bersama Seknas Indonesia Maju relawan Prabowo-Gibran.

Jakarta, NUSANTARAPOS – Seknas Indonesia Maju (SIM) mengadakan syukuran ulang tahun yang kedua bersamaan dengan ulang tahun ketua umum Monisyah di kawasan Kampung Melayu, Jakarta Timur, Sabtu (17/7/2026). Dalam syukuran tersebut dihadiri ratusan relawan yang berada di Jabodetabek.

“Kami Seknas Indonesia Maju mendukung penuh pemerintahan Bapak Prabowo-Gibran, semua program asta cita kita apreasiasi. Mulai dari MBG, Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), hilirisasi, ketahanan pangan, ketahanan nasional, sekolah rakyat semuanya kita menganggap itu adalah program-program baik yang menyentuh rakyat langsung,” demikian dikatakan Ketua Umum Seknas Indonesia Maju dalam sambungan teleponnya, Sabtu (17/7).

Monisyah menjelaskan meskipun di lapangan kita ketahui masih banyak penyimpangan dalam pelaksanaannya, seperti kasus BGN, adanya oknum-oknum yang menjadi backing di pertambangan, perkebunan kelapa sawit namun semua itu mulai dipressing oleh Prabowo. Dalam hal penegakan hukum terhadap korupsi juga kita apresiasi sekali, Pak Presiden memberantas itu karena menjadi akar dari segala keterpurukan dan ketertinggalan bangsa ini.

“Kalau tidak ada koruptor seperti yang dikatakan oleh Mahfud MD juga para ahli lainnya bahwa kalau tidak ada korupsi sesungguhnya pemerintah Indonesia bisa membekali setiap penduduknya sebesar Rp 20 juta. Sehingga harusnya kita sudah bisa menjadi negara makmur kalau penerimaan negara sejak dulu sangat terkendali,” ujarnya.

Monisyah mengatakan seperti KDM dia baru akan memberikan izin pertambangan kepada desa-desa yang ada tambangnya dijadikan pemegang saham. Konsep tersebut sangat dibutuhkan untuk Indonesia makmur, Indonesia sejahtera, Indonesia emas.

“Sejak berdiri dua tahun lalu, Seknas Indonesia Maju telah melakukan banyak kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat. Dimana sebagai relawan kita melibatkan diri dalam pengawasan MBG, pertanian, pangan dan pemberantasan korupsi dengan menyampaikan laporan meskipun tidak secara teknis terlibat tetapi dengan penyampaian pemikiran dan partisipasi dalam langkah yang diperlukan,” tuturnya.

Sementara itu Sekjen Indonesia Maju Mulyadi menyatakan kami juga melakukan kegiatan-kegiatan seremonial seperti tujuh belas Agustus, hari-hari keagamaan kita peringati untuk terus menjalin komunikasi dan soliditas dari kawan-kawan kita untuk terus mendukung pemerintahan Bapak Prabowo-Gibran.

“Sejauh ini kami juga melihat program yang dijalankan oleh pemerintah sudah on the track, meskipun di sana sini masih ada kekurangan tapi itu hal yang wajar karena baru 1,5 tahun jadi masih tahap otw (on the way). Tapi kami menekankan betul terkait pemberantasan korupsi dan mafia karena itu sangat relevan,” ucapnya.

Mulyadi menyatakan kalau kita melihat program hilirisasi itu sukses, sekarang ada B50, kemarin saat negara lain minyaknya naik tapi di kita gak, MBG perlu dibenahi tetapi bukan karena ada masalah Prabowo harus turun dan bertanggungjawab itu pemikiran yang sangat picik dan licik. Permasalahan bangsa ini sangat besar, kenapa hanya yang begitu-begitu yang dipersoalkan?

“Coba kita lihat hilirisasi, ketahanan pangan kita saat ini sudah surplus sehingga melakukan ekspor karena telah swasembada kenapa itu tidak dilihat. Jadi jangan melihat hanya dari satu persoalan saja, mereka yang hanya melihat satu persoalan dan dibesarkan terindikasi ada motif politik,” katanya.

Mulyadi menjelaskan dengan keberhasilan yang sudah mulai terlihat tentunya kita akan mendukung tetap mendukung Prabowo-Gibran kalau memang mau mencalonkan lagi kita dukung 2 periode. Kami melihat lawan-lawan politik Prabowo-Gibran saat ini adalah barisan sakit hati, seperti organisasi yang dibubarkan oleh Jokowi.

“Apalagi Prabowo menyuarakan program keberlanjutan, dimana kita lihat mereka yang dibubarkan oleh Jokowi terus dilanjutkan Prabowo sehingga jadi musuh utama. Kemudian ada lagi gagal move on yang kalah pilpres, atau yang syahwat kekuasaannya tidak terkendali sehingga membangun narasi dan opini yang mendiskreditkan pemerintah,” ujarnya.

Jadi, tambah Mulyadi, para pembenci terdiri dari pecatan atau petinggi yang tidak lagi dapat jabatan, barisan sakit hati ataupun yang kalah pilpres. Kita sudah tahu, kalau disederhanakan itu dari RT 16 RW 24 merupakan kelompok yang tidak Prabowo sukses.

“Kami berharap kepada kelompok yang menebarkan kebencian bisa tereliminasi sehingga program-program yang dilaksanakan Prabowo-Gibran terus melaju tanpa hambatan yang sangat berarti. Segala perbedaan kita kesampingkan, yang terpenting tujuan kita adalah Indonesia maju, Indonesia Sejahtera dan Indonesia Makmur,” tegasnya.